Rabu, 25 MARET 2026 • 14:05 WIB

Jon Venables dan Robert Thompson Dua Anak Berusia 10 Tahun Jadi Pelaku Pembunuhan di Inggris

Author

Jon Venables dan Robert Thompson Dua Anak Berusia 10 Tahun Jadi Pelaku Pembunuhan di Inggris (Mirror)

INDOZONE.ID - Kasus pembunuhan tragis yang melibatkan dua anak berusia 10 tahun di Inggris pada Februari 1993 sempat menggemparkan dunia. Peristiwa ini menjadi salah satu kasus kriminal paling mengejutkan dalam sejarah modern karena pelakunya masih anak-anak.

Kejadian bermula dari rekaman CCTV di pusat perbelanjaan New Strand, Inggris, yang memperlihatkan seorang balita berusia dua tahun berjalan keluar sambil dituntun oleh dua bocah laki-laki. Sekilas, pemandangan tersebut tampak seperti kakak yang menjaga adiknya. Namun, kenyataannya jauh lebih kelam.

Rekaman CCTV menunjukkan Robert Thompson dan Jon Venables menggiring James Bulger. (Mirror)

Pada hari Jumat sore di Bootle, Denise Bulger tengah berbelanja di sebuah toko daging bersama putranya, James Bulger. Dalam hitungan detik, ia kehilangan pegangan tangan anaknya saat sedang membayar.

Baca juga: Cek Fakta: Benarkah Ada Dokumen CIA yang Berisi Misi untuk Meneliti dan Membunuh Imam Mahdi?

Pada saat yang sama, dua anak bernama Jon Venables dan Robert Thompson yang sedang bolos sekolah melihat kesempatan tersebut.

Mereka kemudian mendekati James yang berdiri sendirian dan membawanya pergi tanpa menimbulkan kecurigaan dari orang sekitar.

James lalu dituntun berjalan kaki sejauh beberapa kilometer menyusuri jalanan Liverpool. Dalam perjalanan, beberapa orang sempat menaruh curiga dan bertanya.

Akan tetapi, kedua pelaku dengan tenang berbohong bahwa James adalah adik mereka atau anak yang tersesat dan akan mereka antar ke kantor polisi.

Penjelasan tersebut membuat orang-orang di sekitar tidak melanjutkan kecurigaan mereka.

Baca juga: Kisah Tsui Po-ko: Perampok dan Pembunuh Berantai dri Hong Kong yang Ternyata Polisi

Setelah berjalan cukup jauh, mereka membawa James ke area sepi di dekat rel kereta api Walton. Di lokasi inilah situasi berubah menjadi mengerikan.

James yang masih balita tidak berdaya saat mulai mendapatkan perlakuan kasar dari kedua pelaku.

Di tempat tersebut, James mengalami penyiksaan berat menggunakan berbagai benda seperti batu bata, kaleng cat, hingga potongan besi rel. Tanpa motif yang jelas, tindakan tersebut dilakukan secara brutal hingga kondisi korban menjadi sangat kritis.

Setelah itu, pelaku berusaha menghilangkan jejak dengan menempatkan tubuh James di atas rel kereta api dan menutupinya dengan batu.

Mereka berharap kejadian tersebut terlihat seperti kecelakaan akibat tertabrak kereta. Setelahnya, keduanya pulang ke rumah masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa.

Baca juga: Kisah Aminah, Penjual Gado-gado yang Jadi Pembunuh dengan Julukan Drakula Kebayoran Baru

Dua hari kemudian, jasad James ditemukan oleh sekelompok remaja di area rel. Kondisinya sangat mengenaskan, yang kemudian memicu penyelidikan besar-besaran oleh pihak kepolisian.

Rekaman CCTV menjadi petunjuk penting yang akhirnya mengarah pada identitas kedua pelaku. Laporan dari warga yang mengenali pakaian salah satu anak turut membantu proses pengungkapan kasus ini.

Kedua pelaku akhirnya ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan. Bukti forensik yang ditemukan pada pakaian mereka memperkuat keterlibatan dalam kasus tersebut.

Publik Inggris pun dibuat marah dan tidak percaya bahwa anak berusia 10 tahun mampu melakukan tindakan sekejam itu.

Dalam persidangan, keduanya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman di lembaga rehabilitasi anak. Kasus ini memicu perdebatan besar tentang batas usia pertanggungjawaban pidana serta peran lingkungan dan pola asuh dalam membentuk perilaku anak.

Baca juga: Kasus Pria Hong Kong Bunuh Pacarnya Karena Dianggap Alien, Benarkah Karena Gak Bisa Hamil?

Pada tahun 2001, kedua pelaku dibebaskan dengan identitas baru yang dirahasiakan. Robert Thompson dilaporkan tidak kembali terlibat kasus hukum.

Namun, Jon Venables beberapa kali kembali dipenjara karena kasus kejahatan lainnya, termasuk pada tahun 2010 dan 2017, serta kembali ditolak pembebasannya pada 2024.

Hingga kini, kasus ini masih menyisakan luka mendalam, terutama bagi keluarga korban yang terus memperjuangkan keadilan bagi James Bulger.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: The Guardian

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU