INDOZONE.ID - Raden Ronggo Prawirodirjo III adalah seorang putra madiun yang lahir sekitar 1779, beliau merupakan anak dari bupati madiun yang bernama Raden Ronggo Mangundirjo atau lebih dikenal sebagai Raden Ronggo Prawirodirjo II. Raden Ronggo Prawirodirjo III, merupakan seorang Bupati Madiun sekaligus Bupati Wedana Mancanegara Wetan pada masa kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono II.
Pangeran Diponegoro pernah menyebutkan bahwa, Raden Ronggo merupakan suri tauladan bagi perjuangannya. Raden Ronggo dianggap sebagai tokoh yang memainkan peran besar sebelum runtuhnya tatanan lama di Jawa, sebelum kelahiran tatanan baru (kolonial) di Jawa.
Awal Mula Pemberontakan
Pemberontakan Ini bermula pada bulan Juli tahun 1808 ketika Daendels memberi tekanan kepada kesultanan Yogyakarta, yang berkaitan dengan pembukaan akses ke daerah timur yang merupakan tempat cadangan kayu. Tuntutan ini kemudian melebar pada 1809, mencakup larangan bagi pengusaha swasta kayu jati melewati perbatasan pesisir utara yang dikuasai Belanda. Kemudian karena tuntutan tersebut dirasa sangat merugikan bagi pihak Kesultanan Yogyakarta, Raden Ronggo menolak dengan keras tuntutan tersebut karena wilayah yang dimaksud oleh Daendels berada di wilayah kekuasaanya. Selain pada golongan atas, tuntutan tersebut juga berdampak kepada para penduduk yang kehilangan mata pencahariannya yang sebagian besar bergantung pada sumber daya hutan.
Baca Juga: Mimis Kencana: Siasat Pakubuwono VI Dalam Membantu Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa
Tuntutan-tuntutan dari Daendels kemudian menyebabkan memburuknya kondisi penduduk yang tinggal di kawasan hutan, yang pada akhirnya menyebabkan para penduduk terpaksa menjadi pelaku “kriminal kecil”. Hal tersebut memicu terjadinya keributan-keributan di antara penduduk Mancanegara dan penduduk pesisir yang dikuasai oleh Belanda. Sebagai penguasa wilayah, Raden Ronggo dianggap bertanggung jawab terhadap kerusuhan dan penyerangan yang terjadi. Kemudian pada 31 Januari 1810, Raden Ronggo dituduh terlibat dalam penyerangan di daerah Ponorogo yang mengakibatkan dua orang tewas serta satu orang luka-luka. Dalam kondisi tersebut, situasi diperparah oleh Raja Surakarta yang membenci Raden Ronggo dan kemudian melaporkan insiden tersebut kepada Daendels. Seorang pejabat senior di Ponorogo bernama Wiryodiningrat juga mengirimkan sejumlah tuduhan tambahan. Salah satu tuduhan tersebut menyebutkan bahwa, Raden Ronggo telah menampung seorang pelarian militer dari Ponorogo yang sering merampok perangkat gamelan dari daerah-daerah tetangga di wilayah Surakarta.
Pada Oktober 1810, Daendels kemudian mengirimkan surat yang berisi tuntutan mengenai kasus yang menyangkut Raden Ronggo. Di dalam surat tersebut Daendels menyebutkan, bahwa Raden Ronggo dan Ratu Kencono Wulan terlibat dalam suatu persekongkolan. Untuk mendukung tuduhannya ini, Daendels menyertakan ringkasan laporan dari sejumlah laporan pemerintahan terakhir Residen VOC untuk Yogya. Kemudian surat perintah juga dikeluarkan oleh Daendels yang ditujukan kepada deputinya, Van Braam agar membawa Raden Ronggo ke Bogor untuk mempertanggungjawabkan semua tuduhan yang ditujukan padanya.
Pemberontakan Berlangsung dari 20 November - 17 Desember 1810
Pada dini hari tanggal 20 November 1810, Raden Ronggo pergi ke Madiun dengan 300 pengikutnya. Keesokan harinya, sultan mengirim 1.000 pasukan terlatih untuk menangkap Raden Ronggo, dengan perintah agar ia dihukum mati jika tidak mau kembali. Ini karena sultan mengingat janji ayahnya kepada kakek Raden Ronggo. Tiga hari sebelum berangkat, Raden Ronggo menulis surat untuk menjelaskan alasan pemberontakannya kepada Notodiningrat dan Sumodiningrat.
Salah satu aspek pembeda pemberontakan Raden Ronggo dengan Perang Diponegoro 15 tahun kemudian adalah pendekatannya terhadap etnis Tionghoa. Ia mendeklarasikan dirinya sebagai pengayom, untuk semua orang Jawa dan orang Tionghoa yang telah diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Belanda. Saat itu, mereka mendesak untuk bekerja sama menghabisi para pejabat Belanda yang telah merampas kemakmuran dan keberadaan tanah Jawa.
Baca Juga: Perang Diponegoro: Salah Satu Konflik Pemicu Terjadinya Perang Pada Abad Ke-19
Raden Ronggo berharap mendapatkan bantuan dari komunitas Tionghoa untuk menyerang garnisun Belanda. Ia menjanjikan perlindungan bagi mereka setelah mengalahkan orang Eropa. Sementara itu, Daendels mengerahkan 3.000 infanteri ke Semarang pada 2 Desember. Ia mengirim dua skuadron kavaleri dan dua kompi artileri untuk meredam pemberontakan tersebut. Raden Ronggo melanjutkan perjalanan ke Maospati sambil terus bertempur dan berusaha menarik para bupati ke pihaknya, namun hanya satu yang mendukungnya.
Pada tanggal 17 Desember, dalam pertempuran terakhir di tepi Bengawan Solo, sebagian besar pasukannya melarikan diri. Raden Ronggo dan wakilnya, Sumonegoro, tewas. Jenazah mereka kemudian dipamerkan dan dimakamkan sebagai penghianat, dan menandai kegagalan pemberontakan Raden Ronggo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Gramedia.com