INDOZONE.ID - Sebuah penemuan baru di kawasan hutan Tritik, Nganjuk, Jawa Timur, mengungkap fosil gajah purba Stegodon trigonocephalus yang diperkirakan berusia sekitar 800 ribu tahun, membuka jendela baru bagi penelitian paleontologi di Indonesia.
Penemuan fosil gajah purba di Nganjuk merupakan hasil kerja sama tim gabungan yang terdiri dari Kementerian ESDM, Pemkab Nganjuk, Badan Geologi, dan komunitas lokal, diawali dengan laporan awal dari Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kotasejuk) tentang adanya tulang besar yang mencuat dari tanah.
Kepala Penyelidikan dan Konservasi Koleksi Badan Geologi, Unggul Prasetyo Wibowo, memaparkan bahwa struktur tulang yang ditemukan mengarah pada spesies Stegodon trigonocephalus, nenek moyang gajah modern yang dahulu hidup di Pulau Jawa.
Baca juga: Penemuan Fosil Ichthyosaurus di Pantai Jurassic: Makna dan Dampaknya
Tim ekskavasi berhasil mengungkap beberapa bagian penting dari fosil gajah purba, termasuk rahang bawah dengan gigi, gading, tulang panggul, rusuk, dan kaki, sementara proses penggalian masih terus dilakukan untuk menemukan sisa-sisa fosil yang belum terungkap.
Pihak Kementerian ESDM melihat temuan ini memiliki ilmiah yang cukup tinggi sekaligus potensi besar untuk pengembangan wisata edukatif dan geopark.
Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menyambut baik penemuan fosil gajah purba di Tritik dan berjanji memberikan dukungan penuh untuk penelitian lanjutan, dengan harapan situs tersebut dapat menjadi destinasi wisata edukatif yang bernilai sejarah tinggi bagi masyarakat Nganjuk dan sekitarnya.
Sejarah Paleontologi di Indonesia
Menurut catatan Museum Geologi Bandung, penelitian paleontologi di Indonesia pada abad ke-17 dan 18 masih sangat terbatas, karena kondisi geografis pedalaman yang terisolasi oleh hutan tropis dan kurangnya ahli geologi yang terlatih pada masa itu.
Pengetahuan tentang sejarah alam, batuan, fosil, logam, dan mineralogi pada masa awal diperoleh dari naturalis yang mengkaji berbagai aspek sains secara holistik, mencakup geologi, botani, dan zoologi.
Georg Eberhard Rumpf, atau dikenal sebagai Rumphius (1627-1702), yang dijuluki "si buta yang melihat dari Ambon", merupakan pelopor geologi dan penelitian fosil di Nusantara, meskipun interpretasinya masih terbatas karena geologi belum berkembang sepenuhnya pada masanya.
Baca juga: Cultured Meat: Daging "Buatan" yang Bisa Jadi Solusi Ketahanan Pangan Masa Depan
Rumphius memulai petualangan ilmiah di Nusantara pada paruh kedua abad ke-17 dan menghabiskan sebagian besar sisa hidupnya di Ambon hingga wafat pada tahun 1702.
Rumphius menghabiskan bertahun-tahun untuk mengoleksi temuan berharga tentang ilmu kebumian dan sejarah alam, namun hidupnya penuh tantangan, termasuk kehilangan koleksi dan naskah akibat kebakaran, tenggelamnya kapal yang membawa karyanya, serta tragedi gempa bumi yang merenggut nyawa istri dan anaknya, ditambah dengan kebutaannya.
Meski kebutaan menghalangi Rumphius membuat sketsa koleksi, VOC membantunya dengan mengirimkan juru tulis dan ilustrator, sehingga memungkinkan karyanya tetap berlanjut, meskipun akhirnya terbit bertahun-tahun setelah ia meninggal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram @museum_geologi, Instagram @redaksi.celah.id