Sabtu, 17 JANUARI 2026 • 10:05 WIB

Jejak Tak Lazim Cornelis Chastelein dan 12 Marga yang Terlupakan di Balik Kota Depok

Author

Ilustrasi Cornelis Chastelein bersama budaknya di Depok pada era VOC (Koleksi Arsip Visual KITLV).

INDOZONE.ID - Kota Depok, Jawa Barat, selama ini identik dengan satu julukan: kota satelit Jakarta. 

Di balik hiruk-pikuk stasiun, perumahan, dan lalu lintas padat, Depok menyimpan kisah sejarah yang jarang disadari warganya sendiri. 

Jauh sebelum menjadi bagian dari Kawasan Metropolitan, Depok pernah berdiri sebagai wilayah sebagai identitas sosial yang unik. 

Semua itu berakar pada sosok Cornelis Chastelein dan 12 marga lama.

Nama Cornelis Chastelein mungkin terdengar asing bagi sebagian besar warga Depok masa kini. 

Baca juga: Roebiono Kertopati, Dokter Spesialis Radiologi yang Menjelma Bapak Persandian Indonesia

Padahal, figur inilah yang berperan penting dalam sejarah awal wilayah tersebut. 

Chastelein merupakan pegawai Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang pada akhir Abad ke-17 membeli tanah luas di kawasan yang kini dikenal sebagai Depok. 

Lahan tersebut kemudian ia kelola sebagai perkebunan dengan sistem yang berbeda dari praktik kolonial pada umumnya.

Yang membedakan Chastelein dari banyak tuan tanah kolonial lainnya adalah pandangan religius dan sosialnya. 

Ia menentang praktik perbudakan, setidaknya dalam lingkup kepemilikan pribadinya. 

Baca juga: Tabel Hitungan Orang Meninggal Menurut Adat Jawa, Lengkap dari 40 Hari hingga 1000 Hari

Pandangan ini diwujudkan secara nyata melalui surat wasiat yang disusunnya menjelang wafat pada 1714. 

Dalam dokumen tersebut, Chastelein membebaskan para budak yang berada di bawah kepemilikannya sekaligus mewariskan tanah Depok kepada mereka.

Keputusan ini tergolong tidak lazim pada masa kolonial, ketika budak umumnya diperlakukan sebagai properti. 

Dari sinilah kemudian lahir komunitas yang dikenal sebagai orang Depok Lama. 

Mereka bukan hanya menjadi penghuni, tetapi juga pemilik sah atas tanah yang diwariskan.

Baca juga: Jejak Gereja Katolik di Nusantara Abad 7 Masehi

Komunitas Depok Lama terdiri dari keluarga-keluarga yang kemudian dikenal sebagai 12 marga, di antaranya Jonathans, Laurens, Leander, Isakh, dan Tholense. 

Mereka membangun kehidupan sosial yang relatif mandiri, dengan struktur komunitas sendiri dan ikatan kekeluargaan yang kuat. 

Dalam perkembangannya, komunitas ini memiliki ciri khas tersendiri: memeluk agama Kristen, menggunakan bahasa Melayu yang dipengaruhi unsur Belanda, serta menjalankan sistem sosial yang berbeda dari masyarakat pribumi di sekitarnya.

Pada masa kolonial, Depok bahkan sempat memiliki status administratif khusus yang memberi ruang otonomi terbatas bagi komunitas ini. 

Namun, posisi sosial orang Depok Lama kerap berada di wilayah abu-abu. 

Baca juga: Cara Menghitung 1000 Hari Orang Meninggal, Begini 'Nyewu' Menurut Penanggalan Jawa

Mereka tidak sepenuhnya dianggap sebagai orang Eropa, tetapi juga tidak sepenuhnya dipandang sebagai pribumi.

Dilansir dari jurnal AMERTA: Journal of Archaeological Research and Development, warisan Cornelis Chastelein di Depok hingga kini masih memunculkan perdebatan sosial. 

Penelitian Alqiz Lukman menunjukkan bahwa ingatan terhadap Chastelein sebagai figur kolonial mengalami disonansi di masyarakat Depok modern. 

Hal ini terlihat dari polemik seputar keberadaan Tugu Cornelis Chastelein yang sempat ditolak pembangunannya kembali karena dianggap merepresentasikan memori kolonial yang sensitif bagi sebagian warga.

Baca juga: Kisah Catherine Monvoisin, Penyihir Paling Ditakuti di Prancis yang Pernah Guncang Istana Raja

Situasi komunitas Depok Lama menjadi semakin kompleks ketika Indonesia memasuki masa revolusi dan awal kemerdekaan. 

Pada periode 1945 hingga awal 1950-an, kedekatan historis mereka dengan sistem kolonial membuat komunitas ini kerap dicurigai dan distigma. 

Tekanan sosial dan politik pada masa tersebut menyebabkan banyak anggota komunitas mengalami marginalisasi, bahkan kehilangan posisi sosial yang sebelumnya dimiliki.

Seiring berjalannya waktu, perubahan wajah Depok semakin terasa. 

Urbanisasi, pembangunan perumahan skala besar, serta kehadiran Universitas Indonesia menggeser orientasi kota secara drastis. 

Baca juga: Mengenal Motolohuta, Ritual Mistis Gorontalo yang Hampir Hilang Ditelan Zaman

Depok kemudian lebih dikenal sebagai kota hunian dan pusat pendidikan, bukan lagi sebagai wilayah dengan komunitas lama yang kuat.

Dalam arus perubahan tersebut, ingatan kolektif tentang Depok Lama perlahan memudar. 

Banyak warga Depok hari ini tidak mengetahui bahwa kota mereka pernah menjadi lokasi eksperimen sosial yang jarang terjadi pada masa kolonial. 

Nama Cornelis Chastelein dan 12 marga lama lebih sering muncul dalam arsip sejarah dibandingkan dalam percakapan sehari-hari.

Padahal, memahami sejarah ini penting untuk melihat Depok secara lebih utuh. 

Baca juga: Mengenal Gokaido: Sistem Jalan Abad ke-17 yang Menyatukan Jepang

Julukan “kota satelit” memang mencerminkan fungsi Depok hari ini, tetapi tidak sepenuhnya menjelaskan perjalanan panjang wilayah ini. 

Di balik perannya sebagai kota penyangga Jakarta, Depok menyimpan lapisan sejarah yang membentuk identitasnya sejak berabad-abad lalu—sebuah kisah yang perlahan terlupakan, tetapi masih meninggalkan jejak hingga kini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: AMERTA: Journal Of Archaeological Research And Development

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU