INDOZONE.ID - Abad ke-19 menandai luka besar bagi Tiongkok kalah dalam Perang Candu (1839-1842 dan 1856-1860), dipaksa membuka pelabuhan melalui perjanjian-perjanjian tidak seimbang.
Tiongkok tercerai-berai oleh pengaruh asing yang membagi wilayahnya menjadi "lingkaran pengaruh" (spheres of influence).
Kekalahan telak dalam Perang Sino-Jepang Pertama (1894-1895) menjadi pukulan psikologis terdalam bagaimana mungkin negara tetangga yang selama ini dianggap murid peradaban Tiongkok bisa mengalahkan sang guru?
Rasa malu kolektif ini bukan sekadar kebencian pada kekuatan luar, melainkan pemicu pertanyaan mendasar: mengapa bangsa Tiongkok dengan peradaban ribuan tahun, teknologi tinggi masa lampau, dan sistem birokrasi yang canggih bisa kalah?
Pertanyaan eksistensial itu menumbuhkan kebangkitan gagasan baru: modernisasi, kedaulatan, dan konsep bangsa (民族, minzu) yang sebelumnya tidak pernah ada dalam kerangka berpikir kekaisaran tradisional.
Baca juga: Bagaimana Restorasi Meiji Mengubah Wajah Jepang yang Terbelakang?
Kaum intelektual seperti Kang Youwei dan Liang Qichao memperkenalkan ide reformasi konstitusional, sementara Sun Yat-sen menuntut penggantian total sistem kekaisaran.
Reformasi Seratus Hari (1898) yang gagal menunjukkan mendesaknya kebutuhan perubahan sekaligus kuatnya resistensi elite konservatif.
1911: Titik Balik Kerajaan Runtuh, Republik Lahir
Pemberontakan Wuchang pada 10 Oktober 1911 dan gelombang pemberontakan berikutnya di berbagai provinsi menandai akhir dinasti Qing yang telah berkuasa selama 268 tahun dan pembukaan era republik.
Revolusi Xinhai tidak serta-merta menghapus semua masalah: ia menghancurkan simbol kekuasaan lama tetapi meninggalkan kekosongan politik yang berbahaya, perebutan pengaruh militer oleh para panglima perang (warlords), dan persaingan elit yang berkepanjangan.
Puyi, kaisar terakhir yang masih anak-anak, turun tahta pada Februari 1912, mengakhiri lebih dari dua ribu tahun tradisi kekaisaran Tiongkok.
Baca juga: Disintergrasi India: Perjalanan Panjang Konflik Sejak Prakemerdekaan, Hingga Kelahiran Bangladesh
Revolusi Xinhai
Namun secara simbolik, 1911 menjadi legenda pemersatu yang kuat: citra Sun Yat-sen sebagai "Bapak Republik" dan gagasan "tiga prinsip rakyat" (san min zhuyi: nasionalisme, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat) memberi narasi alternatif kebanggaan transformasi dari subjek kekaisaran pasif menjadi warga bangsa modern yang aktif.
Meskipun republik yang baru lahir segera terjerumus dalam kekacauan Era Panglima Perang (1916-1928), momentum psikologis dari 1911 tidak pernah hilang.
Generasi muda Tiongkok melihat bahwa perubahan radikal memang mungkin, dan bahwa masa depan bangsa ada di tangan mereka sendiri, bukan takdir langit atau dinasti.
Antara Nasionalisme Sipil dan Negara: Perjalanan Ideologi pada Abad ke-20
Sepanjang paruh pertama abad ke-20, nasionalisme Tiongkok berwajah ganda dan penuh ketegangan internal: ada tradisi nasionalisme sipil (civic nationalism) yang berfokus pada modernitas, supremasi hukum, dan pemerintahan perwakilan seperti yang diperjuangkan kaum intelektual liberal; dan ada nasionalisme negara (state nationalism) yang menekankan persatuan mutlak, mobilisasi massa, dan di beberapa momen kekerasan politik demi tujuan kolektif.
Baca juga: Fakta Unit 731: Eksperimen Sadis Tentara Jepang terhadap Warga Cina Berkedok Penelitian Epidemi
Gerakan 4 Mei 1919 menjadi contoh klasik ketegangan ini: dimulai sebagai protes terhadap perjanjian Versailles yang "mengkhianati" Tiongkok dengan memberikan bekas konsesi Jerman di Shandong kepada Jepang, gerakan ini berkembang menjadi revolusi budaya yang mempertanyakan segala sesuatu dari sistem tulisan Tionghoa hingga ajaran Konfusianisme.
Perang saudara antara Kuomintang (KMT) dan Partai Komunis Tiongkok (PKT), invasi brutal Jepang (1937-1945) yang menewaskan jutaan orang, dan kemudian pendirian Republik Rakyat Tiongkok pada 1949 menegaskan bahwa nasionalisme bisa menjadi alat pembangun negara sekaligus alat legitimasi rezim otoriter.
Protes terhadap perjanjian Versailles yang "mengkhianati" Tiongkok
Konflik ide-ide ini melahirkan gelombang budaya, kampanye propaganda massal, dan reformasi sosial radikal yang membentuk ingatan kolektif modern Tiongkok.
Era Mao dengan kampanye-kampanye seperti Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan menunjukkan bagaimana nasionalisme revolusioner bisa menjadi destruktif, sementara era reformasi Deng Xiaoping membuktikan nasionalisme bisa diselaraskan dengan pragmatisme ekonomi.
Baca juga: Bagaimana Revolusi Meiji Membangkitkan Jepang dari Reruntuhan Feodalisme?
Narasi Resmi Sejarah: Membentuk Memori Publik
Pemerintah Tiongkok berulang kali merekonstruksi narasi sejarah: pahlawan-pejuang disakralkan, episode tertentu dilemparkan ke pusat museum dan kurikulum, yang lain dihapus.
Museum Revolusi Xinhai di Wuhan, Memorial Pembantaian Nanjing, dan Museum Perang Melawan Agresi Jepang menjadi ruang internalisasi narasi resmi oleh jutaan pengunjung, terutama pelajar dalam kunjungan wajib.
Sejarah Xinhai digunakan menegaskan kesinambungan rakyat sebagai subjek berdaulat tetapi juga menjustifikasi sentralisasi dan kontrol budaya ketat.
Kebijakan memori (memory politics) ini menanamkan stabilitas nasional sekaligus menegaskan otoritas negara atas definisi "siapa kita".
Penataan sejarah membuat nasionalisme bukan ide abstrak, melainkan pengalaman sehari-hari: upacara bendera, film patriotik, pendidikan ideologi membentuk rasa memiliki mendalam.
Baca juga: Universitas Nalanda, Institusi Pendidikan Penting Bagi Kaum Buddhisme di India Kuno
Platform seperti Weibo penuh diskusi "seratus tahun penghinaan nasional" (bainian guochi) yang mengingatkan trauma sekaligus membangkitkan kebanggaan.
Nasionalisme Kontemporer: Dari Kebanggaan Ekonomi ke Politik Global
Memasuki abad ke-21, terutama era Xi Jinping sejak 2012, nasionalisme menjadi komponen sentral kebijakan menggalang dukungan publik saat ekonomi melambat dan membenarkan kebijakan tegas di Laut Tiongkok Selatan, Taiwan, dan hubungan dengan Barat.
"Impian Tiongkok" (Zhongguo Meng) dan "Kebangkitan Besar Bangsa" menjadi slogan mobilisasi efektif. Pemerintah menyeimbangkan narasi kebangkitan (China rising) dengan pengelolaan ketegangan geopolitik; respons terhadap kritik HAM, Belt and Road Initiative, dan boikot konsumen terhadap merek asing menunjukkan kekuatan nasionalisme populer yang kadang melampaui kontrol pemerintah.
Laporan internasional menunjukkan peningkatan tekanan diplomatik-militer terkait klaim kedaulatan di Taiwan Strait, Hong Kong, Xinjiang, dan strategi "dual circulation" untuk kemandirian teknologi.
Baca juga: Gebrakan Sun Yat Sen di 72 Hari Masa Jabatan Presiden yang Mengubah Wajah Tiongkok Modern
Ketegangan AS-Tiongkok mencerminkan nasionalisme sebagai faktor tak terelakkan dalam tatanan global.
Warisan 1911 untuk Abad ke-21: Pelajaran dan Paradoks
Jika 1911 mengajarkan perubahan cepat bisa menggulingkan rezim kokoh, seratus tahun kemudian Tiongkok menunjukkan kebalikan: perubahan transformatif bisa dipelopori negara kuat sentral tanpa gejolak revolusioner.
PKT berhasil mengelola modernisasi ekonomi spektakuler sambil mempertahankan monopoli politik.
Paradoksnya, kebanggaan nasional yang berakar dari perlawanan imperialisme kini memicu ketegangan baru Tiongkok dituduh neo-imperialisme melalui "diplomasi jebakan utang".
Pelajaran utama: nasionalisme adalah kekuatan ganda sumber inspirasi pembangunan dan identitas, namun juga potensi pemicu konflik jika dikombinasikan politik kekuatan (power politics).
Baca juga: Tanpa Restorasi Meiji, Mungkin Toyota Tidak Pernah Ada
Memahami sejarah membantu mengerti mengapa "naga" bangkit hari ini lebih percaya diri dan asertif, namun membawa beban trauma belum sembuh.
Ketegangan antara keinginan dihormati dan rasa tidak aman historis (historical insecurity) terus membentuk perilaku Tiongkok kontemporer.
Keinginan untuk dihormati sebagai kekuatan global dan rasa tidak aman historis (historical insecurity) terus membentuk perilaku Tiongkok kontemporer.
Mengapa Kisah Ini Masih Penting?
Kisah seratus tahun gairah Tiongkok menjelaskan bagaimana memori kolektif, trauma sejarah, aspirasi modernisasi, dan klaim kedaulatan bersilangan membentuk perilaku negara besar yang menentukan arah dunia.
Baca juga: Operasi Searchlight: Aksi Militer Brutal yang Mengubah Jalannya Sejarah Bangladesh
Dari Perang Candu hingga Belt and Road Initiative, dari penghinaan kolonial hingga ekonomi terbesar kedua dunia, perjalanan ini penuh pembelajaran tentang resiliensi dan kompleksitas identitas nasional.
Bagi dunia yang terhubung namun terpolarisasi, memahami perjalanan ini membantu membaca tindakan politik Tiongkok dari pembangunan ekonomi hingga sikap terhadap Taiwan bukan sebagai ambisi hegemonik semata, melainkan hasil ratusan tahun pengalaman, luka belum sembuh, dan determinasi untuk tidak lagi menjadi korban.
Memahami nasionalisme Tiongkok berarti memahami salah satu kekuatan paling berpengaruh membentuk abad ke-21.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber