Strategi Sun Yat-sen Menggulingkan Kekaisaran Tiongkok: Dari Anti-Manchu ke Tiga Prinsip Rakyat
INDOZONE.ID - Revolusi Xinhai pada tahun 1911 menjadi salah satu peristiwa yang paling penting dalam sejarah Tiongkok.
Peristiwa ini merupakan ditandai keruntuhanDinasti Qing yang telah berkuasa lebih dari dua setengah abad, serta mengakhiri sebuah sistem kekaisaran yang telah berjalan selama ribuan tahun.
Di balik peristiwa besar ini, terdapat dua kekuatan utama yang mendorong perubahan besar tersebut, yaitu berkembangnya nasionalisme anti-Manchu dan lahirnya gagasan Tiga Prinsip Rakyat atau San Min Chu I yang dipelopori oleh Sun Yat Sen.
Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, kondisi Dinasti Qing sendiri sedang berada dalam keadaan yang memilukan.
Kekalahannya dalam Perang Candu memaksa Cina untuk membuka banyak sekali pelabuhan guna membayar ganti rugi kepada bangsa Barat.
Baca juga: Bangkitnya Negeri Matahari Terbit: Transformasi Jepang Dimulai Di Era Meiji
Hal ini mengakibatkan kedaulatan Cina semakin tertekan dan kondisi ekonomi rakyat kian memburuk.
Pemerintah dipandang tidak mampu untuk melindungi rakyat ataupun mempertahankan negara.
Oleh karena itu, kepercayaan rakyat terhadap Dinasti Qing terus menurun.
Selain tekanan dari bangsa Barat, masalah besar lainnya adalah kenyataan bahwa Dinasti Qing berasal dari bangsa Manchu yang dianggap sebagai dinasti asing oleh mayoritas rakyat Cina dari suku Han.
Kondisi ini menimbulkan rasa tidak suka yang semakin kuat terhadap pemerintahan Manchu.
Perasaan anti-Manchu ini berkembang seiring dengan berbagai kegagalan pemerintah dalam mengatasi krisis ekonomi, politik, dan militer.
Baca juga: Naga yang Bangun Tidur: Dari Dinasti ke Republik, Kisah Seratus Tahun Gairah Tiongkok
Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme yang pada awalnya bersifat perlawanan terhadap kekuasaan asing di dalam negeri.
Nasionalisme anti-Manchu yang semula hanya berisi kemarahan dan perlawanan, kemudian mengalami perubahan menjadi nasionalisme modern yang memiliki arah politik yang lebih jelas.
Perubahan ini dipengaruhi oleh masuknya gagasan-gagasan modern dari Barat melalui pelajar Cina yang belajar di luar negeri serta media cetak.
Perjuangan tidak lagi hanya bertujuan mengusir Manchu, tetapi juga membangun sebuah negara baru yang kuat dan modern.
Sun Yat Sen, tokoh yang memiliki peran dalam perubahan nasionalisme di Cina.
Baca juga: Bagaimana Restorasi Meiji Mengubah Wajah Jepang yang Terbelakang?
Ia tidak hanya mengkritik Dinasti Qing, tetapi juga memberikan sebuah tawaran berupa konsep yang membahas mengenai masa depan Cina atau dikenal sebagai Tiga Prinsip Rakyat atau San Min Chu I.
Prinsip itu bertopang pada tiga pilar, yakni nasionalisme, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat.
Gagasan yang dikemukakan oleh Sun menjadi tonggak dasar bagi gerakan revolusi dan juga
Republik Ciba yang berdiri setelah runtuhnya Dinasti Qing.
Selain itu, prinsip nasionalisme yang ia bawakan tidak hanya untuk menentang Manchu, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran sebagai satu bangsa Cina yang bersatu.
Ia ingin menghapus perbedaan suku dan daerah serta membangun harga diri bangsa agar Cina mampu bangkit dari keterpurukan akibat penjajahan dan tekanan asing.
Baca juga: Disintergrasi India: Perjalanan Panjang Konflik Sejak Prakemerdekaan, Hingga Kelahiran Bangladesh
Prinsip demokrasi menolak sistem monarki absolut dan menggantinya dengan pemerintahan yang memberi ruang bagi rakyat untuk ikut menentukan masa depan negara.
Sementara itu, prinsip kesejahteraan rakyat menekankan bahwa revolusi harus membawa perbaikan nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi rakyat, terutama bagi petani dan masyarakat kecil.
Penyebaran gagasan Tiga Prinsip Rakyat dilakukan melalui organisasi Tongmenghui yang dipimpin oleh Sun Yat Sen. Organisasi ini berhasil menyatukan berbagai kelompok perlawanan yang sebelumnya bergerak sendiri-sendiri.
Di sisi lain, kondisi internal Dinasti Qing semakin rapuh akibat krisis keuangan, hutang luar negeri, serta biaya besar untuk perang dan reformasi.
Lemahnya pemerintah membuat banyak pejabat dan tentara kehilangan kesetiaan terhadap Dinasti Qing.
Selain itu, banyak tentara–tentara modern yang merupakan hasil dari reformasi Qing yang terkena pengaruh dari para revolusioner.
Baca juga: Fakta Unit 731: Eksperimen Sadis Tentara Jepang terhadap Warga Cina Berkedok Penelitian Epidemi
Hal ini terlihat jelas dalam Pemberontakan Wuchang pada 10 Oktober 1911 yang dilakukan oleh pasukan militer.
Peristiwa ini menjadi pemicu pecahnya Revolusi Xinhai secara nasional. Dalam waktu singkat, berbagai daerah menyatakan lepas dari kekuasaan dinasti Qing.
Akhirnya, pada tahun 1912 Dinasti Qing resmi runtuh dan Republik Cina berdiri dengan Sun Yat Sen sebagai presiden sementara.
Meskipun setelah itu Cina masih mengalami berbagai konflik politik, Revolusi Xinhai tetap menjadi tonggak penting dalam sejarah modern Cina karena berhasil mengubah sistem pemerintahan dari kekaisaran menjadi republik.
Revolusi Xinhai 1911 merupakan hasil dari perpaduan antara transformasi nasionalisme anti-Manchu dengan gagasan Tiga Prinsip Rakyat.
Baca juga: Bagaimana Revolusi Meiji Membangkitkan Jepang dari Reruntuhan Feodalisme?
Nasionalisme memberikan semangat perlawanan terhadap penindasan, sedangkan San Min Chu I memberi arah yang jelas bagi perubahan politik dan sosial.
Keduanya menjadi pemicu utama yang mendorong lahirnya Republik Cina dan membuka jalan bagi transformasi Cina menuju negara modern.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: