Jumat, 08 NOVEMBER 2024 • 20:20 WIB

Intrik Berdarah di Istana Wei: Akhir Tragis Cao Zhang dalam Perebutan Kekuasaan

Author

Salah satu kisah terkenal yaitu nasib tragis Cao Zhang, seorang pangeran kerajaan Wei, yang meninggal pada tahun 223 M.

INDOZONE.ID - Konflik merupakan bagian yang tak terhindarkan bagi kehidupan dunia. Bahkan dengan konflik ini dunia mampu berkembang menuju tempat yang lebih maju.

Konflik seringkali menyasar perebutan kekuasan yang didalamnya terdapat ambisi-ambisi tersembunyi. Tentu selalu ada pihak yang menang dan kalah.

Dalam sejarah Tiongkok salah pihak yang kalah ialah seorang tokoh yang bernama Cao Zhang. Kerajaan Wei merupakan salah satu kerajaan besar di China pada abad ke-3 M.

Banyak Kisah dan cerita yang melingkup kerajaan ini. Salah satu kisah terkenal yaitu nasib tragis Cao Zhang, seorang pangeran kerajaan Wei, yang meninggal pada tahun 223 M dalam balutan kejadian penuh intrik.

Baca Juga: Sejarah Masuknya Islam ke China dan Peran Tokoh Muslim di Dinasti Ming

Cao Zhang, ialah putra kedua dari sosok panglima besar Cao Cao, dikenal sebagai sosok yang kuat nan pemberani dan dalam lini seni militer.

Namun, kematian yang tidak disangka-sangka dan mencurigakan di tangan saudaranya, Kaisar Wen dari Wei atau Cao Pi, membuka tirai kelam konflik perebutan takhta kekuasaan dalam dinasti Wei selama periode Tiga Kerajaan.

Sejak kecil masa kecil, Cao Zhang berbeda dengan saudaranya Cao Pi. Jika Cao Pi lebih tertuju pada sisi politik juga sastra, Cao Zhang malah berkebalikan dengan Cao Pi. Dia memiliki jiwa petarung besar dan berbakat, bahkan Cao Zhang sering terjun langsung ke medan pertempuran.

Perbedaan sifat dan ketertarikan ini menyebabkan persaingan di antara mereka semakin sengit setelah kematian ayah mereka, Cao Cao di tahun 220 M.

Baca Juga: Ternyata Ada Kisah LGBTQ di Jepang Abad 19: Bentuk Loyalitas Samurai Keshogunan Tokugawa

Tahun tersebut juga menjadi awal dinasti Wei di bawah Cao Pi, yang langsung dengan cekatan mengamankan posisinya dari beragam ancaman, termasuk dari saudaranya sendiri.

Kecemasan Cao Pi semakin membara karena Cao Zhang terlihat mempunyai kekuatan militer dan dukungan yang cukup kuat di antara para panglima kerajaan. Pada tahun 223, Shishuo xinyu menuliskan kisah kejadian di istana Wei, dia menyoroti rencana Cao Pi untuk membunuh saudaranya demi mengamankan takhta.

Menurut kisah ini, Cao Pi memakai pertemuan keluarga sebagai jalan dalam melancarkan aksinya. Saat keduanya sedang bermain catur bersama di istana, Cao Pi menaburkan racun pada beberapa jujube (kurma merah) dan membuat Cao Zhang yang memakannya.

Ketika Cao Zhang mulai memperlihatkan gejala keracunan, Ibu Suri Bian, yaitu ibu mereka, berusaha mencari air untuk menyelamatkannya. Namun usaha itu sia-sia karena semua wadah air di istana dipecahkan terlebih dahulu atas perintah Cao Pi.

Cao Zhang pun akhirnya menghembuskan nafasnya di tengah keluarga, dia telah menjadi korban atas ambisi saudaranya.

Meskipun kisah Shishuo xinyu ini terkadang dianggap sebagai campuran antara fakta juga legenda, ia tetap mempertontonkan tema universal tentang pengkhianatan, kecemburuan, dan konflik di antara keluarga kerajaan.

Intrik berdarah ini sekilas ada kemiripan dengan kisah Kain dan Habel dalam Alkitab yang merupakan konflik saudara dengan berakhiran pada tragedi yang tak terhindarkan.

Baca Juga: Sejarah Kelam di Balik Gedung Manila Film Center Filipina

Melalui cerita ini terdapat pula simbolisme-simbolisme yang kuat guna menegaskan pesan dalam intrik politik di baliknya.

Permainan catur, yang dimainkan Cao Zhang dan Cao Pi, menunjukan simbol dari strategi, konflik, dan persaingan di dalam keluarga kerajaan, sebuah pertempuran tak terlihat yang dimainkan keduanya di belakang layar.

Baca Juga: Kisah Pilu Le Van, Tidur Bersama Kerangka Istri selama 20 Tahun

Entah mereka akan mempertahankan dan memperluas pengaruhnya. Sementara itu, jujube yang beracun menunjukan simbol tentang kenikmatan kekuasaan yang ternyata bisa membawa kehancuran seperti racun itu sendiri.

Kisah kematian Cao Zhang, entah sepenuhnya benar ataupun tidak, tetap saja adalah gambaran dari kehidupan politik yang penuh risiko di istana kerajaan.

Intrik dan konflik di dalam berbagai lini di dalam keluarga Cao menjadi pengingat bahwa dalam sejarah kekuasaan, ikatan keluarga mampu dirusak oleh ambisi yang membara.


Banner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Journal Of The American Oriental Society

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU