Bagian Pameran tentang Roebiono Kertopati di Museum Sandi Yogyakarta (Fathiyah Hanan).
INDOZONE.ID - Di tengah gegap gempita perjuangan fisik merebut kemerdekaan Indonesia, tidak semua pertempuran berlangsung di medan perang.
Sosok dr. Roebiono Kertopati, seorang tokoh yang berani mengambil jalan yang lebih senyap.
Namun kontribusinya menentukan nasib komunikasi rahasia negara.
Dijuluki sebagai Bapak Persandian Indonesia, perannya bukan sekadar mencetak sandi, melainkan meletakkan fondasi kokoh keamanan informasi yang terus relevan hingga saat ini.
Roebiono Kertopati lahir di Ciamis pada 11 April 1914. Menariknya, ia bukanlah ahli sandi dari latar belakang militer atau intelijen, melainkan seorang dokter lulusan Nederlandsch-Indische Artsen School dengan spesialisasi radiologi.
Baca juga: Tabel Hitungan Orang Meninggal Menurut Adat Jawa, Lengkap dari 40 Hari hingga 1000 Hari
Namun, takdir membawanya pada peran yang sama sekali berbeda di tengah situasi genting pasca-proklamasi kemerdekaan.
Pada 4 April 1946, di tengah gejolak revolusi fisik, Menteri Pertahanan saat itu, Amir Syarifuddin, memberikan perintah kepadanya untuk mendirikan sebuah badan persandian nasional.
Pada saat itu, Roebiono Kertopati sudah bergabung dengan pemerintahan Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan dan ditempatkan di Badan B, bagian dari intelijen, sebagai seorang dokter.
Ia juga memiliki pengalaman sebagai pembantu telegrafis dinas intelijen Belanda pada masa pendudukan Jepang yang menjadi bekal tak terduga untuk menyempurnakan penugasannya.
Lahirlah Dinas Code, cikal bakal persandian Indonesia yang merupakan badan persandian pertama di negeri ini.
Keberadaanya mutlak diperlukan untuk mengamankan berita-berita rahasia negara, terutama di masa ketika satu pesan yang bocor bisa berakibat fatal bagi perjuangan.
Baca juga: Jejak Gereja Katolik di Nusantara Abad 7 Masehi
Di tengah keterbatasan sumber daya dan situasi politik yang belum stabil, Dinas Code menjadi benteng tak terlihat bagi komunikasi para pemimpin republik, memungkinkan strategi tetap berjalan tanpa diketahui pihak lawan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal