INDOZONE.ID - Bayangin kamu lagi scroll medsos, terus nemu cerita tentang perusahaan yang udah eksis dari tahun 1869 dan punya peran gede dalam ngubah wajah Sumatera Timur. Yup, namanya Deli Maatschappij. Perusahaan ini dibentuk sama tiga tokoh penting: Jacobus Nienhuys, P.W. Janssen, dan C.G. Clemen. Awalnya sih gara-gara Nienhuys nemu potensi gila di tanah Deli yang subur banget, cocok buat tanam tembakau, dan dapet dukungan dari Sultan Deli juga. Boom! Lahir deh industri tembakau kelas dunia yang dikenal sebagai Tembakau Deli.
Ilustrasi pekerja di Deli Maatschappij (sumber: steemit)
Sejak resmi berdiri 28 Oktober 1869, perusahaan ini langsung ngacir kenceng. Cuma modal awal 300 ribu gulden, tapi cuannya makin lama makin ngeri karena ekspor tembakaunya laris manis di Eropa. Deli Maatschappij juga pelopor banget dalam dunia perkebunan modern. Bayangin aja, mereka udah pake traktor, bangun jalur kereta api, sampe punya pelabuhan sendiri buat ngangkut hasil panen. Gak main-main!
Baca Juga: Kisah Pekerja Perempuan yang Dieksploitasi di Balik Kemegahan Deli Maatschappij di Sumatera Timur
Tapi perjalanan mereka gak cuma soal bisnis. Karena makin luasnya lahan, mereka butuh banyak banget tenaga kerja. Nah di sinilah sistem kuli kontrak mulai jalan. Ribuan buruh dari Jawa, Cina, dan India didatengin buat kerja. Tapi sistem kerjanya ketat banget, bahkan bisa dibilang keras dan eksploitatif. Ada aturan Koelie Ordonantie yang bikin buruh gak bisa kabur dari kontrak, dan Poenale Sanctie yang isinya sanksi pidana kalau ada yang melanggar. Sedihnya, ini semua dianggap legal sama pemerintah kolonial waktu itu.
Kerennya, Deli Maatschappij punya sistem kerja yang rapi banget. Dari mulai buka hutan bareng tokoh adat, nanem tanaman pakai teknik spesial biar kualitas tetap premium, nyortir tembakau pake skill tingkat dewa (terutama buruh cewek yang bisa bedain sampai 21 kelas mutu!), sampai pengeringan di gudang suhu tinggi dan distribusi lewat jalur sungai dan kereta. Efisien abis!
Ilustrasi panen Tembakau di Deli Maatschappij.
Setelah harga tembakau jeblok gara-gara overproduksi tahun 1901, perusahaan ini gak langsung tumbang. Mereka pivot ke karet dan lagi-lagi! Produksinya naik drastis, dari 6 juta kilo jadi 77 juta kilo dalam 20 tahun. Teh dan kopi juga ikut dikembangin meski gak se-hits karet atau tembakau.
Keuntungan gede-gedean gak cuma dinikmatin sama perusahaan, tapi juga Kesultanan Deli dan pemerintah kolonial. Mereka dapet royalti, pajak, dan kontrol wilayah. Tapi di sisi lain, masyarakat lokal jadi minoritas di tanah sendiri karena banyaknya pendatang. Budaya Melayu dan Batak pun harus berbagi ruang sama budaya dari luar. Kota Medan yang dulunya kecil berubah jadi pusat kota modern karena perkembangan industri dan perdagangan yang dipicu Deli Maatschappij.
Baca Juga: Kisah Kelam di Tanah Deli, Menguak Kehidupan Para Kuli Tembakau
Cerita Deli Maatschappij ini bukan cuma tentang bisnis gede, tapi juga tentang dampak sosial, budaya, dan sejarah panjang yang ngubah wajah satu wilayah secara total. Sebuah kisah yang kompleks, penuh konflik, tapi juga bikin kita ngerti gimana sejarah bisa bentuk dunia yang kita kenal sekarang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ejournal Unesa