Jumat, 05 SEPTEMBER 2025 • 10:30 WIB

Penyelidikan Kasus Pembunuhan Pantai Gilgo: DNA Canggih Astrea Forensics Jadi Sorotan Publik

Author

Ilustrasi pembunuhan misteri. (Pixabay)

INDOZONE.ID - Perdebatan mengenai bukti DNA menambah sorotan pada kasus Gilgo Beach, yang dari awal sudah menarik perhatian. 

Sisa-sisa dari kerangka Maureen Brainard-Barnes ditemukan di semak-semak dekat Pantai Gilgo, Long Island, pada musim dingin 2010. Namun, tak ada bukti fisik yang bisa bantu penyidik untuk menemukan pembunuhnya, hanya ada satu helai rambut yang terlepas.

Baca juga:  Kisah 'Dokter Maut' dari India: Pembunuh Berantai yang Buang Mayat Korbannya untuk Buaya

Analisis di Laboratorium

Pada saat itu, ekstraksi bukti DNA sehelai rambut tersebut belum memungkinkan dilakukan oleh laboratorium. Para investigator tetap mencari bukti-bukti lain untuk mengidentifikasi pembunuh berantai, yang menyebarkan tubuh perempuan sepanjang jalan pesisir.

Sekitar 7 tahun lalu, para investigator beralih ke Astrea Forensik, sebuah laboratorium di California yang menggunakan teknik baru untuk menganalisis DNA yang lama dan rusak. Dalam hal ini, termasuk rambut yang ditemukan bersama jasad Brainard-Barnes.

Saat ini, kerja dari laboratorium tersebut jadi keputusan penting, khususnya pada kasus yang diawasi ketat. 

Baca juga: Asal-usul Nama 'Alas Lali Jiwo', Lembah Indah di Gunung Arjuno

Mempertimbangkan Sebagai Bukti Putusan

Hakim negara juga mempertimbangkan untuk mengizinkan bukti DNA yang dihasilkan whole genome sequencing Astra Forensics digunakan pada sidang Rex Heuermann. Ia dituduh sebagai pembunuh Brainard-Barnes, serta enam perempuan lainnya.

Jika diizinkan, ini bakal jadi pertama kali teknik seperti ini diterapkan dalam pengadilan New York.

Jaksa menganggap kalau temuan Astrea, juga digabungkan dengan bukti lain, bakal menyakinkan keterlibatan Heuermann (61) sebagai aktor dibaliknya.

Baca juga: Kecerdasan Jamur: Mitos atau Fakta yang Dapat Mengubah Pandangan Kita

Namun, tim pengacara dari arsitek asal Manhattan itu menilai kalau perhitungan perusahaan melebih-lebihkan kemungkinan, kalau bukti rambut tersebut cocok dengan klien mereka.

“Bisa dibayangkan tekanan yang dirasakan hakim ini, karena kemungkinan besar ia membuat putusan yang akan menjadi acuan bagi kasus-kasus setelahnya,” kata April Stonehouse, pakar forensik DNA dari Arizona State University yang tidak terlibat dalam kasus ini.

Baca juga: Sejarah Perkembangan Sekolah Dasar hingga Menengah di Indonesia

Penggunaan DNA sebagai Bukti dalam Pengadilan

Penggunaan analisis DNA dalam kasus seperti ini bukan hal baru, tapi dalam laboratorium kriminal tetap memiliki keterbatasan. 

Astrea jadi salah satu dari sedikit laboratorium swasta yang berkembang cepat. Mereka mengklaim bisa mengambil fragmen DNA dari tulang dan rambut tua. Hal tersebut digunakan untuk merekonstruksi urutan genetik seseorang.

Baca juga: Satu-satunya Nyamuk di Negara Islandia Hanya yang Disimpan di Institut Sejarah Alam

Salah satu pendiri Astrea Forensics, Dr. Richard Green mengungkapkan di pengadilan, bagaimana whole genome sequencing laboratoriumnya bisa diterima sebagai bukti persidangan. 

Hasilnya berujung vonis kepada David Allen Dalrymple, mengenai kasus pembunuhan pada anak 9 tahun di Idaho.

Baca juga: Satu-satunya Nyamuk di Negara Islandia Hanya yang Disimpan di Institut Sejarah Alam

Pro Kontra Metode Astra Forensics

Sementara itu, pengacara Heuermann menilai kalau metode DNA Astrea belum cukup diuji. I Ia menganggap kalau metode itu harus dievaluasi lebih lanjut.

Seorang profesor Wright State University, Dr. Dan Krane menyebutkan, kalau metode Astra Forensics sangat tidak adil dan bisa merugikan. 

Jaksa pun menanggapi Krane, dengan menyebut kalau itu “menyesatkan” dan memperlihatkan “kesalahpahaman mendapat” pada metode ini.

Baca juga: Lubang Besar di Atmosfer Matahari: Apa Itu dan Bagaimana Dampaknya?

Sedangkan profesor emeritus kriminologi University California, Irvine, sepakat dengan pembela kalau Astrea Forensics belum bisa tervalidasi. Sehingga kurang diterima di kalangan masyarakat luas. 

“Teknik baru ini mungkin suatu hari nanti terbukti sesuai dengan klaim para pendukungnya, tetapi hal itu belum terjadi,” ujarnya.

Baca juga: Dipercaya Bisa Gaet Lawan Jenis, Berikut Kisah 'Jimat Bulu Ekor Kuda' yang Bikin Penasaran

Kumpulan Bukti Lain

Dalam kasus ini, Jaksa telah mengumpulkan bukti lain dari Heuermann, yang dituduh sebagai aktor dibalik kasus ini sejak 1993.

Di berkas pengadilan, banyak informasi mengenai panggilan telepon dan data, yang menunjukkan Heuermann mengatur untuk bertemu beberapa korban saat itu. 

Tahun lalu, jaksa menemukan file dari komputer Heuermann, ada sesuatu yang disebut sebagai “cetak biru” pembunuhan. Mulai dari daftar periksa, membersihkan tubuh, hingga menghancurkan barang bukti.

Baca juga: Gumiho, Rubah Ekor Sembilan yang Lapar Akan Daging Manusia dalam Mitologi Korea

Mereka juga memiliki analisis DNA kedua yang dilakukan oleh laboratorium forensik lain dengan metode tradisional yang telah lama diterima di pengadilan New York.

Hasil dari Mitotyping Technologies itu juga secara meyakinkan menghubungkan rambut yang ditemukan pada beberapa korban dengan Heuermann atau anggota keluarganya.

Baca juga: Lubang Besar di Atmosfer Matahari: Apa Itu dan Bagaimana Dampaknya?

Penyidik juga menyebut kalau Heuermann menggunakan barang-barang dari rumah, seperti lakban, tas, dan lainnya, untuk membuang korban. 

Dalam kasus Brainard-Barnes, hanya tes DNA lanjutan yang dilakukan Astrea bisa mengidentifikasi kecocokan, dengan hasil bahwa rambut yang ditemukan bersama jasadnya milik istri Heuermann.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ABC News

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU