INDOZONE.ID - Orang Mesir kuno ternyata sudah pakai tip-ex untuk edit gambar. Penemuan ini ditemukan pada manuskrip kuno berusia sekitar 3.000 tahun yang dikenal sebagai Book of the Dead.
Fakta ini menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu, manusia sudah peduli dengan tampilan visual, bahkan dalam menggambar sosok dewa.
Di Indonesia, tip-ex dikenal sebagai cairan putih yang digunakan untuk menutupi kesalahan tulisan. Menariknya, konsep serupa ternyata sudah ada sejak ribuan tahun lalu di Mesir Kuno.
Bukti “Tip-ex” Kuno di Papirus Ramose
Berdasarkan laporan dari Discover Magazine, Kamis (16/04/2026) para peneliti menemukan pigmen putih yang digunakan untuk menutupi atau mengoreksi gambar pada papirus milik seorang pejabat tinggi bernama Ramose.
Papirus ini berasal dari era Kerajaan Baru sekitar abad ke-13 SM dan berisi teks pemakaman yang membantu perjalanan menuju alam baka.
Akan tetapi, yang mengejutkan adalah adanya tanda koreksi visual pada ilustrasi di dalamnya.
Mengutip penjelasan kurator Helen Strudwick dari Museum Fitzwilliam, pigmen putih tersebut diduga berfungsi seperti “Wite-Out” atau tip-ex untuk memperbaiki gambar.
Edit Gambar Agar Terlihat Lebih “Ideal”
Salah satu contoh menarik ditemukan pada ilustrasi dewa berkepala serigala, yang diyakini sebagai Wepwawet. Dalam gambar tersebut, terlihat garis pigmen putih di kedua sisi tubuh hewan.
Berdasarkan hasil analisis, pigmen ini digunakan untuk menutupi bagian tubuh asli dan membuat sosok tersebut tampak lebih ramping.
Mengutip Discover Magazine, seolah-olah sang seniman melihat gambar awal dan merasa bentuknya “terlalu gemuk”, lalu mengoreksinya agar lebih sesuai dengan standar visual yang diinginkan.
Baca juga: Lebih dari 43.000 Catatan Mesir Kuno Ditemukan, Isinya Ternyata Hal Remeh!
Teknologi Sederhana dengan Fungsi Mirip Modern
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa cairan putih tersebut terbuat dari campuran mineral seperti kalsit dan huntit. Komposisi ini membuat teksturnya cukup kental untuk menutupi warna asli di bawahnya.
Selain itu, pigmen ini juga mengandung bahan lain agar warnanya menyatu dengan papirus yang berwarna krem. Hal ini menunjukkan bahwa teknik koreksi visual sudah dipikirkan dengan cukup matang pada masa itu.
Bukan Sekadar Koreksi, Tapi Estetika
Menariknya, penggunaan tip-ex kuno ini tidak hanya untuk memperbaiki kesalahan, tetapi juga untuk tujuan estetika. Dalam konteks ini, gambar dewa bahkan “diedit” agar terlihat lebih ideal secara visual.
Penemuan serupa turut ditemukan pada papirus lain, termasuk ilustrasi dewa Osiris dan figur lain yang mengalami koreksi dengan pigmen putih.
Baca juga: Makna dan Mitos Mata Horus: Simbol Perlindungan dari Mesir Kuno
Obsesi Visual Sejak Zaman Kuno
Penemuan ini memperlihatkan bahwa keinginan untuk memperbaiki tampilan visual bukanlah hal baru. Bahkan 3.000 tahun lalu, manusia sudah memiliki standar estetika dan berusaha menyesuaikan gambar sesuai ekspektasi mereka.
Berdasarkan Discover Magazine, hal ini menjadi bukti bahwa perhatian terhadap detail visual, bahkan dalam konteks religius, sudah menjadi bagian penting dalam budaya Mesir Kuno.
Dengan kata lain, “edit gambar” ternyata bukan hanya fenomena era digital, tetapi sudah ada sejak peradaban kuno berkembang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Discover Magazine