Kisah Raja Jawa Amangkurat I yang Keji: Menghina Warisan Sultan Agung dengan Membantai Ribuan Ulama
INDOZONE.ID - Di masa lalu, ada beberapa kisah kekejaman Raja Jawa yang pernah terukir dalam sejarah nusantara. Salah satunya yang paling sering diceritakan adalah Amangkurat I.
Amangkurat I sering dianggap sebagai raja yang kontroversial dalam sejarah Jawa. Meskipun upayanya untuk memperkuat kekuasaan kerajaan, kebijakan-kebijakannya yang represif dan kegagalannya dalam menangani pemberontakan internal membuat pemerintahannya penuh dengan konflik dan ketidakstabilan.
Nah, berikut ini beberapa fakta tentang sosok Raja Jawa Amangkurat I yang Indozone rangkum dari berbagai sumber, termasuk dari akun X Neo Histori ID.
Siapa Amangkurat I
Amangkurat I, yang juga dikenal sebagai Sunan Amangkurat Agung, adalah raja dari Kesultanan Mataram di Jawa yang memerintah dari tahun 1646 hingga 1677. Dia adalah putra Sultan Agung, salah satu raja terbesar Mataram yang memperluas kekuasaan kerajaan dan membuat Mataram menjadi salah satu kerajaan paling kuat di Nusantara.
Namun, Amangkurat I dikenal karena gaya kepemimpinannya yang otoriter dan sering kali brutal, yang akhirnya melemahkan kekuasaan Mataram.
Kekuasaan otoriter Amangkurat I
Amangkurat I berusaha untuk memusatkan kekuasaan di tangannya dengan mengurangi pengaruh para bangsawan dan pejabat tinggi lainnya. Dia juga menghukum mati banyak bangsawan yang dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaannya, termasuk kerabat dekatnya sendiri.
Amangkurat I menjalin hubungan dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan dagang Belanda, sebagai upaya untuk mengamankan kekuasaannya. Namun, hubungan ini justru membuat Mataram semakin tergantung pada VOC dan mengurangi kedaulatan kerajaan.
Kisah ajaran Sultan Agung
Dalam platform X dengan akun Neo Historia ID, di era Sultan Agung Hanyokrokusumo, Mataram melancarkan Islamisasi melalui pendidikan Islam secara meluas.
Baca Juga: Menelisik Masjid Saksi Penyebaran Islam di Kota Jogja, Salah Satunya Ada Masyuro Tempat Ibadah Raja
Di tiap desa, didirikan tempat pembelajaran yang meliputi membaca Al-Qur'an, pelaksanaan ibadah, dan prinsip dasar Islam seperti rukun iman dan rukun Islam.
Sultan Agung juga memperkenalkan penerjemahan teks-teks penting dari bahasa Arab melalui sistem bandongan atau halaqah, mencakup disiplin ilmu seperti Fiqih, Tafsir, Hadits, Ilmu Kalam, Tasawuf, serta Nahwu, Sharaf, dan Falaq. Bahkan, kalender disesuaikan menjadi berbasis Islam.
Amangkurat I bantai ulama
Namun, Mark Woodward dalam "Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta," mencatat bahwa inisiatif Sultan Agung tidak dilanjutkan oleh penggantinya, Amangkurat I.
Tragisnya, Amangkurat I terlibat dalam pembantaian besar-besaran terhadap ulama. Ribuan ulama dan anggota keluarga mereka dibunuh di alun-alun Plered sekitar tahun 1647 atau 1648 dalam waktu kurang dari tiga puluh menit dengan tembakan meriam yang mencabik-cabik tubuh mereka.
Sejarawan Hermanus de Graaf menulis bahwa Amangkurat memerintahkan agar tidak ada pemuka agama yang lolos dari pembantaian ini.
Alasan di balik pembantaian ulama oleh Amangkurat I
Seperti yang dikisaPembantaian ini dilakukan oleh Amangkurat I sebagai pembalasan atas upaya kudeta yang melibatkan adiknya, Raden Mas Alit, dua hari sebelumnya. Raden Mas Alit terbunuh dalam upaya kudeta tersebut dan Amangkurat I sengaja merahasiakan keterlibatannya, berpura-pura terkejut.
Baca Juga: Peristiwa 4 Februari: Kudeta di Venezuela dan Pertama Kalinya Facebook Didirikan
Ia lalu menuduh para ulama berkonspirasi, terlibat dalam pembunuhan Raden Mas Alit, yang berujung pada eksekusi tambahan terhadap delapan pembesar kerajaan dan keluarga mereka.
Selain itu, Amangkurat I menunjukkan keengganannya terhadap pengaruh Arab yang kuat dengan memilih gelar Susuhunan, alih-alih Sultan.
Kisah keji Amangkurat I bisa kawan-kawan baca di buku "Penguasa Gila Dalam Sejarah" yang juga membahas Caligula dari Romawi, Kaisar Yozei dari Jepang, Charles VI dari Prancis, Yeonsangun dari Korea, dan masih banyak lagi.
Pemberontakan Trunajaya
Pada masa pemerintahannya, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya, seorang bangsawan Madura. Pemberontakan ini didukung oleh banyak pihak yang tidak puas dengan pemerintahan Amangkurat I, termasuk beberapa bangsawan Jawa.
Pemberontakan ini hampir menggulingkan kekuasaan Amangkurat I.
Baca Juga: Dari Sang Petualang Menjadi Raja, Kisah Liu Bei dan Kejayaan Shu yang EfemeralRaja JAwa
Kematian Amangkurat I dan Warisan
Amangkurat I meninggal pada tahun 1677 dalam perjalanan melarikan diri dari istana saat pemberontakan Trunajaya mendekat.
Dia digantikan oleh putranya, Amangkurat II. Pemerintahannya dianggap sebagai periode penurunan bagi Kesultanan Mataram, karena kebijakan-kebijakannya yang keras dan hubungan yang terlalu dekat dengan VOC.
Itulah salah satu kisah 'Raja Jawa' Amangkurat I yang dianggap gila kekuasaan yang berani melakukan segala cara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: X/neohistoria_ID