Ilustrasi Dancing Cat Disease (Freepik)
INDOZONE.ID - Dancing cat disease merupakan sebuah tragedi yang pernah menggemparkan warga di Minamata, Jepang, pada tahun 1950-an.
Fenomena ini bermula dari perilaku aneh kucing-kucing di wilayah tersebut yang tiba-tiba mengalami kejang, bergerak tak terkendali, hingga akhirnya mati.
Peristiwa ini kemudian menjadi awal dari salah satu bencana kesehatan paling mengerikan dalam sejarah Jepang.
Berdasarkan laman Mental Floss, Selasa (14/04/2026) warga Minamata mulai menyadari ada yang tidak beres ketika kucing-kucing liar maupun peliharaan menunjukkan gejala tidak biasa.
Baca juga: Kenapa Kucing Tiba-Tiba Mogok Makan, Ini Sebabnya
Mereka kejang-kejang, mengeluarkan suara aneh, dan bergerak seperti “menari” dengan gerakan tersentak.
Beberapa di antaranya bahkan berlari tanpa arah hingga jatuh ke laut dan mati. Karena perilaku ini, warga menyebut fenomena tersebut sebagai “Dancing Cat Disease”.
Tidak lama setelah kejadian pada hewan tersebut, gejala serupa mulai dialami oleh manusia. Penduduk mengalami gangguan saraf seperti tremor, kesulitan berbicara, hingga kehilangan kendali tubuh.
Dalam kasus yang lebih parah, kondisi ini menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Selain itu, banyak bayi lahir dengan cacat akibat paparan zat beracun yang sama.
Baca juga: 4 Fakta Ilmiah tentang Cara Kucing Berkomunikasi dengan Manusia, Ternyata Penuh Makna
Setelah penyelidikan panjang, penyebab tragedi ini akhirnya terungkap. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Mental Floss, sumber masalah berasal dari aktivitas Chisso Corporation.
Perusahaan tersebut membuang limbah kimia yang mengandung merkuri ke Teluk Minamata selama bertahun-tahun. Di perairan, merkuri ini berubah menjadi metilmerkuri, zat yang sangat beracun.
Zat tersebut masuk ke rantai makanan: diserap oleh organisme kecil, dimakan ikan, lalu dikonsumsi oleh kucing dan manusia. Inilah yang menyebabkan keracunan massal.
Baca juga: Mitos atau Fakta: Kucing Bisa Mabuk Perjalanan saat Mudik Lebaran?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mental Floss