Sabtu, 11 APRIL 2026 • 10:05 WIB

Jong Islamieten Bond, Pelopor Pergerakan Islam yang Berani Menggugat Inggris untuk Palestina

Author

Pengurus Jong Islamieten Bond Cabang Medan Tahun 1928. (Buku Jong Islamieten Bond Pergerakan Pemuda Islam 1925-1942) 

INDOZONE.ID - Pada awal abad ke-20, Indonesia berada dalam cengkeraman politik kolonial Hindia Belanda yang paradoks. 

Di satu sisi, pemerintah kolonial mentoleransi ritual ibadah, namun di sisi lain, mereka menekan habis-habisan keterlibatan politik umat Islam untuk mencegah munculnya kesadaran nasionalis. 

Kebijakan ini justru memicu lahirnya elit intelektual Muslim baru dari kalangan kelas menengah yang sadar akan pentingnya organisasi modern sebagai alat perjuangan bangsa.

Di tengah maraknya organisasi pemuda yang masih bersifat kedaerahan (primordialisme) seperti Jong Java atau Jong Sumatranen Bond, muncul sebuah fenomena baru bernama Jong Islamieten Bond (JIB) pada 1 Januari 1925. 

Baca juga: Asal Usul Danau Toba: Legenda Cinta, Janji, dan Bencana yang Abadi dalam Ingatan

JIB hadir bukan sekadar sebagai wadah kumpul-kumpul membahas agama, melainkan sebagai organisasi kader intelektual lintas suku yang berhasil menembus batas-batas kesukuan, kewilayahan maupun kedaerahan di Nusantara. 

Dengan semangat "nasionalisme berbasis Islam", para pemuda terpelajar ini mengusung nilai-nilai universal kemanusiaan, bahkan hingga ke level internasional.

Salah satu fakta sejarah yang luar biasa adalah keberanian JIB dalam menyikapi isu kemanusiaan global. 

Jauh sebelum Indonesia merdeka, para pemuda ini sudah berani melayangkan protes diplomatik kepada Inggris terkait mandatnya di Palestina. 

Melalui JIB, pemuda Indonesia membuktikan bahwa intelektualisme dan keyakinan adalah modal utama untuk melawan ketidakadilan di panggung dunia.

Baca juga: Kubah Ash-Shakhrah: Ikon Megah di Tengah Al-Aqsa yang Bukan Cuma Indah, Tapi Penuh Makna Sejarah

Dari Kegelisahan Intelektual Hingga Menjadi Wadah Nasionalis

Lahirnya JIB bermula dari kegelisahan Raden Syamsoeridjal (Raden Sam) saat memimpin Jong Java. 

Dalam kongres tahun 1924, usulannya untuk memfasilitasi aspirasi keagamaan dalam organisasi ditolak melalui pemungutan suara karena saat itu organisasi pemuda dianggap tidak seharusnya bersinggungan dengan agama. 

Kecewa dengan penolakan tersebut, ia bertemu dengan tokoh senior Haji Agus Salim untuk merancang wadah baru yang lebih akomodatif.

Dari diskusi malam tahun baru 1925 di Yogyakarta, disepakatilah berdirinya JIB sebagai wadah bagi pemuda Muslim berpendidikan Barat yang ingin mengintegrasikan nilai Islam dalam perjuangan nasional. 

Baca juga: Tragedi Berdarah di Lengkong: Misi Pelucutan Senjata yang Berujung Gugurnya Puluhan Taruna Indonesia

Organisasi ini tumbuh pesat dan menarik minat ratusan pelajar dari sekolah menengah umum seperti MULO dan AMS. 

JIB   kemudian   tumbuh   menjadi organisasi  intelektual  muda  yang percaya diri dan menjadi pusat latihan bagi   kepemimpinan   Islam   yang berbeda  dari  intelektual  Indonesia "sekuler" yang berorientasi ke Barat. 

Meskipun JIB tidak terlibat dalam politik praktis, organisasi ini menjadi pusat latihan kepemimpinan yang sangat progresif pada zamannya dan merupakan latar belakang penting bagi lahirnya para tokoh Masyumi di masa depan. 

Selain itu, JIB menekankan pentingnya bagi calon pemimpin bangsa untuk mengenal basis rohani rakyatnya melalui kacamata Islam yang modern. 

Melalui pendidikan formal, kursus bahasa, hingga majalah Het Licht, JIB membangun kesadaran politik para kadernya agar menjadi intelektual yang memahami persoalan sosial dan global.

Baca juga: Jejak Brutal Perbudakan Modern di Balik Emas Hijau Tembakau Deli

Gaya Perjuangan dan Solidaritas Global JIB

Perjuangan JIB dilakukan melalui jalur pemikiran, literasi, dan aksi sosial yang terorganisir. 

Di tingkat nasional, JIB memberikan kontribusi besar dalam peristiwa Sumpah Pemuda 1928 melalui perwakilan panitia seperti Johan Muhammad Caij dan Kasman Singodimedjo. 

Meski menolak fusi total demi mempertahankan prinsip identitasnya, JIB tetap menjadi pendukung utama persatuan nasional sebagai organisasi lintas daerah pertama.

Namun, hal yang paling mencolok adalah keterlibatan JIB dalam isu Palestina. 

Sekitar tahun 1930, JIB mengadakan serangkaian aksi solidaritas untuk mendukung hak-hak rakyat Palestina dan menentang kebijakan otoritas Inggris di wilayah tersebut. 

Aksi ini menunjukkan bahwa pemuda JIB memiliki cakrawala berpikir yang melampaui urusan domestik dan mereka mampu melakukan langkah diplomatik terhadap salah satu negara adidaya saat itu meskipun Indonesia sendiri masih berupa negeri jajahan.

Baca juga: Mengenang Momen Bersejarah Saat Indonesia Resmi Dinyatakan Bebas Polio oleh WHO

Selain aksi luar negeri, JIB juga aktif memajukan hak-hak perempuan melalui JIBDA (JIB Dames Afdeling). 

JIBDA terlibat dalam Kongres Wanita Pertama dan vokal menyuarakan penentangan terhadap perkawinan anak serta memperjuangkan akses pendidikan bagi wanita. 

Di bidang pemuda, JIB mendirikan NATIPIJ, organisasi kepanduan pertama yang menggunakan identitas kebangsaan Indonesia dalam namanya.

Warisan Pemikiran dan Tokoh Bangsa

Eksistensi organisasi JIB secara fisik berakhir saat Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942. 

Walaupun organisasinya bubar, kaderisasi JIB telah berhasil melahirkan "Angkatan Emas" pemimpin Indonesia yang intelek dan berintegritas seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, hingga Kasman Singodimedjo.

Baca juga: Mengapa Arsip Vatikan Dijaga Ketat? Bukan Konspirasi, Ini Alasannya

Tokoh-tokoh ini kemudian menjadi pilar penting di masa awal kemerdekaan, membawa visi nasionalisme Islam yang dinamis dan moderat ke dalam pemerintahan. 

Sejarah JIB menjadi bukti nyata bahwa semangat pembelaan terhadap kemanusiaan, baik di tanah air maupun di Palestina, adalah karakter yang dibentuk melalui literasi dan pendidikan moral yang kuat.

Hingga kini, JIB mengajarkan kita bahwa pemuda tidak seharusnya bersikap apatis. Dengan keberanian intelektual dan kepedulian sosial, anak muda mampu menyuarakan perubahan yang melintasi batas geografis dan zaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU