INDOZONE.ID - Pada sejarah Mesir Kuno yang dipenuhi dengan nama-nama besar, ada satu penguasa yang seharusnya dikenang sejajar dengan para firaun paling berkuasa. Namanya Hatshepsut.
Hatshepsut bukan sekadar ratu Mesir, melainkan salah satu penguasa paling sukses yang pernah dimiliki Mesir. Namun anehnya, namanya justru nyaris dihapus dari sejarah, seolah keberadaannya adalah sebuah kesalahan yang tidak boleh diingat.
Baca juga: Sengkolo, Mitos Jawa yang Kembali Bergema Jadi Perbincangan Warganet
Hatshepsut hidup pada abad ke-15 sebelum masehi. Awalnya, posisinya tampak wajar dan sah. Ia merupakan istri Raja Thutmose II dan, menjadi wali atau queen regent (Thutmose III) setelah sang raja. Dalam tradisi Mesir, perempuan kerajaan memang kerap menjalankan peran tersebut. Mereka memerintah sementara, untuk menjaga stabilitas negara sampai sang raja dewasa dan siap berkuasa.
Namun, di sinilah cerita Hatshepsut mulai berbeda.
Alih-alih tetap berada di balik layar, Hatshepsut menyadari satu hal penting yakni, Mesir membutuhkan pemimpin yang kuat dan berpengalaman, bukan sekadar nama di atas takhta.
Baca juga: 5 Hantu Paling Ditakuti di Dunia, Salah Satunya Asli Indonesia: Jangan Sampai Ketemu!
Beberapa tahun kemudian, ia mengambil keputusan berani sekaligus berbahaya, menaikkan dirinya sendiri bukan lagi menjadi wali, melainkan sebagai penguasa penuh Mesir.
Masalahnya, dalam bahasa Mesir Kuno, tidak ada istilah untuk “ratu” seperti yang kita kenal sekarang. Yang ada hanyalah gelar “raja” atau “firaun”. Maka, untuk memerintah secara sah, Hatshepsut tidak punya pilihan selain menyebut dirinya raja, lengkap dengan gelar, simbol, dan ritual yang biasanya hanya dimiliki laki-laki.
Keputusan itulah yang kelak membuat namanya harus “dihapus”.
Baca juga: Kisah Jacomina Fay dan Wajah Kehidupan Perempuan Indo di Masa Kolonial
Bagi masyarakat Mesir Kuno, firaun bukan sekadar pemimpin politik. Ia adalah penjaga Ma’at, keseimbangan kosmis yang mengatur kebenaran, keadilan, dan keteraturan alam semesta.
Ma’at dipercaya dijaga oleh para dewa di langit dan oleh raja di bumi. Ketika Hatshepsut mengambil takhta dari raja yang sah meski masih anak-anak, banyak pihak menganggapnya telah melanggar tatanan itu.
Untuk membungkam penentangan, Hatshepsut melakukan langkah yang tidak kalah berani. Ia mengklaim dirinya sebagai putri langsung dewa Amun, dewa tertinggi pada masa itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Thecollector.com