INDOZONE.ID - Saat Belanda pertama kali datang ke Nusantara, tujuan utamanya cuma satu yaitu berdagang. Tapi semakin lama, mereka semakin dalam terlibat dalam urusan politik kerajaan-kerajaan lokal.
Dari sinilah cikal bakal pemerintahan kolonial Hindia Belanda mulai terbentuk. Tapi, kehadiran Belanda tentu nggak diterima begitu saja. Banyak daerah menolak, bahkan melawan dengan senjata.
Untuk meredam perlawanan itu, Belanda sadar mereka butuh pasukan militer yang kuat. Maka dimulailah perekrutan tentara secara besar-besaran.
Uniknya, tentara kolonial ini berasal dari berbagai latar belakang, ada yang dari Eropa, pribumi, bahkan dari Afrika.
Perekrutan Pribumi: Fokus di Beberapa Wilayah
Tentara pribumi jadi salah satu tulang punggung militer Hindia Belanda. Tapi, rekrutmen ini hanya dilakukan di daerah-daerah tertentu yang dinilai "loyal" ke Belanda, seperti Jawa, Minahasa, dan Ambon.
Misalnya di Minahasa, masyarakatnya dikenal pro-Belanda. Bahkan menurut Soeara Militair Minahasa tahun 1924, hubungan baik dengan pemerintah kolonial bikin pendidikan di sana berkembang pesat.
Tentara Eropa: Banyak yang Ilegal
Selain pribumi, tentara juga didatangkan langsung dari Eropa. Tapi jangan bayangin ini tentara elite. Banyak dari mereka justru mantan tentara yang kabur dari tugas alias desertir.
Mereka gabung ke militer Hindia Belanda karena nggak dikejar polisi militer Eropa di koloni. Ada juga yang disebut sebagai "tentara kubangan lumpur", alias tentara bermasalah yang dibuang ke koloni karena dianggap nggak berguna di Eropa.
Dikirim ke Daerah Rawan Pemberontakan
Tentara-tentara ini disebar ke wilayah-wilayah panas. Salah satunya Saparua, tempat terjadinya pemberontakan besar pada 1817. Rakyat marah karena Belanda kembali memberlakukan kerja paksa dan upeti.
Benteng Saparua diserbu, dan sebagian besar tentara Belanda tewas. Perlawanan ini baru bisa dipadamkan setelah para pemimpinnya ditangkap.
Perang Jawa: Krisis Tentara Eropa
Situasi makin parah saat meletus Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Taktik gerilya Diponegoro bikin Belanda kewalahan.
Dalam dua tahun, 8000 tentara Eropa dan 7000 tentara pribumi tewas. Akhirnya Belanda coba rekrut tentara dari Jerman. Tapi tetap aja, dari 3000 tentara yang dikirim ke Jawa, cuma 1000 yang selamat.
Gagasan Gila: Rekrut Tentara Afrika
Karena makin kepepet, muncul ide baru: rekrut tentara dari Afrika. Ide ini diusulkan oleh Hamilton Smith ke Pangeran Frederik pada 1827.
Dia bilang, tentara "Negro" lebih berani, setia, dan murah secara biaya. Nggak cuma pria, bahkan perempuan Afrika juga direncanakan untuk didatangkan ke Batavia, buat membentuk komunitas sendiri.
Rencana ini awalnya sempat diabaikan. Tapi karena kondisi makin memburuk, pemerintah Hindia Belanda mulai serius menjalankan perekrutan tentara Afrika, terutama dari Pantai Guinea dan Suriname.
Kenapa Tentara Afrika?
Sejarawan Ineke van Kessel menyebut bahwa ada banyak keuntungan pakai tentara Afrika. Selain tahan cuaca tropis, mereka juga lebih murah daripada tentara Eropa.
Apalagi saat animo relawan Belanda untuk ke koloni makin rendah. Jadilah tentara Afrika yang kemudian dikenal sebagai "Belanda Hitam" jadi bagian dari militer kolonial Hindia Belanda.
Sejarah tentara kolonial di Hindia Belanda bukan cuma soal militer. Tapi juga tentang bagaimana kolonialisme memanfaatkan ras, kelas, dan ketimpangan untuk menjaga kekuasaan.
Dari tentara Eropa bermasalah, pribumi yang loyal, sampai Afrika yang "dijual murah" semua jadi bagian dari mesin penjajahan yang rumit dan penuh ironi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah