Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 12 MEI 2026 • 13:08 WIB

Mengenal Tradisi Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu Jelang Waisak

Mengenal Tradisi Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu Jelang WaisakBiksu mengikuti Pradaksina di Borobudur (Heri nugroho (commons.wikimedia.org))

INDOZONE.ID - Sebanyak 36 biksu dilaporkan telah tiba di Kendal dan singgah untuk bermalam di Gereja Santo Antonius Padua sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur dalam rangka menyambut perayaan Hari Raya Waisak.

Perjalanan kaki menempuh ratusan kilometer tersebut dikenal dalam tradisi Buddhis dengan istilah thudong

Tradisi ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan memiliki makna spiritual yang erat kaitannya dengan penerapan ajaran Buddha Gautama. 

Baca juga: Makna Hari Waisak 2025: Cahaya Kelahiran Buddha, Misteri Naskah Kuno, dan Pesan Damai untuk Dunia

Lantas, seperti apa tradisi thudong dan pelaksanaannya? Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai tradisi thudong di bawah ini!

Apa Itu Thudong?

Tradisi Thudong merupakan praktik hidup sederhana yang dijalankan para biksu dengan berpegang pada tiga dari Empat Kebutuhan Pokok (paccaya), yakni jubah, makanan, dan tempat berlindung.

Dilansir Access to Insight, praktik ini telah berlangsung lebih dari 2.500 tahun dan masih dijalankan oleh para bhikkhu di berbagai negara hingga sekarang. Meski begitu, catatan sejarah mengenai tradisi tersebut tidak terlalu banyak ditemukan.

Di Thailand, misalnya, sejumlah dokumen kuno bernuansa religius maupun sekuler ikut musnah saat ibu kota Ayutthaya mengalami kebakaran pada tahun 1767. 

Namun, jauh sebelum peristiwa itu terjadi, keberadaan para bhikkhu Araññika atau pertapa penghuni hutan sudah banyak dikenal dalam tradisi Buddhis.

Dalam praktiknya, para biksu menjalani kehidupan yang membuat mereka harus menghindari segala aktivitas yang berkaitan dengan unsur duniawi. 

Praktik tersebut juga dijalankan dengan cara menjauh dari keramaian, tinggal di kawasan hutan, serta memperoleh makanan melalui tradisi pindapata atau berkeliling dari rumah ke rumah.

Dalam perjalanan Thudong, para biksu biasanya hanya membawa perlengkapan sederhana seperti mangkuk pindapatta, payung, maupun tenda kecil. 

Mereka pun mengenakan jubah secukupnya dan membawa barang seperlunya selama perjalanan spiritual berlangsung.

Pelaksanaan Thudong bertujuan melatih kesabaran dan pengendalian diri yang dalam ajaran Buddha dianggap sebagai bagian penting dari praktik dharma. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Acces To Insight

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Tradisi Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu Jelang Waisak

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!