Alasan Kenapa Gajah Mada Jarang Ditemukan sebagai Nama Jalan di Jawa Barat: Berkaitan Perang Bubat?
INDOZONE.ID - Di banyak kota besar Indonesia, nama Gajah Mada begitu mudah ditemukan. Mulai dari jalan utama, gedung, kampus, hingga pusat bisnis memakai nama sang Mahapatih Kerajaan Majapahit yang dikenal lewat Sumpah Palapa dan ambisinya menyatukan Nusantara.
Namun situasinya terasa berbeda ketika memasuki wilayah Jawa Barat. Dibanding daerah lain di Pulau Jawa, nama Jalan Gajah Mada memang jauh lebih jarang ditemukan. Hal ini sering memunculkan pertanyaan di masyarakat: mengapa sosok sebesar Gajah Mada tidak terlalu populer di tanah Sunda?
Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang hubungan antara Majapahit dan Kerajaan Sunda yang meninggalkan trauma budaya hingga ratusan tahun kemudian.
Sosok Gajah Mada dan Ambisi Menyatukan Nusantara
Dalam catatan sejarah, Gajah Mada dikenal sebagai tokoh besar Majapahit pada abad ke-14. Ia adalah Mahapatih yang terkenal dengan Sumpah Palapa, sebuah janji untuk tidak menikmati kenikmatan dunia sebelum berhasil menyatukan wilayah Nusantara di bawah pengaruh Majapahit.
Baca juga: Ajian Kabut Sakti Gajah Mada: Saat Kabut Jadi Senjata Rahasia Majapahit
Di banyak daerah Indonesia, Gajah Mada dipandang sebagai simbol persatuan, kekuatan politik, dan kejayaan Nusantara. Namanya diabadikan sebagai jalan protokol di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, hingga Surabaya.
Namun di tanah Sunda, sosok ini memiliki memori sejarah yang jauh lebih kompleks.
Perang Bubat dan Luka Sejarah Orang Sunda
Hubungan Sunda dan Majapahit berubah drastis setelah terjadinya Perang Bubat pada tahun 1357.
Peristiwa ini bermula ketika Raja Majapahit, Hayam Wuruk, berniat menikahi putri Sunda, Dyah Pitaloka. Rombongan kerajaan Sunda kemudian datang ke Majapahit untuk melaksanakan pernikahan tersebut.
Namun menurut kisah yang berkembang dalam naskah kuno dan tradisi lisan Sunda, Gajah Mada menganggap kedatangan rombongan Sunda bukan sebagai keluarga calon pengantin, melainkan simbol penyerahan diri Sunda kepada Majapahit.
Baca juga: Ajian Lembu Sekilan: Ilmu Sakti Warisan Patih Gajah Mada yang Bikin Kebal
Kesalahpahaman itulah yang kemudian berubah menjadi tragedi berdarah di Lapangan Bubat. Raja Sunda beserta pengawalnya gugur dalam pertempuran, sementara Dyah Pitaloka disebut memilih bunuh diri demi menjaga kehormatan kerajaan Sunda.
Dalam ingatan budaya masyarakat Sunda, tragedi Bubat bukan sekadar perang biasa. Peristiwa itu dipandang sebagai penghinaan terhadap martabat Sunda. Karena itulah, nama Gajah Mada sering diasosiasikan dengan luka sejarah yang masih hidup dalam memori kolektif masyarakat Sunda hingga sekarang.
Nama Jalan Bukan Sekadar Penanda Lokasi
Banyak orang mengira penamaan jalan hanya urusan administratif. Padahal dalam praktiknya, nama jalan sering kali menjadi simbol identitas budaya dan sejarah daerah.
Di Jawa Barat, pemerintah daerah lebih banyak menggunakan nama tokoh yang dianggap dekat dengan sejarah Sunda dan perjuangan lokal. Nama-nama seperti Prabu Siliwangi, Dewi Sartika, Otto Iskandardinata, hingga Mohammad Toha jauh lebih dominan ditemukan di berbagai kota Jawa Barat.
Karena itu, minimnya nama Jalan Gajah Mada bukan berarti ada larangan resmi. Situasi ini lebih merupakan bentuk sensitivitas sejarah dan penghormatan terhadap identitas budaya Sunda yang telah diwariskan turun-temurun.
Meski Jarang, Jalan Gajah Mada Tetap Ada di Jawa Barat
Menariknya, bukan berarti Jawa Barat sama sekali tidak memiliki Jalan Gajah Mada. Beberapa wilayah tetap menggunakan nama tersebut, meski jumlahnya sedikit dan tidak menjadi jalan utama. Salah satunya tercatat berada di kawasan Kota Bogor.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Sunda sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya menolak sosok Gajah Mada. Hanya saja, figur tersebut tidak memiliki kedekatan emosional seperti di wilayah bekas pengaruh Majapahit di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Baca juga: Alasan Mengapa Bunga Rafflesia Arnoldii Berbau Busuk Berdasarkan Fakta Ilmiah
Sejarah yang Tetap Hidup dalam Ingatan Budaya
Hingga hari ini, kisah Perang Bubat masih sering dibahas dalam buku sejarah, diskusi budaya, hingga media sosial. Bahkan bagi sebagian masyarakat Sunda, tragedi itu dianggap sebagai simbol penting tentang harga diri dan kehormatan.
Karena itulah, persoalan nama Jalan Gajah Mada di Jawa Barat sebenarnya bukan sekadar soal nama jalan. Di baliknya tersimpan cerita panjang tentang sejarah, identitas budaya, dan memori kolektif yang diwariskan lintas generasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube