INDOZONE.ID - Kisah Nyi Roro Kidul adalah salah satu legenda paling ikonik dalam kebudayaan Jawa yang memadukan unsur sejarah, mitologi, dan kekuatan spiritual. Sebagai sosok yang dipercaya sebagai "Ratu Penguasa Laut Selatan".
Ia digambarkan sebagai wanita cantik berhias hijau, memiliki kekuatan gaib, dan mampu mengendalikan ombak serta angin di laut selatan. Legenda ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan masih hidup hingga sekarang.
Baca juga: Bong Cino Sering Dianggap Angker, Ini Fakta Sejarah dan Makna Budayanya
Asal Usul Nyi Roro Kidul
Menurut salah satu versi legenda, Nyi Roro Kidul awalnya dikenal sebagai Putri Kandita, seorang putri kerajaan Pajajaran. Putri Kandita mengalami siksaan karena Dewi Mutiara menyewa dukun untuk mengirim teluh (sihir) yang membuatnya menderita penyakit kulit parah. Karena dianggap terkena kutukan dewata, Putri Kandita kemudian diasingkan dari istana.
Perjalanan ke Selatan
Dalam pengasingannya, Putri Kandita melakukan perjalanan ke arah selatan selama tujuh hari tujuh malam hingga mencapai samudra selatan Jawa. Di sana, ia mendengar suara gaib yang menyuruhnya untuk terjun ke laut.
Setelah menyelam dan sembuh dari penyakitnya, Putri Kandita tidak kembali ke daratan melainkan menetap di laut selatan. Di sanalah ia kemudian menjadi Ratu Laut Selatan, menguasai seluruh makhluk halus di sepanjang pantai selatan Jawa, dan mulai dikenal dengan nama Nyi Roro Kidul.
Legenda dan Perjanjian dengan Raja
Dalam legenda Jawa, Nyi Roro Kidul juga terikat dalam perjanjian dengan raja atau sultan. Raja Mataram memohon bantuannya untuk menjaga wilayah dan menghadapi musuh, termasuk Kerajaan Pajang. Sebagai imbalan penghormatan dari raja dan rakyatnya, sang ratu laut diyakini membantu Mataram secara gaib, menjaga keamanan pesisir, dan memastikan keberhasilan kerajaan.
Banyak cerita rakyat menekankan bahwa melanggar aturan atau tidak menghormati Nyi Roro Kidul bisa mendatangkan malapetaka, sedangkan sikap hormat akan membawa keselamatan dan rezeki.
Tradisi dan Budaya
Nyi Roro Kidul tidak hanya hidup dalam legenda, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Jawa. Di pesisir selatan, seperti Parangtritis, Pangandaran, dan Pelabuhan Ratu, masyarakat mengadakan upacara adat untuk menghormatinya. Ritual ini biasanya melibatkan sesajen, doa, dan tari tradisional.
Selain itu, ada pantangan bagi pengunjung pantai selatan, yaitu tidak boleh memakai baju hijau karena diyakini warna tersebut kesukaannya. Tapi secara ilmiah, larangan ini terkait warna air laut yang biru kehijauan. Jika seseorang tenggelam memakai pakaian hijau, tim SAR akan sulit menemukan korban, karena warnanya menyatu dengan air dan ganggang laut.
Baca juga: Sejarah Teh Dalam Perspektif Dinasti Shang: Dari Tanaman di Asia yang Mendunia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesia Kaya