INDOZONE.ID - Langit Yogyakarta sore itu berwarna jingga. Matahari baru saja pamit di ufuk barat, meninggalkan semburat lembut di langit kota.
Di antara hiruk-pikuk kendaraan yang mulai padat, Adi, mahasiswa S2 Antropologi dari salah satu universitas ternama di Yogyakarta, melaju pelan di atas motornya.
Wajahnya lelah, matanya sayu. Ia baru pulang dari Jombang, tempatnya bekerja paruh waktu di sebuah LSM yang fokus pada petani kopi.
Perjalanan empat jam itu sudah cukup bikin tubuh remuk, tapi malam ini ada sesuatu yang berbeda.
Di perempatan Jalan Kaliurang, salah satu simpang paling ramai di kota itu, Adi berhenti di lampu merah.
Di bawah sorot lampu jalan, sesuatu berkilau di aspal. Sebuah koin Rp1.000 tampak bersih mengilap, seperti baru saja dicetak. Entah kenapa, Adi merasa ada dorongan aneh untuk mengambilnya.
Saat jarinya menyentuh logam itu, tubuhnya tersentak. Koin itu dingin, bukan dingin biasa, tapi seperti dingin yang hidup.
Ia menggenggamnya erat sambil bergumam, “Lumayan buat beli kopi.” Tanpa berpikir panjang, koin itu ia masukkan ke saku. Ia tak tahu, dari situlah mimpi buruknya dimulai.
Yuk simak kisah mistis tumbal uang koin dilansir dari YouTube @OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!
Baca juga: Ciri-Ciri Orang Pesugihan Monyet: Konon Bisa Punya Peliharaan Sakti yang Penuh Tumbal
Malam Pertama dan Mimpi Tentang Kegelapan
Kos Adi berada di kawasan Kota Gede, bangunan tua dengan tembok bata dan jendela kayu yang melengkung.
Malam itu, setelah makan mie instan dan mandi, ia duduk di depan meja kecil, mencoba membaca jurnal untuk tesisnya tentang ritual adat. Tapi pikirannya buyar. Ia mengeluarkan koin dari saku dan menatapnya.
Di bawah cahaya lampu meja, garuda di permukaan koin itu tampak aneh, seolah menatap balik.
Adi menggeleng, menertawakan pikirannya sendiri, lalu menaruh koin di meja dan mematikan lampu.
Namun begitu ia tertidur, mimpi buruk datang. Ia berdiri di taman asing penuh kabut, dikelilingi pohon beringin tua.
Dua remaja berlari ketakutan, dikejar makhluk tinggi kurus dengan tangan bercakar. Dari kegelapan, suara parau bergema di kepalanya, “Kembalikan koin itu, atau kau berikutnya.”
Adi terbangun dengan napas tersengal, tubuhnya basah oleh keringat. Koin itu masih di meja, berkilau samar.
Ia mencoba mengabaikan semuanya, tapi malam-malam berikutnya justru makin menakutkan.
Gang Sepi dan Bayangan yang Mengintai
Hari-hari setelahnya, kos yang biasanya terasa tenang berubah mencekam. Setiap malam Adi merasa seperti diawasi.
Rambut di tengkuknya berdiri, langkah kaki samar terdengar dari luar jendela. Saat dilihat, hanya ada pohon pisang yang bergoyang ditiup angin.
Mimpi buruk itu datang lagi dan lagi. Setiap malam, makhluk itu makin dekat. Sampai suatu malam, di kamar mandi, ia melihat sesuatu di cermin, seorang kakek tua dengan wajah pucat dan senyum menakutkan.
“Buang koin itu, anak muda,” kata sosok itu dengan suara kering. “Sebelum terlambat.”
Adi menoleh, tapi cermin kosong. Tak ada siapa-siapa. Dengan tangan gemetar, ia berjanji akan mengembalikan koin itu besok pagi.
Tapi malam itu, suara koin bergulir terdengar dari luar pintu kamarnya. Ia membeku, tak berani bergerak.
Baca juga: Kisah Mistis Pabrik Garmen: Tumbal, Tamu Gaib, dan Upah yang Harus Dibayar Nyawa
Kembali ke Perempatan
Pagi harinya, Adi memutuskan mengembalikan koin itu ke tempat asalnya. Di perempatan Jalan Kaliurang, ia menatap titik aspal yang sama.
Dengan tangan gemetar, ia berlutut dan meletakkan koin di sana. “Selesai sudah,” bisiknya.
Ia pulang dengan perasaan lega. Tapi malam itu, mimpi buruk datang lagi. Kali ini lebih nyata.
Ia berada di rumah tua lapuk, dua remaja yang sama terikat di sudut ruangan, dan makhluk hitam itu menatapnya sambil memegang koin.
“Kau pikir ini selesai? Sekarang kau milikku,” bisik suara itu.
Adi terbangun pukul 03.03 dini hari, waktu yang katanya puncak aktivitas makhluk gaib. Ia mendengar suara koin jatuh lagi, kali ini dari dalam kamarnya sendiri.
Koin yang Salah dan Rahasia Gelap di Taman Tua
Keesokan harinya, Adi menceritakan semuanya ke Rudi, teman kampusnya yang dikenal punya indera keenam.
Rudi bilang, perempatan itu dikenal angker, dan beberapa koin memang sengaja diletakkan sebagai tumbal ritual. Tapi koin harus dikembalikan yang asli, bukan pengganti.
Adi terdiam. Ia baru sadar, koin yang ia letakkan kemarin bukan koin yang sama, ia sempat menggunakannya untuk membeli kopi.
Bersama Rudi, mereka menelusuri warung kopi itu. Penjualnya, Mak Sari, ternyata masih menyimpan koin tersebut karena katanya terasa dingin saat disentuh.
Adi meminta koin itu kembali. Saat logam itu menyentuh kulitnya, hawa dingin langsung merayap. Ia tahu, inilah koin asli yang menjeratnya.
Baca juga: Kisah Mistis Pasar Terkutuk di Malang: Rezeki Berdarah dan Kutukan yang Minta Tumbal
Malam itu, Adi kembali ke perempatan. Langit gelap, kilat menyambar di kejauhan. Dengan tangan gemetar, ia letakkan koin itu di aspal.
“Aku sudah kembalikan,” bisiknya. Angin berhembus kencang membawa bau tanah basah.
Untuk pertama kalinya setelah seminggu, Adi tidur tanpa mimpi buruk. Pagi harinya, bekas luka di lengannya memudar.
Ia kembali ke rutinitas, tapi setiap melewati perempatan itu, ia selalu mempercepat laju motornya, tak berani menatap ke bawah.
Karena di Yogyakarta, kota yang menyimpan banyak rahasia, beberapa hal lebih baik dibiarkan tak tersentuh.
Nah jika suatu malam kamu melewati perempatan Jalan Kaliurang, lalu melihat koin berkilau sendirian di aspal jangan pernah menyentuhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube