Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 08 NOVEMBER 2024 • 14:10 WIB

Ternyata Ada Kisah LGBTQ di Jepang Abad 19: Bentuk Loyalitas Samurai Keshogunan Tokugawa

Ternyata Ada Kisah LGBTQ di Jepang Abad 19: Bentuk Loyalitas Samurai Keshogunan TokugawaHomoseksualitas Samurai Jepang pada era Keshogunan Tokugawa

INDOZONE.ID - Isu homoseksualitas dan keberadaan kelompok LGBT-Q kini semakin sering dibahas di media sosial dan menjadi topik hangat di berbagai belahan dunia. Namun, tahukah Anda bahwa praktik homoseksualitas sudah ada sejak zaman kuno, bahkan di kalangan samurai Jepang pada era Keshogunan Tokugawa?

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai fenomena ini, mari kita selami latar belakang dan alasan di balik munculnya praktik homoseksual di kalangan para samurai yang terkenal dengan kesatriaannya.

Di era Tokugawa (1603–1868), homoseksualitas, yang dikenal dengan istilah shudo, menjadi tren di kalangan pemuda samurai. Shudo secara harfiah berarti "cinta sesama jenis" dan erat kaitannya dengan kehidupan militer. Praktik ini dipengaruhi oleh budaya Cina yang masuk ke Jepang, yang memandang wanita sebagai kelompok yang dianggap lebih rendah dan berpotensi merusak alam melalui proses menstruasi dan kelahiran.

Praktik homoseksual di kalangan samurai bukan sekadar hubungan pribadi, melainkan juga sebuah proses sosial yang berkaitan dengan kenaikan jabatan dan status. Sebelumnya, pada periode Heian (794-1185), praktik serupa juga dikenal di biara-biara Buddha Jepang, di mana para biksu melakukan hubungan homoseksual yang dianggap suci. Mereka percaya bahwa hubungan tersebut tidak akan membangkitkan keturunan dan tidak mengganggu spiritualitas, bahkan bisa meningkatkan status sosial di dalam komunitas biara.

Baca Juga: Peneliti Berhasil Temukan Fosil Homo naledi di Lorong Gua Rising Star, Afrika Selatan!

Praktik shudo yang dilakukan oleh samurai pada dasarnya dipengaruhi oleh pola didikan yang mereka terima di vihara. Banyak samurai yang mengadopsi budaya ini setelah tinggal di biara, sehingga ketika mereka bergabung dengan militer, sistem yang sama pun diterapkan. Dalam praktik ini, terdapat pembagian peran yang jelas: nenja (senior) dan wakashu (junior).

Nenja berperan sebagai pihak yang lebih berpengalaman dan mengajarkan keterampilan bela diri, etika samurai, dan tata krama militer kepada wakashu, yang bertindak sebagai pasangan bottom. Sementara itu, wakashu menunjukkan loyalitas kepada nenja dengan setia mengikuti ajarannya dan menerima penghargaan sebagai tanda penghormatan.

Hubungan shudo ini tidak bersifat permanen. Setelah kontrak antara nenja dan wakashu selesai biasanya ketika wakashu mencapai usia dewasa sang samurai bebas untuk memilih pasangan wanita untuk menikah. Meskipun demikian, hubungan homoseksual ini memiliki tujuan yang lebih mendalam daripada sekadar kepuasan pribadi. Dalam konteks militer, shudo berfungsi sebagai ikatan yang memperkuat rasa saling percaya, loyalitas, dan kedisiplinan antara junior dan senior, serta menjaga keharmonisan dalam tugas sebagai samurai.

Dengan demikian, praktik shudo bukan hanya sekadar fenomena sosial, tetapi juga memiliki nilai-nilai yang erat kaitannya dengan struktur hierarkis dalam masyarakat dan militer Jepang pada masa itu. Hal ini menunjukkan bagaimana budaya Jepang di masa lalu memandang hubungan antar individu dengan cara yang sangat berbeda dari persepsi kita saat ini.

Baca Juga: Mengenal Tsujigiri, Tradisi Samurai Jepang Bunuh Sembarang Orang Hanya untuk Menguji Pedangnya

Ternyata Ada Kisah LGBTQ di Jepang Abad 19: Bentuk Loyalitas Samurai Keshogunan TokugawaBanner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal The Construction Of Homosexuality In Tokugawa Japan.

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Ternyata Ada Kisah LGBTQ di Jepang Abad 19: Bentuk Loyalitas Samurai Keshogunan Tokugawa

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!