Cognitive Bias di Kasus Juri Cerdas Cermat, Guru Besar UI: Einstein Pun Mau Mengakui Salah Kalau Keliru
INDOZONE.ID - Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang melibatkan juri dan siswi SMAN 1 Pontianak mendapat sorotan dari Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Indonesia, Agustino Zulys.
Professor Zulys menilai polemik tersebut tidak semata soal benar atau salah dalam perlombaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana manusia rentan terhadap cognitive bias atau bias berpikir, terutama ketika berada dalam posisi otoritas.
“Bukan peserta yang salah jawab, tapi ketika jawaban benar, dikalahkan oleh ego juri. Secara sains, manusia itu memang tidak objektif sepenuhnya,” ujarnya seperti yang dilihat di akun Instagramnya.
Menurutnya, secara neurosains, otak manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan keyakinannya sendiri, terlebih ketika seseorang sudah dianggap ahli, senior, juri, atau memiliki jabatan tertentu.
Baca juga: Penjelasan Profesor MIPA UI Terkait Ego Juri Cerdas Cermat yang Anti Kritik Secara Ilmiah
“Otak kita punya sesuatu yang disebut cognitive bias, bias berpikir. Apalagi ketika seseorang sudah dianggap ahli, senior, juri, atau punya jabatan. Otak manusia cenderung otomatis menganggap pendapatnya benar,” kata Professor Zulys.
Ia menegaskan bahwa dalam dunia ilmu pengetahuan, otoritas seseorang tidak otomatis menjadikan pendapatnya selalu benar. Inti dari sains, kata dia, adalah validitas data dan keterbukaan terhadap koreksi.
“Padahal dalam realitasnya, doktor, profesor, ilmuwan besar bisa salah. Karena inti sains bukan siapa yang bicara. Tapi apakah datanya benar?” lanjutnya.
Professor Zulys juga menjelaskan adanya mekanisme lain bernama confirmation bias, yakni kecenderungan manusia mencari pembenaran terhadap pendapatnya sendiri. Hal itu membuat seseorang lebih mudah defensif ketika dikoreksi di depan umum.
Baca juga: Fakta di Balik Emas Monas dan Asal-usulnya: Termasuk Nasib Tragis Sang Penyumbang
“Makanya ketika dikoreksi di depan umum, otak menganggap itu seperti ancaman. Tubuh langsung merespon, adrenalin naik, emosi meningkat, logika prefrontal cortex menurun sementara,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak orang sulit mengakui kesalahan karena ego dan respons emosional mengambil alih logika berpikir.
Padahal, lanjutnya, esensi ilmu pengetahuan justru terletak pada keterbukaan terhadap kritik dan kemungkinan salah jika ditemukan teori yang lebih baik.
“Padahal justru, sains sejati sangat rendah hati. Boleh diuji, boleh jadi salah jika ditemukan teori baru yang lebih baik,” ucapnya.
Ia kemudian menyinggung konsep falsifikasi dari filsuf ilmu Karl Popper yang menegaskan bahwa teori ilmiah harus terbuka untuk diuji dan dibantah.
“Inilah yang disebut filsuf terkenal Karl Popper sebagai konsep falsifikasi,” katanya.
Sebagai contoh, Professor Zulys mengingatkan bahwa ilmuwan besar seperti Albert Einstein pun pernah merevisi pandangannya seiring perkembangan ilmu pengetahuan.
“Albert Einstein pernah merevisi pendapatnya. Teori atom diperbarui dari postulat Dalton sampai mekanika kuantum. Karena ilmu terus berkembang, disalahkan bukan gengsi, tapi menjadi koreksi,” ujarnya.
Ia menilai kasus dalam lomba tersebut menjadi pengingat bahwa siapa pun, termasuk juri atau pihak yang memiliki posisi lebih tinggi, tetap bisa melakukan kekeliruan.
“Kalau di lomba cerdas cermat saja juri bisa salah, apalagi di media sosial yang bebas berekspresi,” katanya.
Professor Zulys juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut menyampaikan pendapat berbeda selama dilakukan dengan sopan, berbasis data, dan tetap menghormati pihak lain.
“Dan untuk para peserta pemuda, jangan takut berbeda pendapat dengan orang yang lebih tinggi posisi. Asal disampaikan dengan adab, data, dan saling menghormati,” tuturnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa kecerdasan seorang ilmuwan bukan diukur dari ketidaksempurnaannya, melainkan dari kesediaannya menerima koreksi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram