INDOZONE.ID - Yunani Kuno dikenal sebagai salah satu peradaban paling berpengaruh dalam sejarah. Terbentang di sekitar Laut Aegea dan kawasan Mediterania, wilayah ini dihuni berbagai kota-negara dengan karakter politik, sosial, dan budaya yang unik.
Dua kekuatan terbesar, Athena dan Sparta, bersaing sengit untuk mendominasi wilayah tersebut, meski dengan prinsip yang sangat berbeda.
Athena, yang berlokasi di wilayah Attika, berkembang sebagai pusat kebudayaan, politik, dan intelektual. Kota ini menerapkan sistem demokrasi yang memberi hak partisipasi politik kepada warga laki-laki.
Baca Juga: Bukannya Kesal, Orang Kaya di Athena Kuno Sangat Gemar Membayar Pajak Bulanan
Sebaliknya, Sparta, yang menganut sistem oligarki, dikuasai oleh “Gerousia” atau Dewan Tua yang terdiri dari sekelompok bangsawan. Kekuasaan di Sparta berpusat pada disiplin militer yang ketat dan hukum yang keras.
Persaingan antara kedua kota besar ini akhirnya memuncak dalam konflik yang tercatat dalam sejarah sebagai Perang Peloponnesos.
Sejarawan Yunani Thucydides mendokumentasikan perang panjang ini dalam karyanya, The History of the Peloponnesian War, dengan pandangan bahwa ketegangan bermula dari kekhawatiran Sparta terhadap perkembangan kekuatan maritim Athena.
Konflik ini terbagi dalam tiga fase besar:
Perang dimulai ketika Athena menyerang wilayah Megara, yang merupakan sekutu Sparta, pada 431 SM. Menanggapi serangan ini, Raja Archidamus II dari Sparta memimpin invasi ke wilayah Athena di Attika.
Konflik ini, yang berlangsung selama satu dekade, diwarnai oleh serangan dan balasan di kedua belah pihak hingga tercapai gencatan senjata sementara.
Pada fase kedua, Athena melibatkan diri dalam konflik di Sisilia dengan mendukung kota Segesta melawan Syracuse, sekutu kuat Sparta. Ekspedisi militer Athena di Sisilia ternyata tidak berjalan sesuai rencana.
Baca Juga: Berusia 80 Tahun, Raja Agesilaus dari Sparta Ini Masih Kuat Bertempur dan Melawan Musuh
Mereka menghadapi perlawanan keras dari pasukan Syracuse yang dipimpin jenderal Hermokrates. Kekalahan besar di Sisilia melemahkan Athena dan mengganggu stabilitas militernya.
Memanfaatkan kelemahan Athena setelah kekalahan di Sisilia, Sparta kembali menyerang dengan taktik baru. Mereka menduduki Dekeleia, sebuah kota penting di Attika, dan memblokade jalur pasokan Athena. Kondisi ini membuat Athena semakin melemah baik secara sosial maupun politik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Internasional