Bagian dari Perpustakaan Apostolik Vatikan (Vatican News)
INDOZONE.ID - Arsip Vatikan sering kali dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi. Padahal, alasan utama di balik pembatasan akses bukan untuk menyembunyikan sejarah dunia, melainkan untuk menjaga dokumen penting yang sangat berharga dan rapuh.
Lembaga ini kini dikenal sebagai Vatican Apostolic Archive, setelah sebelumnya disebut “Arsip Rahasia Vatikan”.
Mengutip laman Crux, Selasa (07/04/2026) perubahan nama dilakukan oleh Pope Francis karena istilah “rahasia” sering disalahartikan dalam bahasa modern.
Dalam konteks aslinya, kata Latin secretum lebih dekat dengan arti “pribadi”, bukan tersembunyi. Arsip ini sejak awal memang merupakan koleksi dokumen kepausan yang bersifat administratif dan historis, bukan tempat menyimpan rahasia dunia.
Baca juga: Teori Seputar Asal-Usul Nama Vatikan: Benarkah Berasal Dari Nama Dewi Penguasa Dunia Bawah?
Arsip Vatikan menyimpan jutaan dokumen penting yang mencakup lebih dari 1.000 tahun sejarah Gereja. Berdasarkan Vatican News, koleksinya mencakup sekitar 85 kilometer rak yang berisi surat, dokumen resmi, hingga naskah kuno dari berbagai periode.
Beberapa dokumen bahkan berkaitan dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah dunia, seperti surat dari ratu hingga catatan peristiwa besar Gereja.
Karena nilai historisnya yang tinggi, dokumen-dokumen ini harus dijaga dengan sangat hati-hati.
Salah satu alasan utama pembatasan akses adalah faktor konservasi. Banyak dokumen di arsip ini sangat sensitif terhadap cahaya, suhu, dan kelembapan.
Paparan yang tidak terkontrol bisa merusak kertas atau tinta yang sudah berusia ratusan tahun. Oleh karena itu, hanya peneliti tertentu yang diizinkan mengakses arsip dengan prosedur ketat.
Baca juga: Mengenal Swiss Guards Vatikan: Tentara Terkecil di Dunia yang Siap Mengorbankan Nyawa untuk Paus
Selain itu, arsip ini juga berkaitan dengan dokumen resmi Takhta Suci, sehingga ada aspek diplomatik yang perlu dijaga.
Meski aksesnya terbatas, Arsip Vatikan bukan sepenuhnya tertutup. Sejak tahun 1881, arsip ini telah dibuka untuk para peneliti oleh Paus Leo XIII.
Namun, akses diberikan secara selektif. Peneliti harus mengajukan permohonan dan hanya dapat mempelajari dokumen tertentu sesuai kebutuhan riset.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Crux, Vatican News