INDOZONE.ID - Pada zaman Edo, Jepang menerapkan sistem feodalisme yang sangat dipengaruhi oleh ajaran Konfusianisme.
Struktur masyarakat terbagi menjadi empat kelas, yaitu samurai, petani, pengrajin, dan pedagang.
Dilansir dari jurnal berjudul "Stereotip Peran Gender di Zaman Edo yang Terpatahkan" karya Maulida Safitri, dalam sistem kelas ini, laki-laki mendominasi urusan publik, sementara perempuan terbatas pada peran domestik tanpa akses pada pendidikan atau aktivitas ekonomi.
Baca Juga: Sejarah LGBTQ yang Kini Benderanya Berkibar di Kedubes Inggris, Dulu Disebut Gender Ketiga
Namun, drama Asa ga Kita menampilkan Asa sebagai tokoh perempuan yang menentang norma gender pada masa itu.
Sejak kecil, Asa menunjukkan keberanian melampaui batasan tradisional, seperti mempelajari bisnis dan menggunakan sempoa.
Setelah menikah, ia bahkan membujuk suaminya untuk mendukungnya membuka tambang batu bara, sebuah langkah yang jarang dilakukan perempuan pada masa itu.
Baca Juga: Kisah Pemberontakan Samurai Klan Satsuma dan Saigo Takamori yang Ubah Sejarah Jepang
Keberanian Asa diuji saat menghadapi penolakan dari pekerja tambang yang menganggap perempuan tidak layak memimpin.
Dengan tekad dan kepemimpinannya, Asa membuktikan kemampuan perempuan setara dengan laki-laki.
Dukungan keluarga, terutama dari suami dan ayah mertuanya, juga menjadi kunci keberhasilannya.
Melalui karakter Asa, drama ini menginspirasi bahwa stereotip gender dapat dipatahkan dengan keberanian, dukungan, dan tekad untuk melawan batasan sosial.
Asa menjadi simbol perempuan yang mampu menciptakan perubahan, bahkan di tengah sistem patriarki yang membatasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Nasional