Rabu, 13 MEI 2026 • 09:26 WIB

Psikoanalisis Serial Killer Menurut Sigmund Freud: Ketika Dorongan Bawah Sadar Menguasai Pikiran

Author

Ilustrasi Sigmund Freud dan pembunuh berantai (Gemini AI)

INDOZONE.ID - Teori psikoanalisis yang dikembangkan Sigmund Freud menjadi salah satu pendekatan paling terkenal dalam memahami perilaku manusia, termasuk tindakan kriminal ekstrem seperti pembunuhan berantai atau serial killer

Freud meyakini bahwa perilaku manusia tidak hanya dikendalikan oleh pikiran sadar, tetapi juga oleh alam bawah sadar yang menyimpan dorongan, trauma, dan konflik psikologis sejak masa kecil.

Struktur kepribadian ala Sigmund Freud: Id, Ego, Superego

Dalam teori psikoanalisisnya, Freud membagi struktur kepribadian manusia menjadi tiga bagian utama, yaitu id, ego, dan superego. Id merupakan bagian paling dasar yang berisi dorongan naluriah, agresi, dan hasrat primitif manusia. 

Ego berfungsi sebagai penengah yang mencoba menyesuaikan dorongan tersebut dengan realitas sosial. Sementara superego berkaitan dengan moral, nilai, dan hati nurani seseorang.

Baca juga: Henry Howard Holmes: Serial Killer yang Menginspirasi Game The Devil in Me

Menurut Freud, ketika keseimbangan antara ketiga unsur tersebut terganggu, perilaku manusia dapat berubah menjadi destruktif. Dalam konteks serial killer, sejumlah ahli psikologi mencoba menjelaskan bahwa dominasi dorongan agresif dari id, ditambah lemahnya kontrol ego dan superego, dapat memicu tindakan kekerasan ekstrem.

Id: Dorongan Naluriah dan Keinginan Dasar

Dalam teori psikoanalisis Sigmund Freud, id merupakan bagian paling dasar dari kepribadian manusia. Freud menggambarkan id sebagai sumber dari seluruh dorongan biologis dan naluri yang sudah ada sejak seseorang lahir. Bagian ini bekerja secara spontan dan tidak mempertimbangkan aturan sosial, moral, ataupun konsekuensi jangka panjang.

Id bekerja berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle). Artinya, setiap dorongan yang muncul ingin segera dipenuhi saat itu juga. Ketika seseorang lapar, marah, takut, atau menginginkan sesuatu, id akan mendorong tubuh dan pikiran untuk segera mendapatkan kepuasan tanpa berpikir panjang.

Karena itu, id sering dianggap sebagai sisi paling primitif dalam diri manusia. Ia bersifat impulsif, emosional, dan tidak logis. Id tidak mengenal konsep benar atau salah. Yang terpenting baginya hanyalah bagaimana keinginan dapat terpenuhi secepat mungkin.

Freud percaya bahwa id berada sepenuhnya di alam bawah sadar. Banyak dorongan manusia muncul tanpa benar-benar disadari asal-usulnya. Misalnya rasa marah yang tiba-tiba meledak, keinginan untuk melarikan diri dari tekanan, atau dorongan mencari kesenangan tertentu.

Baca juga: Deretan Pembunuh Berantai yang Paling Banyak Disorot di Era-1970-an

Contoh paling sederhana dari kerja id dapat dilihat pada anak kecil. Ketika lapar, seorang anak akan langsung menangis keras tanpa memedulikan waktu atau situasi di sekitarnya. Ia tidak berpikir apakah orang lain sedang tidur atau sibuk. Baginya, rasa lapar harus segera dipenuhi. Respons spontan seperti itulah yang menurut Freud berasal dari id.

Ego: Penengah antara Keinginan dan Realitas

Seiring bertambahnya usia, manusia mulai memahami bahwa tidak semua keinginan bisa dipenuhi secara instan. Dari sinilah ego mulai berkembang. Dalam teori Freud, ego berfungsi sebagai penengah antara dorongan id dengan kenyataan dunia luar.

Jika id selalu berkata, “Aku ingin sekarang juga,” maka ego akan mencoba mencari cara yang lebih aman, realistis, dan dapat diterima lingkungan. Karena itu, ego bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle).

Ego membantu seseorang berpikir lebih rasional. Ia mempertimbangkan risiko, konsekuensi, dan situasi sebelum seseorang mengambil tindakan. Ego tidak sepenuhnya menolak keinginan id, tetapi mencoba mengaturnya agar tidak menimbulkan masalah.

Misalnya, seseorang merasa sangat marah kepada atasannya di tempat kerja. Dorongan id mungkin membuatnya ingin langsung berteriak atau meluapkan emosi saat itu juga. Namun ego hadir sebagai pengendali yang mengingatkan bahwa tindakan tersebut bisa berujung pada konflik atau bahkan kehilangan pekerjaan.

Akhirnya, ego mencoba mencari jalan yang lebih aman, seperti menenangkan diri terlebih dahulu, berbicara baik-baik, atau menyampaikan keberatan secara profesional. Dalam kehidupan sehari-hari, ego sering kali bekerja tanpa disadari sebagai “penengah” yang membantu manusia tetap bisa hidup berdampingan dengan aturan sosial.

Freud melihat ego sebagai bagian penting yang menjaga keseimbangan mental seseorang. Jika ego terlalu lemah, seseorang bisa menjadi impulsif dan sulit mengontrol emosi. Sebaliknya, jika ego terlalu tertekan, seseorang dapat mengalami kecemasan atau konflik batin berkepanjangan.

Baca juga: Kisah Serial Killer Robert Pickton: Peternak yang Ubah Mayat Manusia Jadi Pakan Babi

Superego: Moral dan Hati Nurani

Berbeda dengan id yang penuh dorongan naluriah, superego merupakan bagian kepribadian yang berkaitan dengan moral, etika, dan hati nurani. Superego berkembang dari pengalaman hidup, pola asuh orang tua, ajaran agama, budaya, serta norma sosial yang dipelajari seseorang sejak kecil.

Deretan pembunuh berantai berzodiak gemini (Wikipedia, murderpedia)

Superego berfungsi sebagai “suara moral” dalam diri manusia. Ia menilai apakah suatu tindakan dianggap benar atau salah. Ketika seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai moralnya, superego dapat memunculkan rasa bersalah, malu, atau penyesalan.

Freud membagi superego menjadi dua bagian. Pertama adalah conscience atau hati nurani, yaitu bagian yang membuat seseorang merasa bersalah ketika melakukan kesalahan. Kedua adalah ideal self, yaitu gambaran tentang sosok ideal yang ingin dicapai seseorang dalam hidupnya.

Superego sering kali bertentangan dengan id. Jika id mendorong manusia mencari kepuasan dan kesenangan, maka superego justru menuntut kesempurnaan moral dan pengendalian diri.

Contohnya bisa dilihat ketika seseorang menemukan dompet berisi uang di jalan. Id mungkin mendorongnya untuk mengambil uang tersebut demi keuntungan pribadi. Namun superego akan mengingatkan bahwa tindakan itu salah dan tidak sesuai dengan nilai moral.

Di tengah konflik itu, ego kemudian mencoba mencari jalan tengah dengan cara mencari pemilik dompet atau menyerahkannya kepada pihak berwenang. Dari contoh sederhana ini, Freud menunjukkan bagaimana ketiga struktur kepribadian manusia saling bekerja dan memengaruhi perilaku sehari-hari.

Baca juga: Kisah Tsui Po-ko: Perampok dan Pembunuh Berantai dri Hong Kong yang Ternyata Polisi

Bagaimana Ketiganya Bekerja Bersama?

Menurut Freud, kehidupan manusia pada dasarnya selalu dipenuhi tarik-menarik antara id, ego, dan superego. Ketiganya tidak pernah benar-benar diam. Mereka terus saling memengaruhi dalam setiap keputusan, emosi, dan tindakan manusia.

Id mendorong manusia mengejar kepuasan dan kesenangan. Superego menuntut moralitas dan kesempurnaan. Sementara ego berada di tengah-tengah, mencoba menjaga keseimbangan agar seseorang tetap dapat hidup secara realistis di dunia sosial.

Ketika keseimbangan ini berjalan baik, seseorang cenderung mampu mengontrol emosi dan membuat keputusan secara sehat. Namun jika salah satu terlalu dominan, konflik psikologis dapat muncul.

Misalnya, dominasi id dapat membuat seseorang bertindak impulsif dan agresif. Sebaliknya, superego yang terlalu kuat bisa membuat seseorang terlalu keras terhadap dirinya sendiri, mudah merasa bersalah, atau mengalami kecemasan berlebihan.

Karena itu, Freud percaya kesehatan mental manusia sangat dipengaruhi oleh kemampuan ego dalam menyeimbangkan dorongan naluriah dan tuntutan moral.

Analogi Sederhana Freud

Untuk memudahkan pemahaman, teori Freud sering dianalogikan seperti sebuah keluarga kecil dalam diri manusia.

Ilustrasi Sigmund Freud dan pembunuh berantai (Gemini AI)

Id diibaratkan seperti anak kecil yang selalu menginginkan sesuatu secara instan tanpa memikirkan akibatnya. Superego seperti sosok orang tua yang penuh aturan dan nasihat moral. Sedangkan ego bertindak sebagai penengah yang mencoba membuat keduanya tetap seimbang agar tidak menimbulkan konflik besar.

Baca juga: Joseph Kallinger, Serial Killer dengan Delusi Religius yang Membunuh Anaknya Sendiri

Melalui teori ini, Freud ingin menunjukkan bahwa manusia bukan hanya makhluk rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh dorongan bawah sadar, emosi, dan konflik batin yang sering kali tidak disadari.

Alam Bawah Sadar dan Dorongan Agresi

Freud percaya bahwa manusia memiliki dorongan bawah sadar yang disebut death drive atau naluri destruktif. Naluri ini berkaitan dengan agresi, kekerasan, dan keinginan merusak. Dalam kondisi psikologis tertentu, dorongan tersebut dapat muncul secara ekstrem apabila tidak mampu dikendalikan oleh ego maupun superego.

Pada pelaku pembunuhan berantai, teori psikoanalisis melihat bahwa tindakan mereka bukan sekadar kejahatan spontan, tetapi bisa menjadi hasil dari konflik psikologis yang berlangsung lama. Trauma masa kecil, kekerasan dalam keluarga, penolakan sosial, hingga pengalaman emosional yang buruk dapat tersimpan di alam bawah sadar dan berkembang menjadi dorongan agresif.

Freud juga menilai bahwa pengalaman masa kecil memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Jika seseorang mengalami kegagalan dalam perkembangan psikologis atau mengalami trauma berat sejak kecil, hal tersebut dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam mengontrol impuls dan emosi saat dewasa.

Ketika Id Menguasai Kepribadian

Dalam pendekatan Freud, serial killer sering digambarkan sebagai individu yang terlalu didominasi oleh id. Bagian kepribadian ini bekerja berdasarkan prinsip kesenangan dan pemuasan insting tanpa mempertimbangkan moral maupun konsekuensi.

Sementara itu, ego yang seharusnya menjadi penyeimbang dinilai gagal mengendalikan dorongan agresif tersebut. Superego yang berfungsi sebagai “kompas moral” juga dianggap lemah sehingga pelaku tidak memiliki rasa bersalah yang kuat terhadap tindakan kekerasannya.

Baca juga: Kisah Serial Killer Robert Pickton: Peternak yang Ubah Mayat Manusia Jadi Pakan Babi

Dalam beberapa kasus serial killer, pelaku bahkan mampu melakukan pembunuhan secara berulang tanpa menunjukkan empati terhadap korban. Dari sudut pandang psikoanalisis, kondisi ini dapat dipahami sebagai kegagalan perkembangan moral dan emosional yang terjadi sejak lama.

Sebuah penelitian berjudul Freud's Approach to a Serial Murder yang diterbitkan dalam jurnal Korea Association of Public Safety and Criminal Justice menyebut bahwa mekanisme psikologis serial killer dapat dijelaskan melalui konsep libido, naluri destruktif, ketidakseimbangan id, ego, superego, serta penggunaan mekanisme pertahanan diri yang menyimpang.

Trauma Masa Kecil dan Pembentukan Kepribadian

Banyak penelitian psikologi kriminal modern menemukan bahwa sejumlah pelaku pembunuhan berantai memiliki latar belakang masa kecil yang penuh kekerasan, pelecehan, atau penelantaran. Dalam teori Freud, pengalaman traumatis tersebut tidak benar-benar hilang, melainkan ditekan ke alam bawah sadar.

Trauma yang tidak terselesaikan dapat muncul kembali dalam bentuk perilaku agresif, fantasi kekerasan, atau dorongan untuk mengontrol orang lain. Freud menyebut proses ini sebagai repression atau represi, yaitu ketika pikiran menekan pengalaman menyakitkan ke bawah sadar namun tetap memengaruhi perilaku seseorang.

Meski begitu, teori Freud juga banyak mendapat kritik dari psikologi modern karena dianggap sulit dibuktikan secara ilmiah. Beberapa konsep seperti id, ego, dan superego dinilai terlalu abstrak dan tidak mudah diukur secara empiris. Namun, pemikiran Freud tetap dianggap penting karena menjadi dasar berkembangnya ilmu psikologi dan psikoanalisis modern.

Psikoanalisis dan Upaya Memahami Kejahatan

Psikoanalisis tidak bertujuan membenarkan tindakan serial killer, melainkan mencoba memahami faktor psikologis yang mungkin memengaruhi perilaku mereka. Pendekatan ini membantu melihat bahwa tindakan kriminal ekstrem sering kali berkaitan dengan kombinasi trauma, gangguan emosi, lingkungan, dan konflik batin yang kompleks.

Dalam perkembangan psikologi modern, teori Freud memang tidak lagi digunakan secara mutlak untuk menjelaskan perilaku kriminal. Namun konsep alam bawah sadar, trauma masa kecil, serta konflik batin masih menjadi bagian penting dalam studi psikologi dan kriminalitas hingga sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ebsco.com, Britannica

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU