Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 31 AGUSTUS 2025 • 20:30 WIB

Metode Unik Pemberontakan Tanpa Sentuh Fisik: Gerakan Saminisme dalam Kebudayaan Orang Samin

Metode Unik Pemberontakan Tanpa Sentuh Fisik: Gerakan Saminisme dalam Kebudayaan Orang SaminPatung Ki Samin Surosentiko di Desa Sambongrejo, Blora, Jawa Tengah. Desa ini adalah salah satu masyarakat Sedulur Sikep tinggal sebagai petani. (sumber: nationalgeographic.grid.id)

INDOZONE.ID - Pernahkah kamu mendengar tentang Masyarakat Samin? Masyarakat Samin merupakan sekelompok masyarakat yang menganut ajaran Saminisme, yang berasal dari seorang tokoh bernama Samin Surosentiko. Ajaran ini muncul sebagai reaksi terhadap Pemerintah Kolonial Belanda yang semena-mena terhadap orang pribumi. Perlawanan Masyarakat Samin berbentuk pemberontakan terhadap segala peraturan dan kewajiban dari Pemerintah Belanda kepada rakyat kala itu.

Gerakan Samin merujuk pada gerakan pemberontakan kaum tani di tanah Jawa yang digagas oleh Samin Surosentiko, seorang petani dari Desa Randublatung, Blora. Pada tahun 1905–1930, gerakan ini cukup menarik perhatian Pemerintah Kolonial Belanda dan membuat para pejabat marah. Sebab, cara-cara orang Samin melawan peraturan Pemerintah Belanda adalah dengan menolak pajak, politik etis, kerja paksa, dan kebijakan negara lainnya. Gerakan Samin menjadi salah satu cerita sejarah yang terkenal akan keunikannya, sebab perlawanannya tidak melalui kekerasan.

Baca juga: Jejak Seni Kristen di Indonesia: Ketika Iman Bertemu Tradisi Lokal

Samin diyakini memiliki sifat-sifat seperti Werkudara, yakni kasar namun dalam hatinya jujur, murah hati, luhur, dan sabar. Mengutip literatur A. Widyarsono dalam jurnalnya yang berjudul Gerakan Samin: Perlawanan Rakyat Tanpa Kekerasan, tertulis dalam laporan resmi Pemerintah Kolonial bahwa protes yang digaungkan melalui Gerakan Samin ini tergolong lijdelijk verzet, artinya perlawanan yang berjalan dengan tenang tanpa kekerasan.

Ciri khas perlawanan orang Samin ialah dengan pura-pura tidak mengerti dan menggunakan bahasa sebagai alat utama perlawanannya. Salah satu bentuk perlawanan kaum Samin yang terkenal adalah pemberhentian pembayaran pajak. Tidak semua kelompok Samin menolak menyerahkan uang kepada pemerintah, tetapi alih-alih dimaksudkan sebagai pembayaran pajak, masyarakat Samin memandang bahwa pembayaran tersebut tergolong zakat fitrah. Dengan demikian, tidak ada paksaan dan kewajiban untuk membayar pajak, tetapi kemudian pajak dimaknai sebagai sumbangan sukarela, di mana penarik pajak lebih dipandang sebagai pengemis.

Metode Unik Pemberontakan Tanpa Sentuh Fisik: Gerakan Saminisme dalam Kebudayaan Orang SaminPohon jati besar (Tectona grandis) yang didorong oleh Gerakan Samin untuk dimanfaatkan penduduk Blora sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. (sumber: Wikimedia Commons)

Orang Samin juga melakukan boikot terhadap kewajiban-kewajiban desa, termasuk penolakan untuk turut bertugas jaga malam dengan berbagai alasan, seperti argumen bahwa mereka telah sibuk menjaga istri dan anak-anak mereka. Bahkan apabila mereka melakukan pekerjaan desa, masyarakat Samin akan menganggapnya sebagai tindakan sukarela tanpa paksaan.

Selain boikot, masyarakat Samin juga melakukan pemberontakan melalui cara yang unik. Misalnya, ketika aparat desa mengharuskan setiap penduduk mengirim batu besar, orang Samin justru mengirimkan kerikil, bahkan beberapa hanya 2 atau 3 kerikil, diletakkan di rumah atau tempat-tempat yang tidak berarti, hanya sebagai formalitas agar “perintah terpenuhi”. Pada dasarnya, hal ini merupakan perlawanan dengan mencari celah dari perintah penguasa, atau dengan sengaja membuat para penguasa lelah menghadapi masyarakat Samin.

Baca juga: Serat Nitipraja warisan Sultan Agung Hanyakrakusuma sebagai pedoman pemimpin Indonesia

Perlawanan tanpa kekerasan ini patut diapresiasi, sebab melibatkan tingkat kesabaran yang tinggi. Sering kali pejabat desa atau polisi desa justru yang kehilangan kesabaran, sementara kaum Samin tetap sabar. Mereka melakukan pemberontakan tanpa mengeluh ataupun banyak berbicara, bahkan membiarkan para pejabat pemerintah melakukan apa saja, termasuk mengambil harta milik mereka.

Masyarakat Samin melakukan pemberontakan ini dengan dasar beberapa hal, seperti pajak yang semakin memberatkan rakyat, banyaknya pengeluaran para petani, perlawanan terhadap ketimpangan ekonomi secara umum, serta penutupan hutan jati oleh pemerintah yang merupakan hunian masyarakat Samin. Rusaknya nilai dan ikatan tradisional masyarakat Samin akibat pengaruh kolonial juga menjadi salah satu alasan mengapa kaum Samin melakukan perlawanan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Journal.uii.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Metode Unik Pemberontakan Tanpa Sentuh Fisik: Gerakan Saminisme dalam Kebudayaan Orang Samin

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!