Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 16 DESEMBER 2025 • 15:00 WIB

Ares: Dewa Perang yang Tidak Pernah Menyakiti Wanita

Ares: Dewa Perang yang Tidak Pernah Menyakiti WanitaAres si dewa perang Yunani kuno. (Wikipedia)

INDOZONE.ID - Dalam mitologi Yunani, Ares dikenal sebagai dewa perang yang ditakuti. Ia digambarkan sebagai sosok berdarah dingin, impulsif, dan sulit dihentikan saat ia marah.

Namun, ada satu hal unik yang membedakannya dari banyak dewa lainnya. Ares tidak pernah digambarkan melakukan kekerasan terhadap wanita.

Berbeda dengan banyak dewa Olympia lainnya, kekerasan Ares hanya terbatas di medan perang. Dalam mitos, agresinya jelas, terbuka, dan jujur. Ares tidak pernah melakukan ke tindakan yang merendahkan atau menyakiti wanita. Ini menjadi keanehan sekaligus hal menarik dalam dunia mitologi yang sering kali memperlihatkan dewa-dewa melewati batas antara keinginan dan dominasi, moral dan amoralitas.

Baca juga: Bagaimana Revolusi Meiji Membangkitkan Jepang dari Reruntuhan Feodalisme?

Kisah Cinta Ares dan Aphrodite

Hubungan Ares dengan Aphrodite, dewi cinta Yunani, memberi wawasan tentang sisi emosionalnya. Kisah cinta mereka, terkenal melalui perangkap jaring emas yang dipasang oleh Hephaestus, diceritakan dalam Odyssey karya Homer.

Hubungan ini tidak digambarkan sebagai agresi atau pemaksaan, melainkan sebagai kisah ketertarikan mutual antara cinta dan perang, dua kekuatan elemental yang saling tarik menarik.

Anak-anak mereka, Deimos (teror), Phobos (ketakutan), dan Harmonia (harmoni), melambangkan keseimbangan rumit antara cinta dan konflik, gairah dan kehancuran, ketakutan dan kedamaian. Hal inilah yang membuat hubungan Ares dan Aphrodite berbeda dengan banyak kisah dewa lainnya, yang sering kali dipenuhi penipuan atau pemaksaan.

Baca juga: Warung Gaib Alas Roban: Muncul Tengah Malam, Menghilang Saat Siang

Dewa Perang yang Menjaga Martabat

Meskipun hidupnya dipenuhi kekerasan, Ares membedakan antara peperangan dan pelanggaran pribadi. Kekerasannya terlihat jelas, tetapi tidak merendahkan martabat wanita. Ini menciptakan paradoks menarik: dewa yang paling kejam di medan perang tetap memiliki kode moral dan batasan.

Kisah Ares mengajarkan bahwa kekuatan dan kemarahan fisik tidak selalu identik dengan kejahatan moral. Bahkan sosok paling brutal pun bisa memiliki prinsip dan batas. Ares mewakili konsep Yunani kuno tentang metron, yaitu keseimbangan, di mana kekerasan hanya ada di medan perang, bukan pada wanita atau mereka yang tak bersalah.

Baca juga: Pengalaman Mistis Michelle Ziudith di Malam Satu Suro: Mengapa Gamelan Perlu 'Dibangunkan'?

Dari kisah Ares, kita bisa melihat bahwa kekuatan dan keinginan bisa hidup berdampingan dengan penghormatan, integritas, dan batas moral yang jelas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Greekreporter.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Ares: Dewa Perang yang Tidak Pernah Menyakiti Wanita

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!