Rabu, 11 FEBRUARI 2026 • 14:56 WIB

Apakah Muslim Tionghoa Boleh Merayakan Imlek? Ini Penjelasan Sejarah dan Budayanya

Author

Ilustrasi perayaan Imlek oleh umat Muslim Tionghoa. (Facebook/Indonesia 2045)

INDOZONE.ID - Imlek atau yang sering disebut Tahun Baru China, adalah salah satu perayaan paling penting bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Hanya saja, banyak pertanyaan yang sering terdengar; 'seperti apakah Imlek merupakan perayaan agama?', atau 'apakah china muslim juga bisa merayakan imlek?'

Banyak orang yang bertanya, khususnya mereka yang beragama Muslim dan merupakan keturunan Tionghoa, apakah mereka boleh merayakan Imlek?

Untuk menjawab itu, berikut ini adalah beberapa fakta Imlek dan kaitannya dengan agama, termasuk apakah Mulism Tionghoa boleh merayakan Imlek.

Apa Itu Perayaan Tahun Baru Imlek?

Kata Imlek berasal dari dialek Hokkian, "Im" yang berarti bulan, dan "Le" yang berarti penanggalan. Jika digabungkan, Imlek berarti "kalender bulan." Dalam bahasa Mandarin, Imlek disebut Chun Jie, yang berarti "festival musim semi." 

Baca juga: Tradisi Pemberian Angpau saat Imlek, Simbol Keberuntungan yang Bertahan Ribuan Tahun

Pada mulanya sejarah Imlek identik dengan, perayaan dalam bentuk sukacita menyambut musim semi, yang menandai berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim tanam baru.  

Musim semi dianggap sangat penting karena menjadi awal dari kehidupan baru, ketika masyarakat agraris mulai bercocok tanam setelah melewati musim dingin yang sulit. 

Ilustrasi perayaan Imlek oleh umat Muslim Tionghoa. (Facebook/Indonesia 2045)

Oleh sebab itu, Imlek dirayakan dengan harapan kemakmuran, kebahagiaan, dan keberuntungan bagi tahun yang akan datang.  

Apakah Imlek Merupakan Perayaan Keagamaan?

Mengutip situs lspt.or.id, imlek dikenal sebagai perayaan etnis Tionghoa yang dirayakan di seluruh dunia.

Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa Imlek merupakan perayaan budaya Tionghoa dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan perayaan agama, sehingga tidak peduli apapun agamanya.

Baca juga: 11 Pantangan Imlek yang Perlu Kamu Tahu Agar Keberuntungan Hidup Tetap Terjaga!

Jka ia adalah etnis Tionghoa maka disarankan untuk ikut merayakan Imlek.

Agama yang Umumnya Merayakan Imlek

Dalam situs Kemenag NTT, imlek merupakan perayaan hari besar keagamaan bagi umat Khonghucu. 

Mereka merayakannya dengan mengadakan upacara sembahyang untuk mengucap syukur atas anugerah Tuhan yang memberikannya kesempatan untuk memasuki tahun yang baru kembali.

Agama Khonghucu adalah agama yang berasal dari negeri Tiongkok. Pada awal keberadaannya, Khonghucu ini hanya dianut di dalam kerajaan. Oleh karena jasa Nabi Kong Zi, maka rakyat jelata bisa mempelajari ajaran Khonghucu di Tiongkok.

Selain Konghuchu, para penganut Buddha asal China juga turut merayakan imlek sebagai tradisi budaya dan momen penghormatan leluhur. Dimeikian pula agama Tao yang juga merayakan imlek sebagai bentuk ritual.

Semakin ke sini, Imlek tidak lagi dianggap sebagai tradisi keagaamaan, melainkan warisan budaya orang Tionghoa atau China. Apapun agamanya, mau kristen dan SIlam, diperbolehkan mengikuti perayaan Imlek.

Apakah Muslim Tionghoa Merayakan Imlek?

Bagaimana hukum merayakan Imlek bagi Muslim Tionghoa? Pertanyaan itu kerap menjadi perbincangan setiap menjelang perayaan Imlek – perayaan tahun baru bagi etnis Tionghoa atau keturunan China, baik muslim di seluruh dunia termasuk di Indonesia sendiri.

Salah satu ulama kondang, Buya Yahya pernah menyampaikan ceramahnya terkait dengan hukum umat Muslim keturunan China yang ikut merayakan Imlek. Menurutnya, Islam tidak membedakan etnis baik itu Jawa, Sunda, China atau apapun itu, sama di hadapan Allah. Maka kita tidak ada urusan dengan etnis.

Baca juga: Sejarah dan Makna Angpau di Tahun Baru Imlek, dari Zaman Kuno hingga Digital

Semasa hidup, tokoh pluralisme sekaligus yang dikenal dengan ‘Bapak Tionghoa Indonesia’ KH. Abdurrahman Wahid atau yang kerap disapa Gus Dur juga memiliki pendapat yang sama. Bahwasanya apabila orang muslim keturunan Tionghoa maka diperbolehkan untuk merayakan hari raya Imlek, asal tidak mengganggu kepercayaannya terhadap agama yang dianutnya yaitu Islam.

Jika orang China ingin merayakan tahun barunya maka diperbolehkan dan tidak menjadi haram, asal tidak mengganggu umat Islam. Dalam hal ini, maka perayaan budaya berbeda dengan perayaan yang menyangkut hari besar dalam agama.

Imlek dalam perspektif Islam

Islam memandang kebudayaan sebagai hasil kreativitas manusia yang dapat diterima selama tidak melanggar syariat. Dalam konteks Imlek, umat Muslim Tionghoa tidak harus kehilangan identitas budaya mereka.

Selama perayaan dilakukan dengan niat mensyukuri nikmat Allah dan tanpa unsur penyembahan selain Allah, maka hukum merayakan Imlek dapat diperbolehkan.

Baca juga: Sejarah Imlek dan Legenda di Balik Perayaannya: Ada Makna, Tradisi, serta Keunikan

Tradisi Imlek sebagai Warisan Budaya Tionghoa

Secara historis, perayaan Imlek tidak memiliki kaitan langsung dengan agama tertentu. Tradisi ini awalnya merupakan bentuk rasa syukur petani di Tiongkok atas berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi. Ucapan “Gong Xi Fa Cai” yang sering diartikan sebagai “Selamat Tahun Baru”, sejatinya bermakna doa agar seseorang diberi rezeki melimpah.

Seiring perjalanan waktu, perayaan Imlek diadaptasi menjadi bagian dari identitas budaya etnis Tionghoa di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan, beberapa simbol dalam perayaan Imlek, seperti liong dan barongsai, menjadi sarana pembauran budaya antara etnis Tionghoa dan pribumi.

Nah, dengan penjelasna diatas tentunya kita bisa lihat perayaan Imlek meruapakan bagian dari budaya Tiongkok dan bisa dirayakan oleh orang Tionghoa dari agama apapun, termasuk dari China Muslim.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA, Kemenag, Lspt.or.id

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU