INDOZONE.ID - Hari ini, setiap kali kita membuka payung saat hujan turun, sebenarnya kita sedang melanjutkan warisan ribuan tahun lalu yang dimulai dari kecerdikan perajin Tiongkok Kuno.
Inovasi yang lahir dari satu peradaban, pada akhirnya, menjadi milik bersama umat manusia.
Mengutip artikel di situs Heddels dengan judul Taking Cover: The Long History of the Umbrella, sejarah payung dimulai sebagai pelindung matahari bukan untuk melindungi diri dari hujan.
Kata “umbrella” sendiri berasal dari bahasa Latin umbra yang berarti “bayangan”.
Namun, lompatan besar terjadi di Tiongkok sekitar abad ke-4 SM. Bentuk awal payung untuk menapis hujan berupa daun atau bulu yang diikat pada tongkat.
Baca juga: La Doncella, Mumi Berusia Lebih 500 Tahun untuk Ritual Pengorbanan di Pegunungan Andes
Di sinilah para perajin kuno tidak hanya membuat payung lipat dengan desain modern, tetapi juga melakukan terobosan jenius melapisi kertas dengan minyak untuk menciptakan kanopi yang tahan air.
Payung atau kertas yang diolesi minyak ini adalah simbol kemewahan sekaligus teknologi canggih pada masanya.
Ia melambangkan status sosial elite, sekaligus menjadi solusi praktis yang mengubah hubungan manusia dengan alam.
Sementara di Eropa, orang pasrah basah kuyup atau berteduh, di Tiongkok, manusia sudah bisa “membawa atap” ke mana pun mereka pergi.
Perbedaan ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi cara pandang terhadap alam dan kemajuan.
Baca juga: Krim Wajah Zaman Romawi Kuno Ditemukan, Masih Menyimpan Jejak Jari Penggunanya
Dalam banyak budaya Eropa kuno dari Yunani hingga Romawi, hujan sering dikaitkan dengan kehendak dewa-dewa seperti Zeus atau Jupiter.
Menggunakan alat untuk "menolak" hujan bisa dianggap melawan kehendak langit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Heddels.com