Ilustrasi Sejarah Angpau. (Foto: Freepik )
INDOZONE.ID - Angpau merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu dalam perayaan Imlek yang berfungsi sebagai simbol perekat silaturahmi melalui pemberian amplop merah.
Tradisi turun-temurun ini bertahan melintasi zaman bukan hanya karena nilai nominalnya, melainkan karena sejarah panjang yang menyertainya.
Penting untuk diketahui bahwa pemberian angpau memiliki etika dan aturan khusus, sebuah cerminan bahwa tradisi asal Tiongkok ini sarat akan penghormatan dan makna filosofis.
Baca juga: Sejarah dan Makna Angpau di Tahun Baru Imlek, dari Zaman Kuno hingga Digital
Berdasarkan catatan Singapore Infopedia, akar tradisi angpau berasal dari dua legenda populer yang masih diyakini hingga sekarang.
Kisah pertama menceritakan tentang ancaman iblis Sui, sosok hitam misterius yang sering mengincar anak-anak pada malam Imlek. Konon, sentuhan tangan pucatnya saat anak tertidur bisa menyebabkan sakit parah.
Demi melindungi putra mereka, sepasang orang tua mendapat bantuan dari delapan peri yang menjelma menjadi koin emas.
Saat koin tersebut dibungkus kertas merah dan diletakkan di bawah bantal, cahaya keemasan yang terpancar darinya berhasil mengusir Sui.
Keajaiban inilah yang kemudian menginspirasi para orang tua untuk terus memberikan uang dalam amplop merah sebagai simbol perlindungan.
Dikenal sebagai ya sui qian, amplop merah ini awalnya berfungsi sebagai media penghalau setan. Namun di era modern, fungsinya telah bergeser menjadi hadiah kasih sayang dari orang tua kepada anak.
Selain legenda iblis, sejarah angpau juga dipengaruhi oleh masa Kaisar Xuanzong dari Dinasti Tang.
Sang Kaisar memberikan koin emas dan perak sebagai jimat untuk melindungi bayi yang baru lahir, sebuah tindakan yang kemudian ditiru oleh para orang tua hingga menjadi tradisi pemberian hadiah yang eksis sampai hari ini.
Tradisi memberikan angpau telah menjadi norma sosial sejak zaman Dinasti Song. Selain diberikan kepada anak-anak, uang keberuntungan ini juga dibagikan kepada para penghibur yang memeriahkan perayaan dengan tabuhan gong dan genderang.
Menariknya, pada masa itu, pemberian uang juga berfungsi sebagai bentuk penghargaan dari majikan kepada pekerjanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Eresources.nlb.gov.sg