Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 06 APRIL 2025 • 15:15 WIB

Kisah Pekerja Perempuan yang Dieksploitasi di Balik Kemegahan Deli Maatschappij di Sumatera Timur

Kisah Pekerja Perempuan yang Dieksploitasi di Balik Kemegahan Deli Maatschappij di Sumatera TimurPerempuan menyiangi persemaian di perkebunan tembakau di Deli, Pantai Timur Sumatera. (leidenuniversity)

INDOZONE.ID - Di balik kejayaan Deli Maatschappij sebagai raksasa perkebunan tembakau di Sumatera Timur, tersimpan kisah pilu yang jarang terdengar kisah perempuan-perempuan pekerja yang hidup dalam bayang-bayang eksploitasi.

Mereka datang dari berbagai penjuru, terutama dari Jawa dan Tiongkok, dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik, namun yang menanti mereka justru kenyataan yang jauh lebih keras.

Pada tahun 1885, Deli Maatschappij mulai mendatangkan tenaga kerja perempuan untuk bekerja di perkebunan tembakau. Awalnya, alasan perekrutan mereka adalah karena pekerjaan menggulung dan memilah daun tembakau membutuhkan ketelitian yang lebih tinggi suatu keterampilan yang dianggap lebih cocok untuk perempuan.

Namun, di balik itu, ada motif lain yang lebih gelap. Seiring waktu, perempuan-perempuan yang direkrut dari Tiongkok juga "dilibatkan" dalam dunia hiburan bagi para pekerja laki-laki yang jumlahnya jauh lebih besar.

Baca Juga: Kisah Mistis Losmen Angker di Jalur Lintas Sumatera, Bertemu Resepsionis tanpa Kepala

Di lingkungan kerja yang didominasi oleh laki-laki, jumlah perempuan sangat terbatas. Pada awal abad ke-20, dari sekitar 62.000 pekerja di Deli Maatschappij, hanya sekitar 5.000 yang merupakan perempuan. Kesenjangan ini menciptakan kondisi kerja yang penuh risiko, di mana banyak dari mereka mengalami pelecehan dan eksploitasi seksual.

Gaji yang jauh lebih rendah dibandingkan pekerja laki-laki juga membuat sebagian dari mereka terpaksa mencari cara lain untuk bertahan hidup. Banyak yang akhirnya terjebak dalam dunia prostitusi, baik karena tekanan ekonomi maupun karena dibiarkan begitu saja oleh pihak manajemen perkebunan.

Eksploitasi ini tidak hanya terbatas pada tenaga kerja dan tubuh mereka, tetapi juga kesehatan mereka. Hidup dalam kondisi yang penuh tekanan, dengan jam kerja panjang dan fasilitas kesehatan yang minim, membuat banyak pekerja perempuan rentan terhadap penyakit.

Meskipun rumah sakit pertama di Deli Maatschappij telah didirikan pada tahun 1873, fasilitas tersebut lebih mengutamakan pekerja Eropa. Para pekerja lokal, terutama perempuan, sering kali hanya bisa mengandalkan pengobatan seadanya atau justru dibiarkan berjuang sendiri menghadapi penyakit.

Baca Juga: Ketika Perempuan Jadi Panglima Perang di Aceh: Kisah Heroik Cut Nyak Dhien

Lebih dari sekadar buruh perkebunan, perempuan-perempuan ini adalah saksi bisu dari kerasnya eksploitasi kolonial. Mereka bekerja, berjuang, dan bertahan di tengah sistem yang tidak pernah berpihak pada mereka.

Namun, kisah mereka jarang dicatat dalam sejarah, seolah-olah keberadaan mereka hanya bagian kecil dari narasi besar industri tembakau Deli yang gemilang. Padahal, tanpa mereka, roda ekonomi perkebunan tidak akan berjalan seperti yang dicatat dalam sejarah.

Hari ini, melihat kembali sejarah perempuan-perempuan di Deli Maatschappij adalah upaya untuk mengingat bahwa di balik kemegahan dan kejayaan industri, ada manusia-manusia yang telah mengorbankan banyak hal, bahkan martabatnya.

Kisah mereka seharusnya tidak hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah kolonial, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia dalam setiap zaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Paramita: Historical Studies Journal.

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kisah Pekerja Perempuan yang Dieksploitasi di Balik Kemegahan Deli Maatschappij di Sumatera Timur

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!