Museum Fatahillah di Kota Tua, Jakarta Barat.
INDOZONE.ID - Bila berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta atau bernama lain Museum Fatahillah, yang berada di daerah Kota Tua Jakarta Barat, kamu akan menemukan kamar yang cukup luas berada di lantai dua museum. Kamar itu persis di atas penjara wanita di mana Cut Nyak Dien, pahlawan dari Aceh, pernah ditahan di sana.
Kamar berukuran sekitar 4x5 meter tersebut merupakan kamar tahanan Pangeran Diponegoro, seorang pahlawan nasional yang memimpin perang melawan kolonial Belanda dari tahun 1825-1830.
Pangeran Diponegoro ditangkap tahun 1830 di Magelang, Jawa Tengah, dan ditahan selama 26 hari di tempat ini sebelum diasingkan ke Mnado dan akhirnya meninggal di Makassar. Selain Pangeran Diponegoro, penasehat agamanya, Kyai Mojo, beserta 62 orang pengikutnya juga ikut ditahan di penjara pria, yang berada di area paling bawah museum ini.
Kamar Pangeran Diponegoro menghadap ke arah lapangan museum Kota Tua, yang berisikan tempat tidur beralaskan daun pandan dengan kelambu berada di sudut ruangan. Di sampingnya terdapat kursi dan meja dengan dubang atau tempat meludah sirih pinang di atasnya, payung berwarna keemasan khas kerajaan, dan sangkar burung.
Terdapat juga replika dari barang-barang pribadi Pangeran Diponegoro, serta salinan koleksi tulisan tangan yang ditujukan untuk ibu dan anaknya yang ia tulis di Jakarta.
Kamar Pangeran Diponegoro yang diresmikan tahun 2019 ini tampak sedikit temaram. Konon kamar tahanan ini dahulunya merupakan kamar kepala bui Kota Batavia, yang digunakan untuk tahanan yang berstatus tinggi seperti Pangeran Diponegoro.
Dalam sejarahnya, bangunan museum bergaya neo klasik ini dahulunya merupakan bekas Kantor Balaikota Batavia atau Stadhuis.
Di kamar ini pengunjung bisa melihat lini masa perjuangan Pangeran Diponegoro dan lukisan ketika ia ditangkap.
Konon beredar cerita mistis yang dipercaya terjadi ketika Pangeran Diponegoro ditahan di sini. Disebutkan, tubuhnya masih ada di dalam kamar tahanan namun ada yang melihatnya berjalan-jalan di suatu daerah untuk mengabarkan peperangan.
Tak dipungkiri, Pangeran Diponegoro sering melakukan pengembaraan dan bertapa di Pantai Selatan Jawa, serta berziarah ke beberapa tempat suci yang dianggap keramat berkaitan dengan Dinasti Mataram.
Terdapat pula kisah perjumpaan Pangeran Diponegoro dengan Nyi Roro Kidul, yang membuatnya terkesima akan pesona Sang Ratu Pantai Selatan tersebut.
Perang Jawa yang biasa disebut Perang Diponegoro, yang berlangsung sengit pun, tak lepas dari kedekatan Sang Pangeran dengan Nyi Roro Kidul yang berniat membantunya melawan Belanda.
Writer: Victor Median