Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 18 DESEMBER 2025 • 12:56 WIB

Kisah Rudy Kurniawan: Penipu Anggur Paling Licik asal Indonesia yang Kini Masuk di Netflix

Kisah Rudy Kurniawan: Penipu Anggur Paling Licik asal Indonesia yang Kini Masuk di NetflixKisah Rudy Kurniawan Penipu Wine di Amerika Serikat (foto: New York Post)

INDOZONE.ID - Siapa sangka, salah satu skandal pemalsuan anggur terbesar dalam sejarah dunia bermula dari seorang pria asal Jakarta bernama Zhen Wang Huang, yang dikenal sebagai Rudy Kurniawan.

Rudy lahir di Jakarta pada 1976. Pada pertengahan 1990 an, ia singgah ke Amerika Serikat untuk belajar akuntansi di California State University, Northridge. Namun, hidupnya di Negeri Paman Sam tidak berjalan lurus sesuai rencana akademik. 

Pada awal 2000 an, Rudy justru jatuh cinta pada dunia anggur, khususnya anggur California dan menetap di kawasan Arcadia, pinggiran kota Los Angeles.

Baca juga: Restorasi Meiji, Kebangkitan Negeri Matahari Terbit Menatap Era Modern

Obsesi itu berkembang cepat. Dari anggur lokal, sampai beralih ke Burgundy atau Bourgogne asal Prancis, jenis anggur langka dan mahal yang menjadi simbol status di kalangan elite. Dengan sokongan dana dari keluarganya yang kaya, Rudy mampu membeli botol-botol prestisius yang harganya tidak masuk akal bagi kebanyakan orang.

Namanya mulai bergaung ketika ia rajin menggelar pesta mencicipi anggur dan hidangan mewah. Acaranya dihadiri bukan dengan orang sembarang. Acara itu dihadiri dengan produser Hollywood, bankir kaya, hingga para raksasa teknologi.

Pada acara ityu, Rudy memamerkan botol-botol legendaris seperti Pétrus 1920, Romanée-Conti 1945, dan Château Lafleur 1947. Ia menjual anggur tersebut dengan harga rata-rata 400 hingga 500 dolar AS per botol.

Baca juga: Payung, Penemuan Jenius Perajin Tiongkok Kuno, Ketika Eropa Masih Percaya Hujan Kutukan Dewa

Berdasarkan laporan The Hustle, kekayaan Rudy mengantarnya masuk ke lingkaran paling eksklusif di Los Angeles. Kelompok pencicip anggur elit yang menyebut diri mereka “BurgWhores”. Isinya para pria berpengaruh seperti, sutradara film, eksekutif musik, pengusaha teknologi, hingga taipan properti. Di mata mereka, Rudy bukan sekadar kolektor, tapi otoritas.

Tahun 2006 menjadi puncak kejayaannya. Di usia 30 tahun, koleksi anggurnya begitu masif hingga sebuah surat kabar Kanada menjulukinya “King of Rare Wines.” Julukan lain pun muncul: “Dr. Conti,” merujuk pada kecintaannya pada Domaine de la Romanée-Conti. Dalam waktu singkat, ia meraih kepercayaan kritikus, akademisi, kolektor, dan pembeli anggur ternama.

Lebih dari itu, Rudy ikut menyulut demam anggur vintage. Pada 2001 hingga 2006, harga rata-rata anggur vintage di lelang melonjak 62 persen. Total penjualan lelang anggur tersebut membengkak dari 90 juta dolar menjadi 300 juta dolar. Burgundy menjadi primadona, botol yang dulu laku 400 dolar, kini diburu hingga 13 ribu dolar.

Baca juga: Ribuan Jejak Dinosaurus Ditemukan di Tebing Alpen Dekat Lokasi Olimpiade Musim Dingin

Melihat peluang emas itu, Rudy mulai menjual besar-besaran. Uangnya mengalir deras. Ia menjelma menjadi playboy flamboyan, mengendarai Lamborghini Murciélago, mengoleksi jam Patek Philippe senilai lebih dari setengah juta dolar, dan membeli rumah mewah 8 juta dolar di Bel-Air.

Namun kenikmatan itu tidak berlangsung selamanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Thehustle.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kisah Rudy Kurniawan: Penipu Anggur Paling Licik asal Indonesia yang Kini Masuk di Netflix

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!