Selasa, 25 NOVEMBER 2025 • 13:19 WIB

Alasan Kenapa Manusia Tidak Memiliki Ekor, Ini Penelitiannya!

Author

Ilustrasi kucing (Sumber : Freepik)

INDOZONE.ID - Pertanyaan ini kemungkinan besar pernah muncul di kepala hampir semua orang saat kecil, "kalau kita punya tulang ekor kenapa manusia tidak punya ekor?"

Sebagian besar vertebrata juga memilikinya, bahkan beberapa invertebrata tampak punya struktur mirip ekor. Banyak orang pernah merasakan sakitnya tulang ekor memar, tetapi tetap saja, kita tidak memiliki ekor yang bisa digerakkan, digunakan untuk berpegangan, atau sekadar untuk hiasan. Lalu, apa alasannya?

Secara teknis, manusia memiliki ekor tapi hanya sebentar. Pada minggu ke-5 sampai ke-6 kehamilan, embrio manusia memiliki ekor dengan sekitar 10–12 ruas tulang belakang.

Baca juga: Kepala Serigala Berusia 40.000 Tahun Ditemukan di Siberia dalam Keadaan Terpenggal

Namun saat memasuki usia 8 minggu, ekor tersebut menghilang. Ketika manusia lahir, mereka praktis tidak lagi memiliki ekor dan pada kasus langka bayi lahir dengan “ekor”, itu bukan ekor sebenarnya, biasanya tanpa tulang, tidak bisa digerakkan, dan dianggap sebagai perpanjangan abnormal dari tulang ekor.

Padahal, ekor sangat umum di animal kingdom atau dunia hewan. Kucing memakainya untuk menjaga keseimbangan; monyet memanfaatkannya untuk memanjat dan mengayun di pepohonan; anjing menggunakannya untuk berkomunikasi.

Sementara beberapa hewan bisa menjatuhkan atau melepaskan ekornya sebagai taktik kabur dari predator. Jadi, mengapa manusia justru kehilangan sesuatu yang begitu berguna?

Baca juga: Alasan Ilmiah Mengapa Kucing Selalu Mengejar Tikus

Sejarah kehilangan ekor

Nenek moyang kita terakhir kali memiliki ekor sekitar 25 juta tahun lalu, sebelum garis evolusi kera besar atau Great Apes berpisah dari monyet Dunia Lama. Monyet mempertahankan ekor, sementara kera besar seperti manusia, gorila, simpanse, orangutan, dan bonobo justru kehilangan anggota tubuh tersebut.

“Kita semua, para Great Apes atau kera besar, tidak punya ekor,” kata zoolog David Young pada 2016. Namun kera besar bukan satu-satunya yang demikian; kera kecil seperti owa dan siamang juga tidak memiliki ekor. Mereka memberi petunjuk penting mengapa hilangnya ekor mungkin menguntungkan.

David menjelaskan: owa menggunakan lengan panjang untuk berayun dari satu cabang ke cabang lain. Dalam mode bergerak ini, tubuh dan kaki mereka menggantung lurus ke bawah, membentuk postur tegak selama bergerak. Keberadaan ekor justru akan mengganggu pola gerakan tersebut.

Baca juga: Misteri Hilangnya Benua Lemuria

Karena itu, banyak hipotesis mengaitkan hilangnya ekor dengan berkembangnya bipedalisme (kemampuan untuk bergerak menggunakan dua kaki atau tungkai belakang, seperti berjalan dan berlari) pada manusia. Ekor tidak terlalu berguna bagi makhluk berkaki dua yang berjalan tegak dan berburu jarak jauh. Namun, pandangan ini ternyata salah kaprah.

Menurut antropolog Liza Shapiro, ekor hilang terlebih dahulu sebelum pola gerak kera modern berevolusi. Artinya, hilangnya ekor tidak langsung berhubungan dengan munculnya bipedalisme manusia. “Evolusi bekerja berdasarkan apa yang sudah ada,” tuturnya.

Membedah gen yang menghilangkan ekor

Pertanyaan yang lebih tepat bukan “mengapa”, tetapi bagaimana ekor itu hilang. Bo Xia, peneliti di New York University, tertarik pada topik ini sejak kecil. Setelah ia mengalami cedera tulang ekor pada 2019, rasa penasarannya meningkat dan ia mulai mengejar jawaban ilmiah yang lebih jelas.

Untuk memahami hilangnya ekor manusia, Xia membandingkan DNA enam spesies kera tanpa ekor dan sembilan spesies monyet berekor. Hasilnya mengejutkan: mereka menemukan sepotong DNA non-kode yang 100% ada pada kera dan 100% hilang pada monyet. Yang lebih aneh, potongan DNA itu sebenarnya adalah elemen Alu, bagian dari “DNA sampah” yang dulu dianggap tidak berguna.

Elemen Alu adalah “gen lompat” atau urutan DNA yang bisa berpindah-pindah dan berpotensi memengaruhi regulasi genetik menyebabkan mutasi atau penyakit genetik.

Baca juga: Kenapa Paus Orca Dijuluki “Pemburu Tersadis di Laut”? Ini Fakta-Faktanya!

Suatu waktu pada masa lalu, satu elemen Alu mendarat di gen pengatur ekor bernama TBXT, dan keberadaannya di sana menghentikan pembentukan ekor. Ketika tim mencoba memasukkan elemen Alu ini ke gen tikus, tikus tersebut langsung lahir tanpa ekor.

Perubahan evolusioner ini terjadi sangat cepat dan “hampir dalam semalam” terjadi, menurut para peneliti. Namun konsekuensinya tidak ringan: tikus tanpa ekor hasil rekayasa itu memiliki risiko tinggi mengalami cacat tulang belakang mirip spina bifida. 

Artinya, mutasi yang menghilangkan ekor membawa efek samping serius. Meski demikian, mutasi tersebut tetap bertahan di garis keturunan kera, menunjukkan hilangnya ekor memberikan keuntungan evolusioner yang sangat besar walau harus menanggung risiko cacat bawaan.

Baca juga: Rahasia Umur Panjang Hiu Greenland, Vertebrata Tertua di Dunia

Kenapa kita mempertahankan mutasi itu?

Jawaban singkat mengapa manusia tidak punya ekor adalah karena mutasi acak pada elemen Alu yang mengubah gen TBXT. Namun alasan lebih dalam akan mengapa mutasi itu bertahan masih menjadi misteri. Apakah hilangnya ekor benar-benar menguntungkan? Atau sekadar tidak merugikan cukup besar untuk dieliminasi oleh seleksi alam?

Sampai sekarang belum ada jawaban definitif.

Para ilmuwan juga percaya bahwa setelah 25 juta tahun tanpa ekor, mutasi tambahan kemungkinan sudah memperkuat kondisi “tanpa ekor” pada manusia. Artinya, bahkan jika mutasi Alu dibalik, manusia tetap tidak akan bisa menumbuhkan ekor kembali.

Baca juga: 10 Hewan Ini Pernah ke Luar Angkasa, Banyak Yang Pulang Selamat!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Iflscience.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU