Potret pemimpin Mao Zedong & Chiang Kai-shek (orca.cardiff.ac.uk).
INDOZONE.ID - Perjalanan Cina memasuki abad ke-20 dipenuhi ketegangan, tetapi sedikit yang menyangka bahwa dua kekuatan yang pernah berdiri sejajar akhirnya saling menodongkan senjata.
Kisah pecahnya Partai Komunis Cina (PKC) dan Partai Nasionalis atau Kuomintang (KMT) sering digambarkan seperti drama panjang tanpa tokoh hitam-putih.
Mereka pernah berbagi musuh yang sama, Jepang, namun begitu bayang-bayang invasi itu pergi, yang tersisa justru tumpukan kecurigaan lama yang menunggu saat meledak.
Banyak orang saat itu mengira perang sudah berakhir, padahal yang mereka saksikan hanyalah jeda singkat sebelum konflik jauh lebih besar dimulai.
Pada 1930-an, ketika Jepang memperluas agresinya, PKC dan KMT terpaksa membentuk United Front.
Baca juga: Kaki Teratai Emas, Standar Kecantikan yang Menyiksa di Era Tiongkok Kuno
Banyak sejarawan menyebutnya “aliansi darurat” karena lahir dari rasa terancam, bukan kedekatan ideologi.
KMT berada pada posisi pemerintahan formal, sementara PKC bergerak dari desa ke desa dengan taktik gerilya.
Keduanya tahu mereka butuh satu sama lain, tetapi tidak pernah benar-benar saling percaya.
Selama perang, ketegangan itu hanya ditutup rapat oleh kebutuhan bertahan hidup, seperti kain tipis yang mudah robek oleh perbedaan strategi dan ambisi.
Begitu Jepang menyerah pada 1945, tirai penahan itu robek. Pertikaian ideologis yang sempat ditunda langsung muncul ke permukaan.
Baca juga: Kisah Monster Laut Perairan Edo di Masa Politik Isolasi Keshogunan Tokugawa
KMT di bawah Chiang Kai-shek membawa gagasan republik nasionalis yang ingin menstabilkan negara menggunakan birokrasi dan militer.
Sebaliknya, PKC yang dipimpin Mao Zedong menawarkan revolusi sosial yang menempatkan rakyat desa sebagai motor perubahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Journal Of Cold War Studies, Bill Of Rights In Action