Selasa, 19 MEI 2026 • 11:59 WIB

Fakta Menarik di Balik Hari Kebangkitan Nasional: Sejarah, Faktor Pendorong dan Tokoh Pentingnya

Author

Ilustrasi Fakta Menarik Hari Kebangkitan Nasional. (Dok. Istimewa)

INDOZONE.ID - Hari Kebangkitan Nasional Indonesia yang diperingati setiap tanggal 20 Mei merupakan masa pada awal abad ke-20 ketika masyarakat di Nusantara mulai memiliki kesadaran bersama sebagai satu bangsa, yakni bangsa Indonesia. 

Periode ini sering dikaitkan dengan dua momen bersejarah, yaitu lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 serta lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. 

Demi kepentingan ekonomi dan pengelolaan kekuasaan, pemerintah kolonial Belanda membangun sistem administrasi yang menyatukan berbagai wilayah di Hindia Belanda yang sebelumnya belum memiliki identitas politik bersama. 

Pada awal abad ke-20, penetapan wilayah administratif Hindia Belanda kemudian menjadi dasar terbentuknya wilayah Indonesia modern.

Baca juga: Kenapa Hari Buku Nasional Diperingati Tiap 17 Mei? Ini Sejarah dan Maknanya

Pada paruh pertama abad ke-20, muncul berbagai organisasi baru yang dipimpin kaum terpelajar hasil kebijakan Politik Etis Belanda. 

Kondisi ini memicu tumbuhnya kesadaran nasional di kalangan masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai Kebangkitan Nasional Indonesia. 

Perkembangan tersebut turut meningkatkan aktivitas politik hingga akhirnya mencapai puncak pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei berasal dari tanggal berdirinya Budi Utomo pada 1908, yang bersama Sumpah Pemuda tahun 1928 menjadi penanda lahirnya kesadaran persatuan dan nasionalisme bangsa Indonesia.

Faktor Pendorong

Kebangkitan nasional didorong oleh faktor internal dan eksternal. Dari dalam negeri, penyebab utamanya meliputi penderitaan akibat penjajahan, semangat mengingat kejayaan kerajaan besar seperti Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit, serta munculnya kaum terpelajar yang memimpin pergerakan.

Sementara itu, faktor eksternal berasal dari pengaruh paham modern seperti nasionalisme dan sosialisme, munculnya gerakan kebangkitan di berbagai negara Asia, serta kemenangan Jepang atas Rusia dalam Perang Rusia-Jepang yang membangkitkan semangat perlawanan bangsa-bangsa Asia terhadap Barat.

Pendidikan

Pada awal abad ke-20, hanya sedikit masyarakat Indonesia yang bisa mengenyam pendidikan menengah. 

Namun, melalui kebijakan Politik Etis, akses pendidikan mulai diperluas sehingga jumlah pelajar dan tingkat melek huruf meningkat. 

Pendidikan Belanda juga membuka peluang baru dan melahirkan kaum elit terdidik Indonesia sejak 1920-an, yang kemudian berperan penting dalam perkembangan kesadaran nasional.

Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme Indonesia mulai berkembang pada awal abad ke-20 setelah penerapan Politik Etis oleh pemerintah kolonial Belanda. 

Meskipun pendidikan Barat saat itu hanya ditujukan untuk kalangan elit pribumi dan kebutuhan birokrasi kolonial, pendidikan tersebut turut membawa pengaruh pemikiran Barat tentang kebebasan, demokrasi, dan nasionalisme. 

Dari kelompok terpelajar inilah muncul kesadaran anti-kolonial dan semangat perjuangan kemerdekaan.

Pergerakan nasional ditandai dengan lahirnya berbagai organisasi dan partai politik. Budi Utomo yang didirikan Soetomo pada 20 Mei 1908 dianggap sebagai awal kebangkitan nasional, meskipun masih diperdebatkan karena anggotanya didominasi etnis Jawa. 

Selain itu, Sarekat Islam dinilai lebih mewakili nasionalisme karena memiliki anggota dari berbagai daerah di Hindia Belanda.

Pada 1912, Ernest Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat mendirikan Indische Partij.

Di tahun yang sama, Muhammadiyah didirikan oleh Ahmad Dahlan sebagai organisasi sosial dan pendidikan. 

Suwardi Suryaningrat juga dikenal karena kritiknya terhadap pemerintah Belanda melalui tulisan “Als ik eens Nederlander was”, yang membuatnya diasingkan oleh pemerintah kolonial.

Perjuangan kemerdekaan semakin berkembang dengan berdirinya Partai Komunis Indonesia pada 1920 yang terinspirasi ideologi Eropa. Namun, pemberontakan PKI tahun 1926 gagal dan menyebabkan banyak tokohnya ditangkap serta diasingkan. 

Setelah itu, Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia pada 1927 yang secara tegas memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Puncak semangat nasionalisme ditandai dengan peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang menegaskan cita-cita persatuan bangsa Indonesia dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia.

Penindasan terhadap Nasionalisme Indonesia

Kebebasan politik di bawah Belanda cukup dibatasi. Walaupun tujuan Belanda untuk "membudayakan" dan "memodernisasi" masyarakat Hindia Belanda terkadang memberi toleransi terhadap organisasi dan publikasi media dari orang Indonesia asli, Belanda juga sangat membatasi konten dari aktivitas-aktivitas ini.

Pemerintah kolonial Belanda kembali mengambil tindakan tegas terhadap tokoh pergerakan, termasuk menangkap Sukarno pada 1929 dan melarang Partai Nasional Indonesia.

Berbagai organisasi nasionalis dibatasi, sementara sejumlah pemimpin politik dipenjara guna meredam gerakan kemerdekaan. 

Meski semangat nasionalisme tetap berkembang sepanjang 1930-an, perjuangan menuju kemerdekaan belum dapat bergerak secara besar-besaran hingga akhirnya situasi berubah akibat Perang Dunia II yang turut memengaruhi kondisi Hindia Belanda.

Berakhirnya Pemerintahan Kolonial

Saat Perang Dunia II berlangsung, kondisi politik Hindia Belanda menjadi tidak menentu setelah Belanda diduduki Jerman Nazi pada 1940. 

Situasi ini melemahkan posisi Belanda dalam mempertahankan kekuasaannya di Nusantara.

Pada 1942, Kekaisaran Jepang menginvasi Hindia Belanda dan berhasil mengakhiri kekuasaan kolonial Belanda hanya dalam waktu singkat. 

Baca juga: Tragedi Perang Bubat: Acara Pernikahan Menjadi Perang Sunda-Majapahit yang Masih Diragukan Sejarahwan

Pendudukan Jepang selama tiga tahun membawa perubahan besar yang kemudian membuka jalan bagi lahirnya Revolusi Nasional Indonesia.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 1945, Belanda berupaya kembali menguasai Hindia Belanda dengan bantuan militer Inggris.

Namun, perlawanan kaum nasionalis Indonesia terus berkembang sehingga gagasan tentang Indonesia merdeka semakin kuat dan sulit dihentikan.

Sejak 1959, tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional atau yang disingkat Harkitnas, yaitu hari nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 untuk memperingati peristiwa Kebangkitan Nasional Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Disdik.grobogan.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU