INDOZONE.ID - Ada kalanya, sebuah tradisi keluarga bukan cuma tentang warisan atau penghormatan leluhur.
Kadang, di balik semua doa dan dupa yang dibakar, tersembunyi perjanjian kelam yang terus hidup lewat darah keturunan.
Kisah mistis ini bercerita tentang Aila Rukmana, gadis muda yang akhirnya tahu bahwa keluarganya bukanlah penjaga, tapi pelayan bagi roh-roh yang lapar.
Yuk, simak kisah mistis perjamuan arwah dilansir dari YouTube/OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!
Baca juga: Kisah Mistis Tumbal Uang Koin: Teror di Perempatan Jalan Kaliurang
Awal dari Sebuah Catatan Kuno
Semuanya bermula ketika Aila menemukan jurnal tua milik keluarganya di rumah warisan di desa terpencil.
Di dalamnya tertulis tentang “Perjamuan Arwah”, sebuah ritual yang dilakukan turun-temurun oleh keluarga Rukmana.
Selama ini, ia mengira ritual itu cuma bentuk penghormatan untuk arwah leluhur. Tapi ternyata, perjamuan itu adalah kontrak.
Satu jiwa dikorbankan setiap kali jamuan digelar, agar roh-roh kelaparan tidak memangsa semua keturunan mereka.
Di antara lembar jurnal yang sudah menguning, Aila menemukan nama ibunya, Sari Rukmana.
Di catatan itu tertulis, “Sari Rukmana absen dalam perjamuan tahun 1999. Hukuman dijatuhkan tahun 2017.”
Itu tahun saat ibunya meninggal mendadak tanpa sebab. Tanpa luka, tanpa penyakit. Kini Aila tahu, kematian itu bukan kebetulan. Ibunya dikutuk karena menolak melanjutkan ritual.
Ritual yang Tak Bisa Dihentikan
Malam itu, Aila mendengar suara ketukan dari dalam dinding rumah. Bukan dari pintu, bukan dari jendela. Suara itu seperti seseorang yang mencoba keluar.
Lilin di ruang makan menyala satu per satu tanpa ada yang menyalakan. Kursi-kursi mulai bergerak sendiri, seolah tamu-tamu tak kasat mata kembali datang.
Di ujung meja makan, satu kursi masih kosong, tempat sang penjaga duduk, tempat ibunya dulu memimpin ritual.
Saat Aila membuka halaman terakhir jurnal itu, tertulis peringatan, “Jika aku tidak kembali, jangan lanjutkan perjamuan. Tapi ketahuilah, yang lapar tidak suka dilupakan. Mereka akan datang lewat cermin, lewat tidur, lewat darah kita sendiri.”
Baca juga: Kisah Mistis Perjanjian Berdarah di Desa Sukamaju: Antara Utang, Iblis, dan Iman
Kembalinya Nenek Sari
Ketika malam makin pekat dan kabut turun tebal, pintu depan bergetar. Sosok wanita tua dengan selendang hitam muncul di ambang pintu, Nenek Sari, leluhur keluarga Rukmana yang seharusnya sudah lama meninggal.
Tatapannya tajam dan dingin, seolah membawa umur ratusan tahun di matanya.
“Kau harus menyelesaikannya, Aila,” katanya pelan.
“Mereka lapar. Mereka sudah datang jauh-jauh untuk duduk di mejamu," lanjutnya.
Satu per satu, kursi di meja makan mulai terisi. Arwah leluhur keluarga Rukmana kembali dengan wajah mereka hangus, tubuh rusak, luka menganga.
Mereka semua duduk, menatap Aila. Di ujung meja, kursi kepala keluarga masih kosong. Kursi itu untuk Aila.
Pilihan di Tengah Kutukan
Nenek Sari memintanya duduk dan melanjutkan ritual dengan pilih satu jiwa untuk dikorbankan agar pintu arwah bisa tertutup.
Jika menolak, maka semua keturunan Rukmana akan menjadi santapan arwah kelaparan itu.
Tapi Aila ingat pesan ibunya, bahwa mereka bukan pelaku, melainkan korban dari kutukan lama. Ia tahu satu-satunya cara menghentikan ini adalah menghancurkan sumbernya.
Dengan tangan gemetar, Aila melempar jurnal tua itu ke dalam perapian. Api menyambar cepat, dan jeritan menggema di seluruh rumah.
Cermin di ruang makan pecah, kabut berubah jadi hitam, dan rumah Rukmana runtuh bersama semua arwah di dalamnya. Aila pikir ia sudah bebas.
Baca juga: Kisah Mistis Pelet Kober: Cinta yang Tak Tersampaikan Berujung Maut
Tiga hari kemudian, Aila ditemukan selamat di pinggiran hutan. Ia meninggalkan desanya dan pindah ke kota, berharap semuanya berakhir.
Tidak ada lagi suara dari dinding, tidak ada lagi bayangan di cermin. Ia mulai hidup baru, makan di restoran kecil, mencoba merasa normal.
Tapi malam ketiga, saat hujan turun, sesuatu kembali terjadi. Pelayan restoran datang dengan lima piring, padahal Aila hanya memesan satu.
Salah satunya berisi darah. Satunya lagi penuh rambut hitam panjang. Sendok di piring kelima bergerak sendiri.
Aila menatap kaca restoran. Di pantulan itu, kursi-kursi di belakangnya sudah terisi wajah-wajah yang dulu ia bakar bersama rumah warisan. Leluhurnya, arwah-arwah lapar itu, kini duduk di sekelilingnya.
Suara pelan bergema dari speaker restoran, samar tapi jelas. “Jamuan belum selesai, tuan rumah,” katanya.
Aila menunduk. Tangannya bergetar. Ia sadar satu hal, kutukan tidak pernah padam. Ia hanya berpindah tempat.
Nah malam itu, siapa pun yang lewat di depan restoran akan melihat seorang gadis duduk sendiri di pojokan. Tapi kalau kau perhatikan lebih dekat, kursi-kursi di sekitarnya tidak benar-benar kosong.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube