INDOZONE.ID - Siapa nih yang sering lewat Jl. Wolter Mongisidi tapi nggak tahu siapa sosok di balik nama jalan itu? Tenang, kamu nggak sendirian! Nama ini emang sering muncul di papan jalan di berbagai kota kayak Jakarta, Semarang, Makassar, dan lainnya. Tapi ternyata, di balik nama itu ada sosok pahlawan muda Indonesia yang kisah perjuangannya bikin merinding. Namanya Robert Wolter Mongisidi, atau akrab dipanggil “Bote”.
Robert Wolter Mongisidi (sumber: Wikipedia)
Lahir di Manado, 14 Februari 1925, Bote adalah anak dari pasangan Petrus Mongisidi dan Lina Suawa. Kalau masih hidup, tahun ini usianya udah 100 tahun lho! Sejak kecil, Bote dikenal sebagai sosok yang berprinsip kuat, berani, dan punya wajah yang ganteng. Nggak heran kalau dia cukup gampang menyamar saat beraksi nanti.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari HIS (Hollandsch-Inlandsche School), lanjut ke MULO Flater, lalu akhirnya masuk sekolah guru bahasa Jepang di Tomohon pas zaman penjajahan Jepang. Setelah lulus, Bote sempat jadi guru bahasa Jepang, dan sempat ditugaskan di beberapa daerah sampai akhirnya menetap di Makassar.
Baca Juga: Tak Ada Nama Jalan Gajah Mada di Bandung: Dampak Sentimen Sunda-Jawa dari Perang Bubat
Tapi hidup Bote nggak cuma soal ngajar doang. Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, Belanda datang lagi ke Indonesia lewat NICA buat ngerebut kekuasaan. Bote yang udah terbakar semangat nasionalisme langsung gabung ke LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi) yang dipimpin Ranggong Daeng Romo. Di sinilah kisah heroik Bote dimulai.
Bote aktif dalam aksi-aksi gerilya melawan Belanda. Bahkan, dia sering nyamar jadi Polisi Militer Belanda demi ngumpulin informasi penting. Aksinya sukses bikin Belanda ketar-ketir. Tapi keberanian itu harus dibayar mahal. Pada 28 Februari 1947, Bote ditangkap oleh Belanda. Ia sempat kabur di bulan Oktober tahun itu juga, tapi ditangkap lagi. Kali ini, dia nggak bisa lolos lagi.
Pemakaman Robert Wolter Mongisidi (sumber: wikipedia)
Tepat 5 September 1949, di usia yang baru 24 tahun, Bote dijatuhi hukuman mati. Tapi yang bikin kisah ini makin bikin merinding adalah sikapnya di detik-detik terakhir. Bote menolak ditutup matanya, memegang Kitab Injil di tangan kiri, dan meneriakkan satu kata yang mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya: “MERDEKA!” Lalu peluru-peluru Belanda menembus tubuhnya. Ia gugur sebagai pejuang sejati.
Jasadnya awalnya dimakamkan di dekat lokasi eksekusi di Pacinang, lalu dipindahkan ke TMP Panaikang, Makassar, setahun kemudian. Dan setelah puluhan tahun berlalu, tepatnya 6 November 1973, pemerintah resmi menganugerahi Robert Wolter Mongisidi sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Baca Juga: Pemerintah Indonesia Pakai Nama Jalan Pahlawan, Ternyata biar Masyarakat Ingat
Yang bikin makin kagum? Di dalam Kitab Injil yang dia genggam saat ditembak, ditemukan tulisan tangan terakhirnya: “Setia hingga terakhir dalam keyakinan.”
Ini bukan cuma kisah sejarah, tapi juga tentang keberanian, idealisme, dan cinta tanah air yang nggak kenal takut. Jadi lain kali kamu lewat Jl. Wolter Mongisidi, ingat ya, itu bukan cuma nama jalan, itu adalah nama seorang pemuda yang berani mati demi merah putih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Books.google.co.id