Jumat, 12 DESEMBER 2025 • 17:35 WIB

Bubur Jagung yang Menyelamatkan Jutaan Orang Ketika Revolusi Xinhai

Author

Ilustrasi bubur jagung (freepik).

INDOZONE.ID - Jagung merupakan sebuah tanaman kecil, tetapi berhasil menyelamatkan hidup banyak orang ketika terjadi Revolusi Xinhai.

Pada awal abad ke-20 terjadi banyak peristiwa besar yang berada di Cina, salah satunya yaitu perubahan yang terjadi pada struktur masyarakat untuk mengganti sistem lama ke sistem baru. 

Tepatnya pada 10 Oktober 1911 hingga 12 Februari 1912 terjadi satu revolusi besar yang diberi nama Revolusi Xinhai. 

Penamaan ini diambil dari tradisi Tiongkok, tertulis pada tahun 1911 merupakan tahun babi logam. 

Revolusi Xinhai ini merupakan klimaks dari ketidakpuasan rakyat Cina terhadap pemerintahan Dinasti Qing.

Baca juga: Dari Sekutu Jadi Musuh: Kisah Pecahnya Cina dalam Perang Saudara Mematikan

Rakyat Cina berpikir bahwa pemerintahan yang dipimpin oleh Dinasti Qing itu terlalu lemah, banyak petinggi yang melakukan korupsi, dan dianggap asing karena dinasti tersebut didirikan oleh suku dari luar Tiongkok. 

Rakyat Cina sebetulnya kurang nyaman apabila dipimpin oleh dinasti luar, bukan dinasti yang asli berdiri di Tiongkok. 

Seringkali Dinasti Qing menampakkan kelemahan pemerintahannya dalam beberapa perang. 

Kekalahan tersebut dapat dilihat Perang Candu pertama tahun 1839 hingga 1842, tidak berakhir disitu perlawanan Cina melawan Inggris serta Prancis pada tahun 1856 hingga 1860 untuk mempertahankan pelabuhan nyatanya juga gagal. 

Di saat yang hampir bersamaan juga terjadi pemberontakan Taiping yang menewaskan hampir 30 juta jiwa terjadi pada tahun 1851 hingga 1864. 

Baca juga: Fakta Kelam di Balik Runtuhnya Keshogunan Tokugawa yang Disembunyikan Berabad-abad

Terjadinya Perang Sino Jepang Pertama yang berlangsung selama setahun pada 1894 hingga 1895 juga berakhir pada kegagalan. 

Peristiwa-peristiwa tersebut cukup membuat muak rakyat Han (rakyat asli Cina), dan mereka ingin melengserkan pemerintahan Dinasti Qing.

Akibat dari itu mulai muncul gerakan nasionalisme yang dipelopori oleh Sun Yat Sen, jika dipikir Sun Yat Sen dinilai lebih bijak daripada Dinasti Qing. 

Pertempuran mulai terjadi, banyak korban jiwa yang mulai bergelempangan. 

Hal itu menyebabkan terjadinya krisis ekonomi, sehingga distribusi makanan pokok dari luar wilayah semakin sulit. 

Oleh karena itu rakyat miskin harus berpikir untuk bertahan hidup dengan bahan makanan seadanya.

Baca juga: Kaki Teratai Emas, Standar Kecantikan yang Menyiksa di Era Tiongkok Kuno

Karena pada saat itu harga beras melonjak tinggi, dan lahan pertanian hancur terkena perang. Kemudian mereka mendapat ide untuk memanfaatkan jagung saja mengingat harganya yang cukup murah. 

Lalu masyarakat miskin mulai menanam jagung yang bisa tumbuh dan cepat berkembang bahkan di tempat kering bekas perang sekalipun. 

Mengingat ada banyak rakyat miskin yang berkumpul mereka berpikir untuk menggandakan jagung-jagung yang sudah ada. 

Masyarakat miskin menemukan inovasi untuk menggandakan jagung dengan menggiling biji-biji jagung tersebut, kemudian merebusnya dengan mencampur bersama begitu banyak air. 

Baca juga: Kisah Monster Laut Perairan Edo di Masa Politik Isolasi Keshogunan Tokugawa

Walaupun rasanya terbilang hambar tetapi hal itu cukup untuk mengatasi kelaparan. 

Selama beberapa bulan mereka makan makanan ini, karena kurangnya nutrisi pada bubur jagung tersebut hingga menyebabkan berbagai macam penyakit seperti sembelit. 

Lalu mereka menamainya sebagai bubur jagung kasar. Jika tidak ada jagung, bisa dipastikan penduduk Cina akan sangat sedikit jumlahnya. Bubur jagung kasar tersebut masih dilestarikan hingga saat ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube @DennisAcostaOFWVlogs, Buku: History Of Soybeans And Soyfoods In China And Taiwan, And In Chinese Cookbooks

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU