Jejak 3 Abad di Jantung Manado: Kisah Gereja Sentrum yang Pernah Dibombardir di Perang Dunia II
INDOZONE.ID - Di pusat Kota Manado, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan panjang sejarah Sulawesi Utara.
Dialah Gereja Sentrum Manado, gereja tua yang sudah melewati berbagai era—dari kolonial, perang, hingga Indonesia merdeka.
Awal Mula di Era VOC
Sejarah Gereja Sentrum bermula pada Abad ke-17, tepatnya sekitar tahun 1677. Pada masa itu, wilayah Manado berada di bawah kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang tidak hanya berfokus pada perdagangan, tetapi juga membawa pengaruh agama Kristen Protestan ke wilayah jajahannya.
Baca juga: 5 Fakta Menarik Masjid Menara Kudus, Simbol Akulturasi Budaya dan Toleransi
Gereja ini awalnya dikenal dengan nama Oude Kerk atau “Gereja Tua / Besar”. Pendirian gereja diprakarsai oleh tokoh-tokoh gereja Belanda, termasuk Zacharias Coheng, yang bertugas melayani kebutuhan rohani para serdadu, pegawai VOC, dan masyarakat setempat yang mulai memeluk agama Kristen.
Saat itu, gereja berada di bawah naungan Indische Kerk, yaitu lembaga gereja resmi pemerintah kolonial Belanda. Fungsi gereja bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas sosial dan penyebaran ajaran agama di kawasan Minahasa.
Berkembang Bersama Masyarakat Minahasa
Seiring waktu, pengaruh gereja semakin kuat di tengah masyarakat Minahasa. Penyebaran agama Kristen berkembang pesat, dan gereja ini menjadi salah satu pusat utama kegiatan keagamaan di wilayah tersebut.
Baca juga: Sempat Terlupakan di Museum, Fosil Janin 55.000 Tahun Ini Bongkar Rahasia Punahnya Neanderthal!
Memasuki Abad ke-19 hingga awal Abad ke-20, bangunan gereja mengalami beberapa kali renovasi dan penyesuaian, baik karena faktor usia maupun kebutuhan jemaat yang terus bertambah.
Meski mengalami perubahan fisik, nilai historis dan peran pentingnya tetap terjaga.
Setelah Indonesia merdeka, struktur gereja pun mengalami transformasi besar. Gereja yang sebelumnya berada di bawah sistem kolonial kemudian menjadi bagian dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).
Sejak saat itu, nama Gereja Sentrum Manado semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Saksi Bisu Perang Dunia II
Salah satu bab paling dramatis dalam sejarah Gereja Sentrum terjadi saat Perang Dunia II.
Baca juga: Apa Itu Limbah Nuklir? Ini Bahaya dan Dampaknya bagi Lingkungan
Pada awal tahun 1940-an, kawasan Manado menjadi wilayah strategis yang diperebutkan oleh kekuatan militer.
Pada tahun 1942, Jepang berhasil menduduki Manado setelah mengalahkan pasukan Sekutu.
Masa pendudukan ini membawa dampak besar bagi kota, termasuk bangunan-bangunan penting seperti Gereja Sentrum.
Dalam situasi perang yang penuh ketegangan, gereja ini sempat mengalami kerusakan akibat serangan bom.
Kerusakan tersebut menjadi bukti nyata bahwa konflik global juga meninggalkan jejak di daerah ini. Setelah perang berakhir dan kondisi mulai stabil, gereja kemudian diperbaiki agar bisa kembali digunakan oleh jemaat.
Baca juga: Kucing Dijadiin Mata-Mata Sama CIA Berujung Gagal, Begini Kisahnya
Monumen Perang di Samping Gereja
Sebagai pengingat peristiwa kelam tersebut, di area samping gereja dibangun sebuah monumen oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA), yang pada masa itu kembali mengambil alih pemerintahan setelah Jepang menyerah.
Monumen ini dirancang oleh arsitek Belanda, Ir. Van den Bosch. Hingga kini, monumen tersebut masih berdiri dan menjadi salah satu penanda sejarah penting di kawasan tersebut.
Banyak pengunjung yang datang bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk melihat langsung peninggalan sejarah ini.
Baca juga: Gangster Birmingham di Dunia Nyata yang Menjadi Inspirasi Peaky Blinders
Bertahan di Tengah Modernisasi
Meski telah berusia lebih dari tiga abad, Gereja Sentrum tetap berdiri kokoh di tengah perkembangan kota yang semakin modern.
Arsitekturnya yang klasik menjadi daya tarik tersendiri, menghadirkan nuansa sejarah yang kuat di tengah hiruk-pikuk kota.
Saat ini, gereja tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi dan sejarah.
Banyak wisatawan, peneliti, hingga generasi muda yang datang untuk mengenal lebih dekat sejarah panjang yang tersimpan di balik bangunan ini.
Baca juga: Kisah Penumpang Kapal Medusa di 1816: 13 Hari Kelaparan di Tengah Laut hingga Saling Jadi Kanibal
Lebih dari Sekadar Bangunan Tua
Gereja Sentrum Manado bukan sekadar bangunan tua peninggalan kolonial. Ia adalah simbol perjalanan panjang, ketahanan, dan perubahan zaman.
Dari masa kejayaan VOC, masa penjajahan, konflik perang dunia, hingga Indonesia merdeka — semuanya terekam dalam perjalanan gereja ini.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, Gereja Sentrum tetap menjadi pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hidup, berdiri, dan terus bercerita — bagi siapa saja yang mau berhenti sejenak untuk mendengarkannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wonderfull Manado