Selasa, 23 DESEMBER 2025 • 15:43 WIB

Mengenal Hatshepsut, Firaun Perempuan yang Terlupakan dari Peradaban Mesir Kuno

Author

Patung Ratu Hatshepsut, yang dihapus dari sejarah Mesir kuno karena kesuksesannya. (Metropolitan Museum of Art)

INDOZONE.ID - Pada sejarah Mesir Kuno yang dipenuhi dengan nama-nama besar, ada satu penguasa yang seharusnya dikenang sejajar dengan para firaun paling berkuasa. Namanya Hatshepsut

Hatshepsut bukan sekadar ratu Mesir, melainkan salah satu penguasa paling sukses yang pernah dimiliki Mesir. Namun anehnya, namanya justru nyaris dihapus dari sejarah, seolah keberadaannya adalah sebuah kesalahan yang tidak boleh diingat.

Baca juga: Sengkolo, Mitos Jawa yang Kembali Bergema Jadi Perbincangan Warganet

Hatshepsut: Perempuan yang Mengambil Takhta Mesir

Hatshepsut hidup pada abad ke-15 sebelum masehi. Awalnya, posisinya tampak wajar dan sah. Ia merupakan istri Raja Thutmose II dan, menjadi wali atau queen regent (Thutmose III) setelah sang raja. Dalam tradisi Mesir, perempuan kerajaan memang kerap menjalankan peran tersebut. Mereka memerintah sementara, untuk menjaga stabilitas negara sampai sang raja dewasa dan siap berkuasa.

Namun, di sinilah cerita Hatshepsut mulai berbeda.

Alih-alih tetap berada di balik layar, Hatshepsut menyadari satu hal penting yakni, Mesir membutuhkan pemimpin yang kuat dan berpengalaman, bukan sekadar nama di atas takhta.

Baca juga: 5 Hantu Paling Ditakuti di Dunia, Salah Satunya Asli Indonesia: Jangan Sampai Ketemu!

Beberapa tahun kemudian, ia mengambil keputusan berani sekaligus berbahaya, menaikkan dirinya sendiri bukan lagi menjadi wali, melainkan sebagai penguasa penuh Mesir.

Masalahnya, dalam bahasa Mesir Kuno, tidak ada istilah untuk “ratu” seperti yang kita kenal sekarang. Yang ada hanyalah gelar “raja” atau “firaun”. Maka, untuk memerintah secara sah, Hatshepsut tidak punya pilihan selain menyebut dirinya raja, lengkap dengan gelar, simbol, dan ritual yang biasanya hanya dimiliki laki-laki.

Keputusan itulah yang kelak membuat namanya harus “dihapus”.

Baca juga: Kisah Jacomina Fay dan Wajah Kehidupan Perempuan Indo di Masa Kolonial

Bagi masyarakat Mesir Kuno, firaun bukan sekadar pemimpin politik. Ia adalah penjaga Ma’at, keseimbangan kosmis yang mengatur kebenaran, keadilan, dan keteraturan alam semesta.

Ma’at dipercaya dijaga oleh para dewa di langit dan oleh raja di bumi. Ketika Hatshepsut mengambil takhta dari raja yang sah meski masih anak-anak, banyak pihak menganggapnya telah melanggar tatanan itu.

Untuk membungkam penentangan, Hatshepsut melakukan langkah yang tidak kalah berani. Ia mengklaim dirinya sebagai putri langsung dewa Amun, dewa tertinggi pada masa itu.

Baca juga: Weton Wage: Konon Punya Jiwa Pengembara, Benarkah?

Hatshepsut bahkan mengabadikan kisah “kelahiran ilahi” nya di dinding kuil megah Djeser-Djeseru di Deir el-Bahari. Dengan begitu, menentangnya sama saja dengan menentang kehendak para dewa.

Selama 22 tahun pemerintahannya, Mesir justru mengalami masa kemakmuran. Perdagangan berkembang, proyek pembangunan besar-besaran dilakukan, dan stabilitas politik terjaga.

Hatshepsut juga secara simbolis menampilkan dirinya sebagai firaun laki-laki, memakai janggut palsu, pakaian ritual pria, bahkan digambarkan sebagai Osiris, dewa kematian.

Baca juga: Kisah Mistis Tumbal Susuk Nyai Sukandir: Konon Teror yang Turun-Temurun dari Leluhur!

Namun, kejayaan itu tidak bertahan dalam ingatan sejarah.

Setelah Hatshepsut wafat, namanya perlahan menghilang. Patung-patungnya dihancurkan, relief-reliefnya dipahat ulang, dan prasasti-prasastinya dirusak.

Namun, yang menarik adalah, penghapusan ini tidak terjadi sesaat setelah kematiannya. Sekitar 25 tahun kemudian, barulah jejaknya sebagai firaun mulai dimusnahkan.

Inilah yang membuat banyak sejarawan percaya bahwa penghapusan tersebut bukan semata dendam pribadi Thutmose III, melainkan keputusan politik generasi berikutnya, kemungkinan besar oleh Amenhotep II.

Baca juga: Sejarah Hari Ibu: Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Refleksi Perjuangan Kaum Perempuan

Tujuannya bukan karena Hatshepsut perempuan, melainkan karena Hatshepsut pernah melanggar Ma’at dengan mengambil takhta yang bukan miliknya.

Dalam pandangan mereka khususnya Mesir kuno, sejarah harus “diperbaiki”. Hatshepsut boleh dikenang sebagai wali raja, tetapi tidak sebagai firaun.

Ironisnya, meski namanya dihapus, warisan Hatshepsut justru bertahan. Bangunan pada masa kepemimpinannya masih berdiri, kemakmuran yang ia bangun menopang Mesir selama berabad-abad, dan kisahnya akhirnya kembali terungkap oleh para arkeolog modern.

Baca juga: 5 Tirakat Leluhur Paling Sakti: Salah Satunya Topo Bisu yang Bikin Mental Makin Kuat

Hatshepsut mungkin pernah “harus dilupakan” demi menjaga tatanan Mesir pada zaman itu. Namun, ia dikenang kembali bukan hanya sebagai firaun perempuan, melainkan sebagai salah satu penguasa terbesar dalam sejarah Mesir Kuno.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Thecollector.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU