INDOZONE.ID - Kisah Unit 731 menjadi salah satu sejarah paling kelam dalam Perang Dunia II. Unit rahasia militer Jepang ini dikenal melakukan berbagai eksperimen kejam terhadap manusia, akan tetapi banyak pelakunya justru tidak pernah diadili sebagai penjahat perang.
Fakta inilah yang hingga kini terus memicu perdebatan dan kontroversi.
Berdasarkan laman Pacific Atrocities, Selasa (14/04/2026) Unit 731 melakukan eksperimen terhadap ribuan manusia yang disebut sebagai “maruta”.
Baca juga: Fakta Unit 731: Eksperimen Sadis Tentara Jepang terhadap Warga Cina Berkedok Penelitian Epidemi
Korbannya mencakup pria, wanita, anak-anak, bahkan ibu hamil. Eksperimen yang dilakukan sangat ekstrem, seperti:
Mengutip sumber tersebut, jumlah korban tewas diperkirakan mencapai puluhan ribu, bahkan total dampaknya bisa mencapai ratusan ribu jiwa.
Dikutip dari Pacific Atrocities, Unit 731 merupakan bagian dari program rahasia Jepang untuk mengembangkan senjata biologis dan kimia. Mereka menyamarkan aktivitasnya sebagai unit pencegahan epidemi.
Namun di balik itu, eksperimen dilakukan untuk memahami efek penyakit, cedera, hingga batas kemampuan tubuh manusia dalam kondisi ekstrem.
Baca juga: Ngerinya Unit 731, Manusia Jadi Kelinci Percobaan: Disiksa hingga Dibekukan
Dibalik eksperimen tersebut, ada sisi gelap yang sampai saat ini masih jadi perbincangan. Salah satu pertanyaan terbesar adalah mengapa para pelaku, termasuk pimpinan seperti Shiro Ishii, tidak diadili setelah perang berakhir?
Berdasarkan berbagai laporan yang dikutip dari Pacific Atrocities, jawabannya berkaitan dengan kepentingan politik dan militer.
Setelah Jepang menyerah pada 1945, Amerika Serikat memilih memberikan kekebalan hukum kepada anggota Unit 731.
Sebagai gantinya, mereka diminta menyerahkan seluruh data hasil eksperimen kepada militer AS.
Baca juga: Unit Rahasia Jepang '731', Membunuh Ribuan Tawanan Sebagai Percobaan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pacific Atrocities