Senin, 11 MEI 2026 • 17:26 WIB

Kaki Gunung Ciremai Punya Jejak Gempa Purba Berusia 20 Ribu Tahun

Author

BRIN temukan bukti gempa purba berusia 20 ribu tahun di kaki Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. (Dok. Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Kemenhut.)

INDOZONE.ID - Peneliti BRIN menemukan bukti aktivitas tektonik dan vulkanik berusia puluhan ribu tahun di wilayah Lingkar Timur Kuningan, kaki Gunung Ciremai.

Temuan ini didasarkan pada carbon dating dan pemetaan LiDAR presisi tinggi terhadap endapan vulkanik purba, dan implikasinya langsung menyentuh keamanan permukiman warga sekitar.

Tim Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN menemukan anomali geologi yang tidak biasa di jalur Lingkar Timur Kuningan.

Ketua tim, Sonny Aribowo, menjelaskan, lalui metode carbon dating pada endapan di jalur Lingkar Timur Kuningan, ditemukan fakta geologi yang unik.

“Fakta tersebut yaitu, endapan berumur 22.000 tahun (22 ka) berada di atas endapan berumur 20.000 tahun (20 ka)," ujarnya dikutip dari laman BRIN, Senin (11/5/2026).

Dalam kondisi normal, lapisan yang lebih tua seharusnya berada di bawah.

Kalau yang lebih tua justru ada di atas, ada sesuatu yang mendorongnya, dan itu yang disebut sesar naik.

Baca juga: Foto Indah dan Menakjubkan Bulan NASA Artemis 2 Ungkap Warna yang Tak Terlihat Mata

Baca juga: 5 Fakta Ilmiah Asal Air di Bumi, Ternyata Berkaitan dengan Luar Angkasa

Jejak Gempa Besar

Sonny menegaskan ini adalah bukti konkret aktivitas tektonik yang terjadi setelah periode 20.000 tahun lalu.

"Selain sesar naik, ditemukan juga bukti sesar normal pada endapan berumur sekitar 16.000 tahun, yang mengindikasikan adanya fase penyeimbangan sedimen setelah tekanan tektonik besar, atau kemungkinan jejak kejadian gempa bumi besar pada periode tersebut," jelasnya.

Dua jenis sesar dalam satu lokasi, dalam rentang waktu yang berdekatan.

Wilayah Kuningan dan sekitarnya punya sejarah tektonik yang jauh lebih kompleks dari yang selama ini terdokumentasi.

LiDAR Ungkap yang Mata Biasa Tak Bisa Lihat

Selain carbon dating, tim BRIN menggunakan teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging), yakni alat pemetaan laser yang mampu membaca kontur permukaan bumi menembus vegetasi lebat sekalipun.

Hasilnya, kemiringan lapisan dan patahan di morfologi lahan Kuningan terlihat sangat jelas.

"Data radiokarbon dan LiDAR ini memberikan pembaruan penting terhadap kronologi erupsi Gunung Ciremai. Temuan ini menunjukkan bahwa fase deformasi tektonik di wilayah Kuningan berlangsung beriringan dengan sejarah vulkanisme gunung tersebut," kata Sonny.

Riset ini juga mengidentifikasi bahwa erupsi Gunung Ciremai sudah terjadi sejak 40.800 tahun lalu hingga periode sejarah modern, rentang waktu yang sangat panjang dan belum sepenuhnya terpetakan sebelumnya.

Data yang dihasilkan BRIN bukan hanya untuk jurnal ilmiah. Sonny menekankan bahwa temuan ini punya kegunaan langsung untuk kebijakan tata ruang dan sistem peringatan dini.

"Harapannya, semakin banyak data umur batuan yang terganggu oleh aktivitas tektonik, maka periode perulangan dan sejarah kegempaan dapat diketahui dengan lebih baik. Dengan demikian, potensi bahaya gempa dan vulkanik dapat dievaluasi secara lebih baik untuk mendukung pembangunan di masa depan," ujar Sonny.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BRIN

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU