Selasa, 06 AGUSTUS 2024 • 23:02 WIB

Ikrar 'Haram' Pangeran Antasari, Pahlawan Nasional dari Kalimantan dalam Perang Banjar Melawan Belanda

Author

Ilustrasi Pangeran Antasari. (Youtube, Facebook)

INDOZONE.ID - Pangeran Antarasari adalah sosok pemimpin daerah yang berjuang memimpin perjuangan rakyat Banjar melawan Belanda tahun 1859-1905. Pangeran Antasari tidak hanya dikenal sebagai pemimpin pergerakan, namun juga sebagai pemimpin agama.

Dalam jurnal "Nilai-nilai kepemimpinan dan kepahlawanan Pangeran Antasari dalam Perang Banjar" dari Hendraswati (Balai Pelestarian Nilai Budaya D I Yokyakarta , 2015), nilai-nilai kepemimpinan dan kepahlawanan Pangeran Antasari dalam Perang BanjarKepemimpinan, perjuangan, dan kepahlawanan Pangeran Antasari diakui secara luas oleh banyak kalangan, karena

Pangeran Antasari memiliki model kepribadian luhur yang bisa diteladani sebagai ujur, sederhana, hemat dan bersahaja, teguh memegang dasar-dasar ajaran agama dan keyakinannya, dan berjuang untuk kepentingan masyarakatnya.

Pengabadian nama Pangeran Antasari pada beberapa sarana dan prasarana, instansi atau lembaga menunjukkan suatu bentuk peringatan dan penghargaan terhadap Pangeran Antasari sebagai seorang pejuang yang gagah berani dalam Perang Banjar.

Baca Juga: Fakta 'Ibu Agung Fatmawati Soekarno': Pahlawan Nasional Ibu Negara Pertama Penjahit Bendera Merah Putih

Apa itu Perang Banjar?

Ilustrasi perang Banjar. (Istimewa)

Perang Banjar merupakan wujud perlawanan umat Muslim Banjar terhadap Belanda. Perang ini merupakan satu cetusan di dalam rangkaian perjuangan bangsa Indonesia menolak penjajahan dari bumi Nusantara.

Perang Banjar ini merupakan salah satu mata rantai sejarah perang kemerdekaan, utamanya pada abad ke-19, seperti peristiwa-peristiwa yang bersamaan khususnya di daerah-daerah lain di Indonesia, misalnya di Minangkabau dengan Perang Paderinya, di Jawa dengan Perang Diponegoro, Perang Bali, Perang Aceh, Perang Palembang dan lain-lain.

Latar belakang perang

Pada awal abad ke-17 bangsa Belanda datang ke Banjarmasin, hal ini dikarenakan melimpah ruahnya penghasilan lada dan batu bara di Banjarmasin. Sejak itulah terjadi hubungan dagang antara orang Banjar dengan Belanda.

Pada perkembangan selanjutnya Belanda memonopoli perdagangan lada bahkan ingin menguasai wilayah kerajaan Banjar dengan politik devide et impera.

Baca Juga: Dicoretnya Nama Tan Malaka dari Daftar Pahlawan Nasional, Terjadi Sejak Orde Baru

Perang Banjar juga dilatarbelakangi oleh intervensi Belanda, hal ini tampak dalam pengangkatan Belanda terhadap Tamjidillah sebagai Sultan Banjar pada tahun 1857. Pengangkatan Tamjidillah menjadi Sultan Banjar ini telah melanggar surat wasiat yang dibuat oleh Sultan Adam yang menghendaki Pangeran Hidayatullah untuk menjadi Sultan ketika ia nanti wafat.

Setelah Tamjidillah diangkat menjadi Sultan, maka timbul kericuhan di wilayah kerajaan Banjar. Kericuhan itu merupakan reaksi masyarakat Banjar yang tidak suka akan pengangkatan Tamjidillah menjadi Sultan.

Ikrar Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing dari Pangeran Antasari

Ilustrasi Pangeran Antasari. (Youtube, Facebook)

Pada tanggal 28 April 1859 Pangeran Antasari memimpin rakyat Banjar untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda di benteng Oranye Nassau, sejak saat itulah Perang Banjar meletus. Dalam Perang Banjar ini Pangeran Antasari tampil ke gelanggang perjuangan bahu membahu dengan pejuang Banjar lainnya untuk menyelamatkan kerajaan Banjar dari tangan Belanda.

Yang menarik, Pangeran Antasari mengucapkan sumpah Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing yang berarti bahwa perjuangan dipandang haram kalau menyerah kepada Belanda, oleh karena itu perjuangan harus diteruskan sampai tercapai apa yang dicita-citakan yaitu tanah Banjar bebas dari penjajahan.

Sumpah tersebut, bagi Pangeran Antasari dan pengikutnya merupakan suatu ikrar yang harus ditaati. Pangeran Antasari juga sempat diangkat menjadi Sultan Banjar pada tanggal 14 Maret 1862 dengan gelar Panembahan Kahlifatul Mu'minin.

Baca Juga: Viral Pengantin Banjar Kesurupan Roh Leluhur saat Resepsi Pernikahan

Pangeran Antasari wafat 11 Oktober 1862 di Puruk Cahu (Muara Teweh Kalimantan Tengah). Tahun 1958 tulang belulang Pangeran Antasari diangkat dan makamnya dipindahkan ke Komplek Pemakaman Pahlawan Perang Banjar di Kelurahan Surgi Mufti Banjarmasin.

Meskipun pada tahun tersebut Pangeran Antasari meninggal dunia, tapi perjuangannya tetap dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Pangeran Seman sampai perang ini berakhir.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Lib.ui.ac.id, Digilib.uin-suka.ac.id/

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU