Ilustrasi panen Tembakau di Deli Maatschappij. (KITLV Leiden)
INDOZONE.ID - Gelombang aksi anti-rasisme yang bermula dari Amerika Serikat ternyata ikut membuka kembali luka lama di berbagai belahan dunia — termasuk Indonesia.
Tak hanya soal diskriminasi, isu perbudakan di masa kolonial kembali jadi sorotan, bahkan memicu tuntutan pencopotan patung tokoh-tokoh kolonial seperti Jan Pieterszoon Coen di Belanda.
Namun, siapa sangka? Indonesia juga menyimpan sejarah kelam yang jarang dibahas, terutama soal praktik perbudakan di era kolonial Belanda — khususnya di Sumatra Utara.
Wilayah Deli di sekitar Medan pernah jadi primadona dunia berkat tembakau berkualitas tinggi.
Baca juga: Mengenang Momen Bersejarah Saat Indonesia Resmi Dinyatakan Bebas Polio oleh WHO
Produk ini laris manis di pasar Eropa dan Amerika, bahkan menghasilkan keuntungan fantastis hingga miliaran gulden.
Di balik kesuksesan itu, ada cerita pahit yang sering diabaikan: ribuan pekerja paksa atau “kuli kontrak” yang diperlakukan tidak manusiawi.
Perkebunan besar ini bermula dari sosok Jacob Nienhuys yang datang ke Deli pada 1863.
Ia bekerja sama dengan Sultan Ma’mun Al Rashid Perkasa Alam untuk membuka lahan tembakau.
Masalahnya, tidak ada tenaga kerja lokal yang mau bekerja di perkebunan tersebut.
Baca juga: Mengapa Arsip Vatikan Dijaga Ketat? Bukan Konspirasi, Ini Alasannya
Untuk mengatasi krisis tenaga kerja, Nienhuys mendatangkan ratusan pekerja dari Tiongkok, disusul ribuan lainnya dari Jawa, India, hingga wilayah Asia lainnya.
Sistem ini kemudian berkembang menjadi praktik “perbudakan terselubung”.
Para pekerja diikat kontrak kerja selama bertahun-tahun, dengan alasan harus membayar biaya transportasi mereka sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Converation @Budiman Minasny