Sosok Aminah, pembunuh di era 1966 (X/@ceritaht)
INDOZONE.ID - Di balik wajah manis dan kulit cerahnya, nyonya Aminah menyimpan rahasia gelap yang mengejutkan Jakarta. Perempuan yang sehari-hari berjualan gado-gado dan cendol ini kemudian dijuluki “Dracula” oleh publik, karena tindakan sadis yang dilakukannya terhadap teman dekat sendiri.
Keseharian yang tampak biasa, di balik kontrakan sederhana di Kebayoran Baru, ternyata menyembunyikan amarah, dendam, dan obsesi yang menakutkan.
Julukan “Dracula” bukan sekadar sensasi media. Aminah, yang tampak hangat dan ramah, ternyata mampu menumpahkan kekerasan dengan tenang dan terencana. Ia bukan hanya membunuh, tetapi juga memutilasi korban dan menyingkirkan jejaknya, seolah tindakan itu bagian dari ritual gelap.
Sosoknya memaksa publik mempertanyakan: seberapa jauh kita mengenal orang-orang di sekitar kita, bahkan mereka yang tampak paling bersahabat sekalipun?
Selasa, 11 Oktober 1966, hujan deras mengguyur kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di rumah kontrakan sederhana di Jalan Ciomas 1, Ny Aminah, pedagang gado-gado dan cendol, tengah merajang sayuran untuk dagangannya. Hatinya yang panas karena pertengkaran kecil sebelumnya dengan tetangga dan teman dekatnya, Ny Siti Hasnah, tak mampu ditenangkan.
Dalam sekejap, kemarahan Aminah memuncak. Tanpa aba-aba, ia menjambak rambut Siti Hasnah dan menusukkan pisau yang masih basah sisa memotong sayuran. Korban meregang nyawa di lantai, mengenakan baju putih model shanghai dengan strip merah di leher dan sulaman bunga di dada. Darah menggenangi ruangan kontrakan.
Pertengkaran itu berawal dari urusan uang. Siti Hasnah menagih Rp 3.000 dari Aminah, hasil penjualan perhiasan. Aminah menolak dengan alasan tidak punya uang, meski menerima fee dari penjualan jam tangan.
“Bukannya sus tidak punya uang, tapi sus tidak niat bayar. Dasar tidak mau nolong teman,” kata Siti Hasnah, seperti dikutip Umbra Skull YouTube Channel.
Sosok Aminah, pembunuh di era 1966 (Youtube/Umbra Skull)
Setelah melayani pembeli gado-gado, Aminah kembali ke kontrakan dengan hati yang semakin panas. Pisau di tangan akhirnya digunakan untuk mengakhiri hidup Siti Hasnah. Setelah mayat korban disembunyikan di kolong tempat tidur, Aminah membersihkan lantai yang penuh darah.
Baca juga: Cold Case Tertua di Dunia: Detektif Modern Berhasil Bongkar Kasus Pembunuhan Berusia 430.000 Tahun
Tiba-tiba pintu diketuk. Aminah terkejut, namun tersadar saat melihat putri kecilnya, Neni, pulang sekolah bersama teman. Neni melihat noda merah di baju ibu, namun Aminah cepat-cepat menjelaskan itu tinta. Malam itu, Aminah, suaminya Ahmad, dan Neni tidur di ranjang, sementara mayat Siti Hasnah tetap tersembunyi di kolong.
Idris, adik Siti Hasnah, yang khawatir karena kakaknya tak pulang, melapor ke Ketua RT Kebayoran Baru, Sukarji. Setelah beberapa pengecekan di keluarga, rumah sakit, dan laporan ke Polres, keberadaan Siti Hasnah masih misterius.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube