Ilustrasi Planet Saturnus. (Unsplash)
INDOZONE.ID - Saturnus dikenal sebagai salah satu planet yang paling mudah dikenali di tata surya, bahkan oleh orang yang belum mendalami astronomi.
Daya tarik utamanya terletak pada cincin yang tampak mencolok. Namun di balik penampilannya yang megah, cincin tersebut ternyata sangat tipis.
Ketebalannya rata-rata hanya berkisar antara 10 hingga 100 meter, sementara diameternya membentang hingga ratusan ribu kilometer.
Perbandingan ekstrem ini tentu sulit dibayangkan secara logis. Lantas, bagaimana mungkin struktur yang begitu luas bisa memiliki ketebalan setipis itu? Simak penjelasannya berikut ini.
Baca juga: Memahami Metafora 'Kembalinya Saturnus', Fase Hidup yang Mengubah Cara Kita Dewasa
Sebagian orang membayangkan cincin Saturnus sebagai lempengan padat raksasa yang melingkari planet tersebut.
Padahal, cincin itu sebenarnya tersusun dari miliaran partikel kecil yang masing-masing bergerak sendiri mengitari Saturnus.
Ukurannya pun bervariasi, mulai dari butiran halus seperti pasir hingga bongkahan es sebesar rumah.
Mayoritas partikel tersebut terdiri dari es, dengan sedikit campuran debu dan material batuan.
Karena setiap partikel berperilaku layaknya satelit kecil yang mengorbit secara mandiri, cincin Saturnus lebih menyerupai kumpulan objek yang bergerak selaras, bukan satu struktur utuh.
Pola pergerakan yang konsisten ini membuat susunan partikel menjadi sangat tipis secara vertikal.
Jika ada partikel yang menyimpang terlalu tinggi atau rendah dari bidang orbit, gaya gravitasi Saturnus akan menariknya kembali ke jalur utama.
Hal inilah yang menyebabkan cincin tersebut tampak sangat tipis, meskipun membentang sangat luas secara horizontal.
Saturnus merupakan planet terbesar kedua di tata surya dengan massa yang sangat besar. Gravitasinya bekerja terus-menerus terhadap setiap partikel di cincinnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NASA