Jumat, 16 JANUARI 2026 • 14:15 WIB

Roebiono Kertopati, Dokter Spesialis Radiologi yang Menjelma Bapak Persandian Indonesia

Author

Bagian Pameran tentang Roebiono Kertopati di Museum Sandi Yogyakarta (Fathiyah Hanan). 

INDOZONE.ID - Di tengah gegap gempita perjuangan fisik merebut kemerdekaan Indonesia, tidak semua pertempuran berlangsung di medan perang. 

Sosok dr. Roebiono Kertopati, seorang tokoh yang berani mengambil jalan yang lebih senyap. 

Namun kontribusinya menentukan nasib komunikasi rahasia negara. 

Dijuluki sebagai Bapak Persandian Indonesia, perannya bukan sekadar mencetak sandi, melainkan meletakkan fondasi kokoh keamanan informasi yang terus relevan hingga saat ini.

Dari Dokter Hingga Perintis Sandi Negara

Roebiono Kertopati lahir di Ciamis pada 11 April 1914. Menariknya, ia bukanlah ahli sandi dari latar belakang militer atau intelijen, melainkan seorang dokter lulusan Nederlandsch-Indische Artsen School dengan spesialisasi radiologi. 

Baca juga: Tabel Hitungan Orang Meninggal Menurut Adat Jawa, Lengkap dari 40 Hari hingga 1000 Hari

Namun, takdir membawanya pada peran yang sama sekali berbeda di tengah situasi genting pasca-proklamasi kemerdekaan. 

Pada 4 April 1946, di tengah gejolak revolusi fisik, Menteri Pertahanan saat itu, Amir Syarifuddin, memberikan perintah kepadanya untuk mendirikan sebuah badan persandian nasional. 

Pada saat itu, Roebiono Kertopati sudah bergabung dengan pemerintahan Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan dan ditempatkan di Badan B, bagian dari intelijen, sebagai seorang dokter. 

Ia juga memiliki pengalaman sebagai pembantu telegrafis dinas intelijen Belanda pada masa pendudukan Jepang yang menjadi bekal tak terduga untuk menyempurnakan penugasannya.

Lahirlah Dinas Code, cikal bakal persandian Indonesia yang merupakan badan persandian pertama di negeri ini. 

Keberadaanya mutlak diperlukan untuk mengamankan berita-berita rahasia negara, terutama di masa ketika satu pesan yang bocor bisa berakibat fatal bagi perjuangan. 

Baca juga: Jejak Gereja Katolik di Nusantara Abad 7 Masehi

Di tengah keterbatasan sumber daya dan situasi politik yang belum stabil, Dinas Code menjadi benteng tak terlihat bagi komunikasi para pemimpin republik, memungkinkan strategi tetap berjalan tanpa diketahui pihak lawan.

Peran Kunci dalam Membangun Kemandirian Sandi

Roebiono Kertopati tidak bekerja sendirian. Ia menunjuk Letnan I Santoso sebagai Kepala Pendidikan Persandian pada Desember 1946 dan merintis sistem perekrutan sandiman-sandiman. 

Peran utamanya adalah menciptakan "Buku Code C" yang revolusioner. 

Buku ini berisi lebih dari 10.000 kata Bahasa Indonesia serta sistem sandi rahasia lain untuk operasional Dinas Code. 

Baca juga: Cara Menghitung 1000 Hari Orang Meninggal, Begini 'Nyewu' Menurut Penanggalan Jawa

Luar biasanya, buku ini ditulis langsung oleh dr. Roebiono Kertopati dalam kurun waktu dua bulan, menggunakan kedua tangan kanan dan kirinya secara bersamaan. 

Untuk menjamin keamanan dan kerahasiaannya, penggandaan dan pengetikan buku kode ini bahkan dikerjakan oleh adik kandungnya, Sriwati, dan keponakannya, Roekmini. 

Selain itu, dengan bantuan Kapten Soejadi dan Letnan I Santoso, ia juga membuat sistem-sistem sandi lain seperti transposisi dan substitusi. 

Sistem ini yang merintis hubungan kode dengan daerah-daerah, dimulai dari Tasikmalaya dan Garut, lalu diperluas ke Rangkasbitung dan Karawang. 

Sistem tersebut tidak hanya melayani Kementerian Pertahanan, tetapi juga Kediri, Sumatera, Tegal, Purwokerto, Jakarta, dan Malang.

Kepiawaian Roebiono Kertopati dalam mengamankan komunikasi rahasia tidak hanya terbatas pada masa perang. 

Baca juga: Kisah Catherine Monvoisin, Penyihir Paling Ditakuti di Prancis yang Pernah Guncang Istana Raja

Peranannya dalam mengamankan komunikasi selama masa perang dan damai, serta meningkatkan kapasitas kelembagaan persandian, sangat penting bagi Indonesia. 

Bahkan, ketika Belanda menyerang kantor Dinas Code di Batanawarsa, Yogyakarta, yang membuat komunikasi antar petugas sandi terganggu, Roebiono Kertopati memerintahkan para sandiman untuk mengungsi dan mengumpulkan informasi dari berbagai lokasi. 

Ini menunjukkan kepemimpinan strategisnya dalam situasi krisis.

Keahliannya yang mumpuni dalam pengelolaan informasi sensitif membuatnya terlibat dalam Panitia Negara Penyelidikan Radioaktivitet pada tahun 1954-1957 yang dibentuk atas perintah presiden. 

Dalam kepanitian ini, Roebiono Kertopati berperan penting dalam mengendalikan penyebaran informasi sensitif mengenai dampak uji coba termonuklir di Pasifik. 

Ia bertugas menjaga agar informasi tersebut tersebar dengan baik kepada masyarakat, terutama di masa yang rentan terhadap penyebaran hoaks. 

Bahkan, keahliannya di bidang ini disebut setara dengan agen CIA Amerika Serikat.

Baca juga: Mengenal Motolohuta, Ritual Mistis Gorontalo yang Hampir Hilang Ditelan Zaman

Warisan Abadi Sang Bapak Persandian

Dasar-dasar keamanan komunikasi rahasia yang diletakkan oleh Roebiono Kertopati di tengah gejolak revolusi fisik Indonesia menjadi tonggak penting bagi kesadaran akan keamanan siber dan informasi di negara ini.

Pemikirannya terus berkembang hingga akhirnya terbentuklah Badan Siber dan Sandi Negara. 

Gedung-gedung terkait persandian, seperti rumah sandi di Kelurahan Purwoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, direnovasi dan diresmikan oleh Kepala Badan Siber dan Sandi Negara pada tahun 2014, yang menunjukkan kesinambungan dan penghargaan terhadap warisan yang dibangunnya.

Roebiono Kertopati adalah bukti nyata bahwa pahlawan tidak selalu mereka yang mengangkat senjata di medan perang, tetapi juga mereka yang bekerja dalam senyap, memastikan roda informasi rahasia negara tetap berputar dengan aman. 

Peran sentralnya dalam menjaga kedaulatan informasi negara telah mengukir sejarah dan terus menjadi inspirasi bagi masyarakat.

Baca juga: Mengenal Gokaido: Sistem Jalan Abad ke-17 yang Menyatukan Jepang

Untuk memahami lebih dalam jejak sejarah persandian yang dipelopori oleh dr. Roebiono Kertopati, masyarakat dapat mengunjungi Museum Sandi yang berlokasi di Yogyakarta, tepatnya di kawasan Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman. 

Di museum ini, pengunjung dapat menyelami cerita-cerita di balik layar kemerdekaan Indonesia yang mungkin tidak tertulis di buku sejarah. 

Melalui tur museum dan koleksi yang dipamerkan, pengunjung diajak untuk melihat langsung artefak-artefak yang menjadi saksi bisu perjuangan, seolah membawa kembali ke era penjajahan dan masa awal kemerdekaan Indonesia. 

Bahkan, arsip-arsip di Museum Sandi menjadi salah satu sumber yang mencatat detail tentang "Buku Code-C" yang berisi 10.000 kata Bahasa Indonesia dan dibuat rangkap enam tersebut. 

Museum Sandi menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, menjaga agar warisan Roebiono Kertopati tetap relevan dan menginspirasi kesadaran akan pentingnya keamanan informasi di era digital.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU