Ilustrasi sapi (Thomson Reuters Foundation/Hellen Toby)
INDOZONE.ID - Momen pemotongan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha kerap memicu beragam respons emosional. Salah satunya rasa iba ketika melihat sapi yang tampak mengeluarkan air mata.
Hal ini memicu spekulasi di masyarakat bahwa sapi tersebut sedang menangis karena takut.
Lantas, bagaimanakah pandangan sains mengenai fenomena ini? Apakah air mata itu murni ekspresi kesedihan atau ada faktor fisiologis lain yang memengaruhinya?
Simak pembahasan lengkapnya berikut ini.
Baca juga: Kenapa Sapi Sering Menghadap Utara–Selatan saat Makan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Fenomena air mata yang keluar dari mata sapi menjelang penyembelihan sering kali disalahartikan sebagai ekspresi kesedihan.
Secara medis, kondisi ini disebut lakrimasi, yaitu sekresi cairan oleh kelenjar lakrimal yang berfungsi melindungi mata dari kontaminasi luar dan kekeringan.
Berbeda dengan asumsi emosional yang beredar, sebuah studi justru menemukan bahwa struktur air mata sapi kaya akan protein jika dibandingkan dengan mamalia lain seperti anjing dan kambing.
Karakteristik inilah yang menyebabkan volume air mata yang dihasilkan sapi tampak lebih banyak dan mencolok.
Sekresi air mata pada sapi dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa melibatkan aspek emosional.
Umumnya, fenomena ini merupakan reaksi terhadap paparan partikel asing seperti debu dan kotoran di lingkungan terbuka.
Sebagai hewan yang tidak memiliki kemampuan mekanis untuk mebersihkan mata, sapi memanfaatkan air mata sebagai mekanisme pertahanan alami untuk meluruhkan kotoran.
Secara biologis, aktivitas ini dikontrol oleh sistem saraf otonom yang mengatur fungsi refleks tubuh.
Dengan demikian, keluarnya air mata pada sapi adalah murni respons fisiologis yang bersifat otomatis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today, Scientific Reports